Round Up

Daftar Buku Terlarang di Perpustakaan Manifesto Dua Lipa

Atmi Ahsani Yusron
|
detikPop
Aksi Dua Lipa Dirikan Perpustakaan Buat 100 Buku Terlarang
(Foto: Dok.Istimewa) Aksi Dua Lipa Dirikan Perpustakaan Buat 100 Buku Terlarang
Jakarta - Penyanyi Dua Lipa mendirikan sebuah perpustakaan bernama Manifesto di Porto, Portugal. Proyek ini merupakan kolaborasi bersama klub buku Service95, mengkurasi 100 karya yang dilarang beredar di dunia.

100 buku ini dicap 'kontroversial' oleh sebagian orang. Tapi buat Dua Lipa, 100 karya ini adalah buku-buku suci. Para penulisnya merupakan orang-orang yang berani membongkar kekuasaan dan kendali.

Bicara soal kekuasaan dan kendali, perpustakaan Manifesto membagi koleksi buku terlarangnya ke dalam 4 kategori: Kekuasaan (Power), Kendali (Kontrol), Suara (Voice), dan Ingatan (Memory).

Masing-masing dikurasi dengan cermat dan merepresentasikan tema kategori mereka.

Koleksi lengkap perpustakaan Manifesto gak dibeberkan ke publik. Tapi ada beberapa judul yang sudah diungkap. Berikut rangkuman judul dan alasan kontroversi atau tema utamanya:

1. Power

  • The Second Sex karya Simone de Beauvoir: Teks feminis yang menantang peran gender tradisional; pernah masuk daftar buku terlarang Vatikan.
  • Felon karya Reginald Dwayne Betts: Menggali realitas kelam, rasisme, dan dampak traumatis dari sistem peradilan pidana di Amerika Serikat.
  • Free: Coming of Age at the End of History karya Lea Ypi: Memoar yang menyoroti pergeseran kekuasaan dan ilusi kebebasan saat transisi rezim di Albania.
  • One Day karya Omar El Akkad: Eksplorasi tentang konsekuensi konflik global, kekuasaan, dan krisis kemanusiaan.
  • Everyone Will Have Always Been Against This (Esai Beragam Penulis): Refleksi kritis terhadap struktur kekuasaan absolut dan bagaimana oposisi sering kali dibungkam atau dimanipulasi.
  • 1984 (Nineteen Eighty-Four) karya George Orwell: Distopia tentang pengawasan massal pemerintah (Big Brother) dan manipulasi kebenaran mutlak.

2. Control

  • The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood: Kerap disensor karena menggambarkan penindasan brutal terhadap otonomi tubuh perempuan oleh rezim teokratis.
  • The Trial karya Franz Kafka: Mengkritik sistem birokrasi dan peradilan yang absurd, buram, dan menghancurkan kebebasan individu.
  • The Memory Police karya Yoko Ogawa: Metafora tentang negara otoriter yang mengendalikan warganya dengan cara menghapus ingatan kolektif.
  • Ai Weiwei tentang Sensor karya Ai Weiwei: Kritik terang-terangan terhadap mekanisme penyensoran negara dan perjuangan seniman dalam mempertahankan kebebasan berekspresi.

3. Voice

  • The Color Purple karya Alice Walker: Sering ditantang di sekolah-sekolah karena penggambaran eksplisit mengenai kekerasan seksual dan rasisme di Amerika.
  • The Satanic Verses karya Salman Rushdie: Dilarang di banyak negara dan memicu fatwa mati karena dianggap menistakan agama Islam.
  • On Earth We're Briefly Gorgeous karya Ocean Vuong: Mengangkat suara marjinal melalui eksplorasi identitas queer, trauma generasi, dan pengalaman imigran.
  • My Pen Is The Wing Of A Bird (Kumpulan Fiksi Perempuan Afghanistan): Memberi ruang bagi suara perempuan yang dibungkam dan ditindas di bawah rezim ekstremis di Afghanistan.

4. Memory

  • Pachinko karya Min Jin Lee: Mengungkap sejarah panjang diskriminasi sistemik terhadap generasi imigran Korea (Zainichi) di Jepang.
  • Patriot karya Alexei Navalny: Memoar pembangkang politik yang melawan narasi resmi dan mengungkap korupsi rezim otoriter Rusia.
  • The Unbearable Lightness Of Being karya Milan Kundera: Dilarang di Cekoslowakia (kini Ceko) karena kritik tajamnya terhadap invasi dan rezim komunis Soviet.
  • The Books Of Jacob karya Olga Tokarczuk: Menantang narasi sejarah resmi dengan mengangkat kisah sekte agama kontroversial di Eropa Timur yang sering diabaikan.

5. Buku Lainnya

  • To Kill A Mockingbird karya Harper Lee: Kerap dilarang atau dibatasi di sekolah karena penggunaan bahasa kasar dan konfrontasi rasial yang memicu ketidaknyamanan.
  • The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger: Menjadi target penyensoran historis karena bahasa yang dianggap vulgar dan sikap pemberontakan remaja yang ekstrem.

(aay/mau)




TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO