Scarlett Johansson dan 700 Sineas Serukan Anti-AI
Dilansir dari Variety (22/1) mereka secara resmi meluncurkan kampanye global berskala besar untuk mendesak perlindungan hukum yang lebih ketat terhadap penyalahgunaan kecerdasan buatan di industri kreatif.
Kampanye ini bertujuan untuk mencegah penggunaan gambar, suara, dan identitas aktor tanpa izin melalui teknologi deepfake dan generatif AI yang semakin tak terkendali.
Gerakan yang didukung oleh jajaran aktor papan atas ini menuntut adanya regulasi internasional yang menjamin bahwa identitas seorang artis adalah milik pribadi yang tidak boleh dikloning secara digital tanpa kontrak yang jelas dan kompensasi yang adil.
Scarlett Johansson, yang sebelumnya sempat terlibat sengketa dengan OpenAI terkait penggunaan suara yang sangat mirip dengannya, menjadi garda terdepan dalam aksi ini.
Ia menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar soal bisnis, melainkan soal hak asasi manusia untuk mengontrol diri mereka sendiri di ruang digital.
Poin-Poin Penting dalam Kampanye:
Perlindungan Lintas Negara: Mendesak pemerintah di berbagai negara untuk menyinkronkan hukum mengenai hak citra digital agar aktor tidak bisa "dicuri" identitasnya oleh perusahaan di negara dengan regulasi lemah.
Transparansi Perusahaan Teknologi: Menuntut perusahaan AI untuk terbuka mengenai data apa saja yang mereka gunakan untuk melatih model AI mereka, terutama jika menyangkut materi yang dilindungi hak cipta.
Labeling Konten AI: Mewajibkan setiap konten yang dibuat menggunakan AI untuk diberikan label yang jelas agar penonton tidak tertipu oleh deepfake.
Cate Blanchett menambahkan bahwa ancaman AI tidak hanya berdampak pada aktor besar, tetapi juga sangat merugikan aktor pendatang baru dan pengisi suara yang pekerjaannya bisa dengan mudah digantikan oleh mesin tanpa perlindungan hukum yang memadai.
"Kita tidak sedang melawan teknologi, kita sedang melawan eksploitasi yang tidak beretika," tegas Blanchett dalam pernyataan resminya.
Kampanye ini muncul di tengah ketegangan yang masih berlanjut antara serikat pekerja Hollywood dan studio-studio besar mengenai penggunaan AI dalam produksi film.
Dengan bergabungnya nama-nama besar seperti Johansson dan Blanchett, tekanan terhadap pembuat kebijakan di Washington D.C. dan Uni Eropa diperkirakan akan semakin meningkat.
Gerakan ini juga didukung oleh organisasi internasional yang fokus pada hak kekayaan intelektual, menandakan bahwa isu ini telah menjadi perhatian global, bukan sekadar masalah internal Hollywood.
(ass/pus)











































