Danau Gatal di Katingan: Namanya Unik, Panoramanya Cantik

Danau Gatal di Katingan: Namanya Unik, Panoramanya Cantik

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 04 Agu 2026 18:30 WIB
Danau Gatal Kotawaringin Barat Kalteng.
Danau Gatal/Foto: dok Jadesta
Katingan -

Nama Danau Gatal mungkin terdengar unik di telinga wisatawan. Tetapi di balik namanya, destinasi wisata ini punya pesona alam danau air tawar yang masih alami di tengah hutan hijau Kalimantan.

Berlokasi di Kabupaten Katingan, Danau Gatal telah dikembangkan melalui program Desa Wisata Danau Gatal. Potensi wisatanya adalah wisata alam, budaya lokal, dan berbagai aktivitas yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Selain menikmati danau, pengunjung juga bisa melihat kehidupan masyarakat sekitar yang masih bergantung pada hasil perikanan dan sumber daya alam di Danau Gatal. Lokasinya memang relatif jauh dari pusat kota, berada di Desa Danau Gatal, Kecamatan Tasik Payawan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Desa ini berjarak sekitar 45-50 kilometer dari Kasongan, ibu kota Kabupaten Katingan. Jalan menuju danau sudah beraspal, sehingga jika menggunakan mobil, waktu tempuh untuk mencapai tempat wisata ini sekitar satu jam.

Memancing Ikan Air Tawar di Danau Gatal

Daya tarik utama Danau Gatal adalah memancing ikan air tawar. Danau ini terhubung ke aliran sungai dan menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar khas Kalimantan. Para pengunjung bisa memancing langsung dari tepi danau atau menyewa perahu maupun klotok punya warga. Memancing juga menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat di sekitar danau.

Beberapa jenis ikan yang bisa ditemukan di Danau Gatal di antaranya ikan seluang, toman, haruan (gabus), baung, katulai, dan beberapa jenis ikan air tawar lainnya. Laporan mengenai potensi sumber daya perikanan di Kabupaten Katingan juga mencatat keberadaan berbagai spesies lokal seperti papuyu, biawan, sepat, kapar, karandang, dan miau, yang menjadi sumber pangan sekaligus punya nilai ekonomis bagi masyarakat setempat.

Waktu terbaik untuk memancing umumnya adalah di pagi atau sore hari saat cuaca lebih sejuk dan ikan-ikan sedang aktif. Selain membawa perlengkapan pancing sendiri, detikers yang berkunjung juga harus menjaga kelestarian danau dengan tidak membuang sampah maupun menggunakan alat tangkap yang merusak ekosistem danau.

Jembatan Kayu dan Gazebo untuk Menikmati Danau

Setibanya di Danau Gatal, detikers akan langsung disambut oleh jembatan kayu yang membentang dari tepian danau menuju area dermaga. Dari atas jembatan, wisatawan bisa menikmati suasana danau yang tenang ditemani aktivitas warga sekitar yang sedang memancing atau menyusuri danau menggunakan perahu.

Di beberapa titik jembatan juga tersedia gazebo untuk bersantai sambil menikmati pemandangan. Gazebo ini dimanfaatkan untuk beristirahat, menikmati bekal yang dibawa, atau sekadar bercengkerama ditemani semilir angin danau.

Selain dimanfaatkan untuk bersantai, jembatan kayu juga merupakan penghubung dermaga keberangkatan menuju sejumlah objek menarik di sekitar Danau Gatal. Dari sini detikers bisa menyewa perahu untuk berkeliling danau, menyusuri Sungai Lamandau, mengunjungi Makam Keramat, atau menyeberang ke Homestay Pulau Raja.

Wisata Lain di Sekitar Danau Gatal

Danau Gatal Kotawaringin Barat Kalteng.Danau Gatal di Katingan: Namanya Unik, Panoramanya Cantik Foto: dok Jadesta

Berwisata ke Danau Gatal akan semakin lengkap karena kawasan Kecamatan Kotawaringin Lama juga memiliki sejumlah destinasi yang lokasinya saling berdekatan. Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat menjadikan kawasan ini sebagai salah satu pusat pengembangan wisata sejarah, religi, budaya, dan alam di Kalimantan Tengah.

Salah satu destinasi yang paling terkenal adalah Makam dan Masjid Kyai Gede, yang merupakan kompleks cagar budaya peninggalan Kesultanan Kotawaringin. Di sana terbaring makam Kyai Gede atau Habib Abdul Qadir Assegaf, seorang ulama asal Demak yang datang ke Kotawaringin sekitar tahun 1595 untuk menyebarkan agama Islam.

Kyai Gede juga pernah menjabat sebagai Mangkubumi atau Perdana Menteri pada masa awal Kesultanan Kutaringin. Selain itu, kompleks ini juga menjadi tempat peristirahatan sejumlah keturunan dan tokoh lain yang mengabdi pada Kesultanan Kotawaringin.

Tidak jauh dari kompleks pemakaman, berdiri Istana Al Nursari, replika istana Kesultanan Kotawaringin yang dibangun untuk memperkenalkan sejarah kerajaan sekaligus menjadi pusat edukasi budaya. Selain Danau Gatal, tidak jauh dari sana juga ada Danau Masorayan. Keduanya menjadi objek wisata yang sedang dikembangkan bersama dengan Makam Kyai Gede, Masjid Kyai Gede, dan Istana Al Nursari.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads