Sejarah biasanya tersimpan di buku, arsip, atau museum. Namun di ruang pamer Trisno Soemardjo, kompleks Planetarium Taman Ismail Marzuki (TIM), kisah Pangeran Diponegoro hadir dalam bentuk karya grafis, tas, dompet, kaus, hingga berbagai produk kreatif.
Pada hari terakhir pameran 1830 Project, Minggu (9/8/2026), ruang pamer itu tak pernah benar-benar sepi. Selama sekitar dua jam, saya menghitung lebih dari 30 pengunjung datang silih berganti.
Remaja, orang dewasa, hingga pasangan yang sudah sepuh terlihat menikmati karya-karya yang dipajang. Sejumlah anak muda tampak tekun mengamati karya, membaca keterangan, dan mengabadikannya dengan kamera ponsel. Pengunjung lainnya terlihat tertarik pada produk yang dipajang dan menanyakan harganya kepada penjaga pameran.
Harga produk yang terbuat dari katun kanvas murni itu cukup beragam. Pouch dan strap atau lanyard masing-masing dibanderol hampir Rp500 ribu. Dompet dan tas berada di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp4 juta, bahkan ada yang harganya mencapai belasan juta rupiah. "Ibu (Melissa) pernah langsung membuat tas di lokasi pameran beberapa waktu lalu dan terjual lebih dari Rp 80 juta," ujar seorang staf kepada detik.com.
Di antara pengunjung yang hadir terlihat sutradara kenamaan Riri Riza. Juga Deddy Otara, kolektor artefak sejarah yang bersama Fandy Hutari menulis biografi Tan Tjeng Bok: Seniman Tiga Zaman.
Di balik karya-karya tersebut terdapat perjalanan panjang yang bermula dari ketertarikan Melissa Sunjaya terhadap sejarah dan legenda Jawa. Pada 2017, ia menemukan Babad Diponegoro ketika menelusuri situs UNESCO Memory of the World. "Suatu hari pada 2017, saya masuk ke situs UNESCO Memory of the World, dan di sana membaca Babad Diponegoro," tutur Melissa Sunjaya kepada detik.com di arena pameran.
Babad Diponegoro merupakan karya sastra otobiografis yang ditulis Pangeran Diponegoro selama masa pengasingan. Di dalamnya, Diponegoro antara lain mencatat berbagai hal untuk mendidik anak-anaknya mengenai adat-istiadat dan budaya Jawa.
Naskah tersebut terdiri atas 43 pupuh. Isinya bukan hanya tentang peperangan dan politik, tetapi juga kehidupan sehari-hari, termasuk pakaian yang pembuatannya sangat memperhatikan lingkungan dan alam.
"Dari jumlah itu, baru lima pupuh yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh George Quinn, filolog Jawa asal Australian National University," kata perempuan kelahiran 21 Juli 1974 itu.
Dari Peter Carey dan George Quinn, Melissa kemudian menemukan sosok Diponegoro dari sisi yang berbeda. Baginya, Diponegoro bukan hanya bangsawan dan pemimpin perang, tetapi juga seorang storyteller. "Dia menulis dengan humor, terkadang juga lugas-blak-blakan. Dia bercerita tentang banyak hal: sejarah, legenda, realitas perang, memori, dan lain-lain," ujar Melissa yang menempuh pendidikan di Universitas Trisakti dan Art Center College of Design, Pasadena, California, Amerika Serikat.
(Baca halaman berikutnya)
Simak Video "Mengeksplorasi Keunikan Museum 3D di Semarang"
(jat/tia)