Ketika Kisah Diponegoro Hadir di Tas, Dompet hingga Kaus

Sudrajat
|
detikPop
Melissa Sunjaya
Potret Melissa Sunjaya saat ditemui di area pameran di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat), pada Minggu (9/8/2026). Foto: Sudrajat/ detikpop
Jakarta -

Sejarah biasanya tersimpan di buku, arsip, atau museum. Namun di ruang pamer Trisno Soemardjo, kompleks Planetarium Taman Ismail Marzuki (TIM), kisah Pangeran Diponegoro hadir dalam bentuk karya grafis, tas, dompet, kaus, hingga berbagai produk kreatif.

Pada hari terakhir pameran 1830 Project, Minggu (9/8/2026), ruang pamer itu tak pernah benar-benar sepi. Selama sekitar dua jam, saya menghitung lebih dari 30 pengunjung datang silih berganti.

Remaja, orang dewasa, hingga pasangan yang sudah sepuh terlihat menikmati karya-karya yang dipajang. Sejumlah anak muda tampak tekun mengamati karya, membaca keterangan, dan mengabadikannya dengan kamera ponsel. Pengunjung lainnya terlihat tertarik pada produk yang dipajang dan menanyakan harganya kepada penjaga pameran.

Harga produk yang terbuat dari katun kanvas murni itu cukup beragam. Pouch dan strap atau lanyard masing-masing dibanderol hampir Rp500 ribu. Dompet dan tas berada di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp4 juta, bahkan ada yang harganya mencapai belasan juta rupiah. "Ibu (Melissa) pernah langsung membuat tas di lokasi pameran beberapa waktu lalu dan terjual lebih dari Rp 80 juta," ujar seorang staf kepada detik.com.

Di antara pengunjung yang hadir terlihat sutradara kenamaan Riri Riza. Juga Deddy Otara, kolektor artefak sejarah yang bersama Fandy Hutari menulis biografi Tan Tjeng Bok: Seniman Tiga Zaman.

Sutradara Riri Riza (hitam), Deddy Otara (kaos belang belang)Sutradara Riri Riza (hitam), Deddy Otara (kaos belang belang) Foto: Sudrajat/ detikpop

Di balik karya-karya tersebut terdapat perjalanan panjang yang bermula dari ketertarikan Melissa Sunjaya terhadap sejarah dan legenda Jawa. Pada 2017, ia menemukan Babad Diponegoro ketika menelusuri situs UNESCO Memory of the World. "Suatu hari pada 2017, saya masuk ke situs UNESCO Memory of the World, dan di sana membaca Babad Diponegoro," tutur Melissa Sunjaya kepada detik.com di arena pameran.

Babad Diponegoro merupakan karya sastra otobiografis yang ditulis Pangeran Diponegoro selama masa pengasingan. Di dalamnya, Diponegoro antara lain mencatat berbagai hal untuk mendidik anak-anaknya mengenai adat-istiadat dan budaya Jawa.

Naskah tersebut terdiri atas 43 pupuh. Isinya bukan hanya tentang peperangan dan politik, tetapi juga kehidupan sehari-hari, termasuk pakaian yang pembuatannya sangat memperhatikan lingkungan dan alam.

"Dari jumlah itu, baru lima pupuh yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh George Quinn, filolog Jawa asal Australian National University," kata perempuan kelahiran 21 Juli 1974 itu.

Dari Peter Carey dan George Quinn, Melissa kemudian menemukan sosok Diponegoro dari sisi yang berbeda. Baginya, Diponegoro bukan hanya bangsawan dan pemimpin perang, tetapi juga seorang storyteller. "Dia menulis dengan humor, terkadang juga lugas-blak-blakan. Dia bercerita tentang banyak hal: sejarah, legenda, realitas perang, memori, dan lain-lain," ujar Melissa yang menempuh pendidikan di Universitas Trisakti dan Art Center College of Design, Pasadena, California, Amerika Serikat.

(Baca halaman berikutnya)


Cara Diponegoro bertutur itulah yang kemudian memantik gagasan Melissa. Ia ingin membawa cerita tersebut keluar dari teks dan menjadikannya bahasa visual yang dapat dipahami oleh khalayak lebih luas. "Dari situ saya terpikir bagaimana semua itu divisualkan dan bisa diakses oleh pembaca global," kata Melissa.

Gagasan itu kemudian menemukan bentuk melalui kolaborasinya dengan Peter Carey, sejarawan dan Guru Besar di Universitas Oxford, Inggris. Arsip dan kajian sejarah tentang Diponegoro menjadi pijakan, sementara Melissa menerjemahkannya ke dalam karya grafis.
Namun, karya-karya itu tidak berhenti di dinding ruang pamer. Visual yang lahir dari riset sejarah tersebut diterapkan pada berbagai produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah 1830 Project menjadi lebih dari sekadar pameran seni. Pengunjung tidak hanya diajak melihat representasi Diponegoro, tetapi juga berhadapan dengan sejarah dalam bentuk benda yang bisa mereka sentuh, pakai, dan bawa pulang.

Pengunjung memilih produk karya grafis Melissa yang akan mereka beliPengunjung memilih produk karya grafis Melissa yang akan mereka beli Foto: Sudrajat/ detikpop

Deddy Otara melihat pendekatan tersebut sebagai kekuatan utama kolaborasi Melissa dan Peter Carey. Ketika arsip diterjemahkan ke dalam media yang punya fungsi dalam keseharian kita, kata dia, artinya catatan sejarah itu menjadi tidak sekadar makna yang diam, tapi terus bergerak dan menyatu dengan kegiatan harian kita. "Itulah keistimewaan dari karya kolaborasi Melissa Sunjaya dan Peter Carey," ujarnya.

Pameran 1830 Project berlangsung sejak 5 Agustus dan berakhir pada Minggu (9/8/2026). Namun, proyek ini memiliki tujuan yang lebih panjang daripada sekadar memamerkan karya.
Sebagian hasil penjualan karya dan produk digunakan untuk mendukung upaya pelestarian budaya serta riset yang berkaitan dengan sejarah Diponegoro, termasuk penggalangan dana untuk penulisan Babad Diponegoro.

Dengan demikian, tas, dompet atau kaus yang dibawa pulang pengunjung bukan sekadar produk desain. Di balik gambar yang melekat di atasnya terdapat fragmen kisah Diponegoro, Perang Jawa, kolonialisme, serta perjalanan panjang sejarah Indonesia.
Barangkali, di situlah cara baru sebuah arsip bekerja: bukan hanya disimpan untuk dibaca pada suatu waktu, tetapi dihadirkan kembali dalam kehidupan sehari-hari-agar cerita dari masa lalu tetap menemukan pembacanya di masa kini.

Halaman 2 dari 2
(jat/tia)


Simak Video "Belajar Tari Tortor di Desa Simamindo dan Menikmati Keindahan Budaya di Samosir "
[Gambas:Video 20detik]

TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO