Luasnya Huma Betang, Rumah Adat yang Bisa Memuat Lebih dari 100 Orang

Luasnya Huma Betang, Rumah Adat yang Bisa Memuat Lebih dari 100 Orang

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Minggu, 02 Agu 2026 07:00 WIB
Huma betang atau rumah betang. (Laman Pemprov Kalteng)
Foto: Huma betang atau rumah betang. (Laman Pemprov Kalteng)
Balikpapan -

Huma Betang menjadi rumah adat kebangaan masyarakat Dayak. Bangunan tradisional ini memiliki ukuran yang sangat besar, bahkan mampu menampung puluhan hingga lebih dari seratus penghuni dalam satu atap.

Dengan bentuk memanjang dan ruang yang luas, rumah adat khas Kalimantan ini mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, serta toleransi yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Dayak.

Berikut penjelasan tentang huma betang, dirangkum dari arsip liputan detikcom dan berbagai laman resmi pemerintah daerah setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Huma Betang

Rumah Betang Balai Budaya Eka Tingang di Kota PalangkarayaRumah Betang Balai Budaya Eka Tingang di Kota Palangkaraya Foto: (Merza Gamal/d'Traveler)

Huma betang atau rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat permukiman suku Dayak.

Huma artinya rumah dalam bahasa Dayak Ngaju, sementara betang memiliki arti mengedepankan musyawarah dan mufakat. Huma Betang jadi ikon untuk dua provinsi yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Rumah panjang suku Dayak ini jadi tempat tinggal yang dihuni oleh beberapa keluarga. Rumah Betang menjadi rumah bagi sejumlah Suku Dayak yang masih tinggal secara tradisional di bantaran hulu sungai.

Dilansir dari Buku Mengenal Rumah Tradisional Kalimantan karya Mahmud Jauhari Ali yang diterbitkan oleh Badan Bahasa Kemendikdasmen, Huma Betang punya panjang bangunan sekitar 30-200 meter dan lebar 8-30 meter.

Panjang rumah betang rata-rata 200 meter dan lebar 8 meter dengan luas bilik rata-rata 33 meter, menjadikannya rumah adat terpanjang di Indonesia. Tinggi tiang huma betang 5-8 meter membuatnya menyerupai rumah panggung. Fungsinya untuk menghindari banjir dan serangan binatang buas.

Kekuatan huma betang tak perlu diragukan, sebab bahan bangunannya kayu ulin yang dikenal kokoh dan kuat. Ada juga huma betang yang terbuat dari kayu belian yang diikat-ikat dengan rotan dan beberapa dipaku.

Materialnya membuat rumah ini kokoh, anti rayap, sejuk saat cuaca menyengat, dan hangat saat hujan menderu kencang. Disebut bahan kayu ulin atau kayu belian bakal semakin kuat jika terkena air.

Rumah ini sudah jadi warisan budaya Indonesia. Rumah Betang punya makna kekeluargaan, gotong royong, persatuan dan kesatuan.

Komponen Huma Betang

Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Bengkayang memiliki rumah betang atau Ramin Bantang. Begini potret rumah adat khas Kalimantan tersebut.Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Bengkayang memiliki rumah betang atau Ramin Bantang. Begini potret rumah adat khas Kalimantan tersebut. Foto: Rifkianto Nugroho

Dilansir dari Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun oleh Dewa Ayu Made Manik Galih, dkk, Huma Betang tidak sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah kearifan lokal yang kaya akan nilai historis, sakral, dan sosial.

Bentuk panjang ini mengikuti pola permukiman masyarakat Dayak yang hidup berkelompok dan menetap di sepanjang aliran sungai. Rumah Betang tidak memiliki ukuran baku, melainkan menyesuaikan dengan jumlah penghuni.

Singkatnya, berikut bagian-bagian dari Rumah Betang beserta fungsinya:

Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Bengkayang memiliki rumah betang atau Ramin Bantang. Begini potret rumah adat khas Kalimantan tersebut.Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Bengkayang memiliki rumah betang atau Ramin Bantang. Begini potret rumah adat khas Kalimantan tersebut. Foto: Rifkianto Nugroho

1. Sado, ini adalah bagian rumah tempat lalu lalang penghuni, juga tempat musyawarah, tempat menganyam dan lainnya.

2. Padong, ruang keluarga yang biasanya dari masing-masing keluarga memiliki satu padong. Biasanya digunakan untuk berkumpul, makan, minum, dan menerima tamu.

