6 Anime Perlawanan pada Sistem yang Menindas
Berikut 6 anime tersebut, di antaranya:
1. Code Geass
Setelah Jepang ditaklukkan oleh Kekaisaran Britannia, wilayah tersebut diubah menjadi Area 11 dan penduduknya kehilangan banyak hak. Lelouch, seorang pangeran Britannia yang menyimpan dendam, mendapatkan kekuatan Geass yang memungkinkan dirinya mengendalikan orang lain. Ia kemudian memakai kekuatan tersebut untuk memimpin pemberontakan melawan Britannia dengan identitas Zero.
2. Mobile Suit Gundam: Iron-Blooded Orphans
Sekelompok anak yatim yang bekerja sebagai tentara bayaran di Mars terjebak dalam konflik politik antara koloni dan kekuatan yang berkuasa. Setelah sebuah misi penting, mereka mendirikan organisasi sendiri dan perlahan terlibat dalam perjuangan melawan struktur kekuasaan yang mengeksploitasi mereka.
3. Psycho-Pass
Dalam masyarakat masa depan, pemerintah menggunakan sistem Sibyl untuk mengukur kondisi mental dan potensi seseorang melakukan kejahatan. Mereka yang dianggap berbahaya dapat ditangkap bahkan sebelum melakukan kejahatan. Akane Tsunemori mulai mempertanyakan apakah sistem yang mengklaim menciptakan ketertiban benar-benar adil.
4. Attack on Titan
Dunia yang awalnya tampak sederhana-manusia bertahan hidup di balik tembok dari ancaman Titan-perlahan berubah menjadi konflik politik dan perjuangan melawan kekuasaan. Eren dan kelompoknya akhirnya berhadapan dengan pemerintah, propaganda, serta rahasia besar mengenai sejarah dunia mereka.
5. One Piece
Dalam cerita One Piece, perlawanan yang dimaksud adalah perjuangan melawan penindasan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan Pemerintah Dunia (World Government) serta para penguasa korup.
Kelompok bajak laut Topi Jerami (dipimpin oleh Luffy) sering kali membebaskan pulau-pulau yang ditindas oleh raja yang jahat, marinir yang korup, atau Pemerintah Dunia. Mereka berjuang bersama dalam semangat persaudaran dan kesetaraan.
6. 86 Eighty-Six
Republik San Magnolia mengklaim bahwa mereka bertempur menggunakan drone tanpa awak. Kenyataannya, drone tersebut dikendalikan oleh kelompok yang disebut Eighty-Six, orang-orang yang diperlakukan sebagai warga kelas bawah dan dipaksa bertempur di garis depan. Di tengah perang, mereka mulai mempertanyakan sistem yang menjadikan mereka korban.
