Read Indonesia Jadi Gerbang Promosi Sastra ke Panggung Dunia
Inisiatif strategis oleh Direktorat Promosi Kebudayaan dan Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan jadi langkah bagi sistem promosi sastra nasional. Di dalamnya, ada karya sastra Indonesia, profil penulis maupun sastrawan, festival sastra hingga capaian dan penghargaan sebagai rujukan publik.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengatakan Read Indonesia adalah platform fiksi maupun nonfiksi, yang diharapkan karya sastra lebih terlihat ke dunia internasional.
"Karya sastra ini merupakan ekspresi budaya dan pastinya gak lepas dari budaya kita serta kehidupan sehari-hari," ungkap Fadli Zon saat peluncuran pada Selasa (23/12/12).
Read Indonesia bakal bersinergi dengan ekosistem sastra lainnya di antaranya workshop penulisan, penerjemahan, sampai festival buku dalam negeri dan internasional.
"Kita harus ada karya-karya yang bisa diakses terutama dibaca oleh publik internasional, berbahasa Inggris, Arab, dan bahasa lainnya. Penerjemahan juga sangat penting," ungkapnya.
Tahun ini, Kementerian Kebudayaan sudah menerjemahkan 8 karya klasik yang monumental ke dalam bahasa asing. Menurut Fadli Zon, karya sastra klasik harus dimunculkan dan dipopulerkan lagi.
"Kecendrungan mengadaptasi dari karya sastra misalnya Mochtar Lubis Dari Jalan Tak Ada Ujung, satu cara untuk mengenalkan. Ada juga karya pujangga baru, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, mencoba mengenalkan, kalau gak salah 8 karya klasik dari era dulu, dari karya monumental (diterjemahkan)," sambung Fadli Zon.
Sejak awal 2025, pemerintah membentuk Tim Promosi Sastra buat merancang langkah-langkah promosi sastra Indonesia dari hulu ke hilir. Termasuk fasilitasi para penulis dan penerbit Tanah Air ke berbagai forum sastra dan perbukuan internasional.
"Tahun depan, Indonesia akan jadi Guest of Honour Abu Dhabi International Book Fair 2026 dan tentunya program ini membutuhkan keterlibatan aktif para sastrawan, penulis, penerbit, dan mitra strategis," tukas Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D Retnoastuti.
(tia/tia)











