3. Bilik untuk tempat tidur.

4. Dapur, biasanya dibagian belakang dan hanya satu di dalam rumah. Dapur ini untuk memasak satu rumah lho.

5. Bagian tengah biasa dihuni oleh ketua adat.

Huma Betang Bisa Dihuni Ratusan Orang

Huma betang atau rumah betang. (Laman Pemprov Kalteng)Huma betang atau rumah betang. (Laman Pemprov Kalteng)

Rumah ini begitu luas, punya banyak dapur, bahkan dihuni ratusan orang yang terdiri dari beberapa puluh rumah tangga. Saking luasnya, di dalam rumah juga kerap dijumpai penghuninya membuka warung yang menjual aneka jajanan dan kebutuhan pokok.

Satu Rumah Betang selalu dihuni oleh satu keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga kecil (bisa mencapai 10 keluarga). Satu keluarga besar dipimpin oleh seseorang yang dikenal sebagai Pembakas Lewu.

Ada tiga komponen utama yang dimiliki Rumah Betang. Antara lain ruang depan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat, Karung atau bilik keluarga yang menjadi tempat tidur, serta likid atau ruang dapur.

Rumah Betang di Kalimantan TengahRumah Betang di Kalimantan Tengah Foto: d'Traveler

Di tengah rumah, ada ruangan besar yang biasa digunakan untuk pertemuan keluarga serta upacara dan ritual, sekaligus tempat para gadis Dayak memahat kayu sebagai kerajinan khas mereka.

Di sisi luar rumah, sebelum teras luar, ada teras dalam yang panjangnya sama dengan rumah tersebut. Di sanalah para pengisi rumah melakukan kegiatannya. Para wanita menyulam kain, memilah padi, saling menyisir rambut. Sedangkan para pria duduk minum kopi sambil mendengarkan radio atau menonton TV.

Di teras yang lebarnya 5 meter, cukup banyak hal yang bisa dilakukan dan juga cukup banyak benda yang bisa ditaruh di sana. Teras ini tak hanya untuk duduk, tapi juga untuk menjemur. Dari mulai padi, asam, sampai pakaian direntangkan di sini agar cepat kering.

Filosofi dalam Tiap Huma Betang

Rumah Betang Jaga Napas Budaya Dayak di Kotawaringin BaratRumah Betang Jaga Napas Budaya Dayak di Kotawaringin Barat Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan

Dalam beberapa Suku Dayak, pembangunan Rumah Betang pun dilakukan dengan tata cara dan persyaratan tertentu. Mulai dari lokasi rumah yang harus berada di hulu sampai arahnya yang harus sejajar dengan matahari terbit, tidak sembarangan.

Pada umumnya, hulu Rumah Betang dibangun menghadap ke arah timur dan hilirnya menghadap ke barat. Tujuannya, rumah menghadap ke timur atau Matahari terbit mengandung aitu kerja keras yaitu bekerja sedini mungkin.

Sedangkan menghadap arah Matahari terbenam atau barat mengandung arti akan pulang sebelum matahari terbenam. Begitulah bentuk disiplinnya orang Suku Dayak.

Di bagian depan rumah, terdapat patung Sapundu. Adalah patung kayu khas Dayak Ngaju yang digunakan dalam upacara adat Tiwah untuk mengikat hewan kurban.

Tiap huma betang juga punya ciri khas dan aturan masing-masing, sebab penghuninya pun beragam. Suku Dayak pun punya ragam sub sukunya, belum lagi tak semua penghuninya punya agama yang sama.

Keluarga yang hidup dalam rumah betang diketahui posisinya diatur menurut aliran air. Warga yang beragama Muslim tinggal pada tempat hulu air mengalir.

Penempatan pintu masuk rumah Betang juga diatur secara adat. Pintu harus berada di tengah bangunan, di sisi panjang rumah, dan menghadap ke sungai. Pola ini menciptakan keseimbangan visual sekaligus mencerminkan filosofi keteraturan dan keharmonisan hidup.

Beberapa huma betang hanya menggunakan satu tangga kayu untuk akses penghuni masuk rumah. Diketahui ada filosofi dari anak tangga ini, yakni menunjukkan kebersamaan dan persatuan penghuni rumah.

Tangga rumah biasanya hanya berbentuk satu gelondongan kayu besar. Jumlah anak tangganya juga kebanyakan selalu ganjil. Konon dipercaya membawa rezeki dan melindungi penghuni dari bahaya.

Kapasitas hunian yang besar mencerminkan sistem kehidupan kolektif masyarakat Dayak Ngaju. Setiap penghuni, hidup berdampingan dalam satu atap, berbagi ruang, dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan prinsip kebersamaan. Konflik diselesaikan melalui musyawarah, sementara keputusan penting diambil secara mufakat.

Nilai-nilai tersebut menjadikan Huma Betang simbol kerukunan, persatuan, dan kesetaraan. Konsep hidup bersama yang tertanam dalam arsitektur rumah Betang tetap relevan sebagai warisan budaya yang mengajarkan toleransi dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Halaman 2 dari 3
(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads