detikKalimantan mendapat kesempatan langka untuk menjajal langsung sensasi patroli hutan bersama tim SPTN Wilayah 2 Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Destinasi patroli kali ini menyasar kawasan yang kaya akan nilai sejarah dan keanekaragaman hayati yakni Site Lalut Birai di Resort Sungai Bahau, Malinau, Kalimantan Utara.
Petualangan dimulai dari dermaga Long Alango. Untuk mencapai kawasan Lalut Birai, perahu ketinting menjadi satu-satunya moda transportasi andalan. Sensasi memacu adrenalin langsung terasa saat mesin perahu meraung membelah deru arus Sungai Bahau yang cukup deras. Perjalanan air ini memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit.
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda TNKM, Jefry Frihardian Gumilar, menjelaskan, Lalut Birai bukan sekedar belantara, melainkan berada di atas
tanah adat Tanah Ulen yang dijaga ketat masyarakat lokal, sekaligus pernah difungsikan sebagai Stasiun Penelitian Hutan Tropis (SPHT) oleh WWF.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalut Birai ini punya histori kuat, pertama sebagai stasiun penelitian hutan tropis dan kedua sebagai Tanah Ulen. Dua keunikan itulah yang menjadi dasar kita menentukan lokasi tersebut sebagai site kegiatan, baik patroli maupun pengamatan. Kita sedang mencoba menghidupkan kembali Lalut Birai ini sebagai pusat konservasi hutan tropis di Kalimantan, terutama di TNKM," terang Jefry kepada detikKalimantan. Sabtu (15/8/2026).
Sepanjang menyusuri sungai, mata dimanjakan oleh vegetasi hutan hujan tropis yang menjulang rimbun di kiri dan kanan tebing sungai, menyajikan benteng hijau alami Borneo yang autentik. Setibanya di tambatan perahu Lalut Birai, keraguan akan medan yang ekstrem seketika sirna.
Meski berada di tengah hutan rimba pedalaman, jalur setapak yang membimbing perjalanan tidaklah curam. Treknya terawat bersih dan rapi, memudahkan pergerakan tim patroli maupun pengunjung tanpa halangan berarti.
Serunya patroli hutan bersama Tim SPTN Wilayah 2 Resort Sungai Bahau di kawasan hutan Lalut Birai. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan |
Suasana hutan Lalut Birai terasa sangat segar, tenang, dan sejuk. Begitu menjejakkan kaki lebih dalam ke bawah kanopi pepohonan raksasa, telinga langsung dimanjakan oleh simfoni kicauan burung-burung eksotis yang jarang terdengar di perkotaan.
Udara bersih tanpa polusi seketika menyegarkan pikiran dan melepaskan seluruh rasa lelah. Patroli di Lalut Birai menerapkan sistem SMART Patrol (Spatial Monitoring and Reporting Tool).
Selama penelusuran, tim patroli sesekali berhenti untuk memeriksa kondisi pepohonan dan mengamati tanda-tanda keberadaan satwa liar. Salah satu temuan menarik di lintasan patroli adalah goresan bekas cakar kuku Beruang Madu (Helarctos malayanus) yang disinyalir kerap lalu-lalang mencari pakan di area ini.
"Patroli kita di sini sifatnya eksploratif. Selain pengawasan kawasan, kita juga merekam flora-fauna, fitur alami, hingga gejala alam berbasis spasial untuk pemetaan ekologi," ujar Jefry.
Puas menyusuri jalur hutan, tim patroli mengajak singgah sebentar ke area aliran sungai jernih tak jauh dari pondok bekas pusat penelitian Hutan Tropis (SPHT) WWF. Air sungai di sini mengalir deras dan terasa sangat dingin menyegarkan menjadi tempat istirahat sempurna setelah menyusuri lintasan hutan.

