Unik dan Pentingnya Sungai Sekonyer, Pintu Masuk TN Tanjung Puting

Unik dan Pentingnya Sungai Sekonyer, Pintu Masuk TN Tanjung Puting

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Jumat, 03 Jul 2026 19:30 WIB
Menyusuri sungai Sekonyer,Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Rabu (14/1/2015). Di kanan-kiri sungai yang berkelok-kelok ini tampak bekantan dan monyet ekor panjang berlompatan di atas pohon. Laju perahu kelotok yang lamban seakan tak menggoyahkan ketenangan sungai dan menciptakan cermin bagi pepohonan hutan hujan tropis dan dedaunan nipah sepanjang sungai.
Menyusuri Sungai Sekonyer Kalimantan/Foto: Agung Pambudhy
Kotawaringin Barat -

Berkunjung ke Kalimantan Tengah rasanya belum lengkap jika tidak menyusuri Sungai Sekonyer. Sungai yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat ini merupakan pintu masuk menuju kawasan Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, salah satu pusat konservasi orang utan terbesar di dunia.

Berbeda dengan sungai-sungai besar di Kalimantan yang menjadi jalur perdagangan dan lalu lintas perkapalan, Sungai Sekonyer merupakan destinasi ekowisata yang akan detikers arungi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Sungai ini merupakan anak Sungai Kumai yang bermuara ke Laut Jawa. Untuk mencapainya, wisatawan bisa memilih mendarat di bandara terdekat di Pangkalan Bun, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Pelabuhan Kumai. Dari pelabuhan inilah perjalanan dimulai menggunakan klotok menyusuri Sungai Kumai sebelum memasuki Sungai Sekonyer yang membelah kawasan taman nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pintu Masuk Menuju Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi sejak tahun 1982. Kawasan lebih dari 412 ribu hektare itu menjadi habitat alami ribuan orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus), sekaligus rumah bagi ratusan spesies satwa lainnya.

Hampir seluruh aktivitas wisata, penelitian, maupun konservasi di Tanjung Puting dilakukan melalui Sungai Sekonyer karena sebagian besar kawasan taman nasional tidak memiliki akses jalan darat. Di sepanjang sungai ada sejumlah lokasi penting, seperti Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan yang paling terkenal adalah Camp Leakey, pusat penelitian orang utan yang didirikan pada 1971 oleh Birute Galdikas.

Di Camp Leakey itu detikers bisa menyaksikan orang utan datang ke lokasi pemberian pakan sekaligus mempelajari berbagai upaya konservasi yang telah dilakukan di sana selama puluhan tahun. Selain orang utan, detikers juga akan menemukan Bekantan, monyet ekor panjang, lutung, biawak air, buaya muara, ular sanca, hingga burung enggang jika beruntung.

Menyusuri sungai Sekonyer,Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Rabu (14/1/2015). Di kanan-kiri sungai yang berkelok-kelok ini tampak bekantan dan monyet ekor panjang berlompatan di atas pohon. Laju perahu kelotok yang lamban seakan tak menggoyahkan ketenangan sungai dan menciptakan cermin bagi pepohonan hutan hujan tropis dan dedaunan nipah sepanjang sungai.Menyusuri sungai Sekonyer,Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Rabu (14/1/2015). Di kanan-kiri sungai yang berkelok-kelok ini tampak bekantan dan monyet ekor panjang berlompatan di atas pohon. Laju perahu kelotok yang lamban seakan tak menggoyahkan ketenangan sungai dan menciptakan cermin bagi pepohonan hutan hujan tropis dan dedaunan nipah sepanjang sungai. Foto: Agung Pambudhy

Menyusuri Sungai dengan Kapal Klotok dan Keunikan Airnya

Daya tarik utama Sungai Sekonyer adalah wisata susur sungai menggunakan klotok, yaitu perahu kayu tradisional khas Kalimantan yang telah dimodifikasi menjadi kapal wisata. Kapal ini dimodifikasi sehingga memiliki fasilitas yang cukup lengkap, seperti kamar tidur, ruang makan, dapur, dan dek terbuka yang digunakan untuk menikmati pemandangan hutan sepanjang perjalanan selama dua sampai tiga hari.

Banyak wisatawan juga penasaran kenapa warna air Sungai Sekonyer cokelat kehitaman seperti teh. Tidak perlu khawatir karena warna tersebut bukan disebabkan pencemaran, melainkan berasal dari kandungan tanin yang larut dari dedaunan, akar, dan material organik hutan rawa gambut di sekitarnya.

Di tepian Sungai Sekonyer terdapat Desa Sungai Sekonyer yang kini berkembang menjadi desa wisata. Sebagian besar penduduknya merupakan warga yang direlokasi dari kawasan konservasi ketika Tanjung Puting ditetapkan sebagai taman nasional. Masyarakatnya sekarang menggantungkan perekonomian pada sektor ekowisata, mulai dari jasa kapal klotok, pemandu wisata, homestay, hingga usaha kuliner.

Saat ini, Sungai Sekonyer telah menjadi ikon wisata Kalimantan Tengah. Keberhasilan masyarakat mengembangkan pariwisata berbasis konservasi membuat Desa Sungai Sekonyer masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

Menyusuri Taman Nasional Tanjung Puting melewati Sungai Sekonyer adalah salah satu kegiatan yang wajib detikers coba saat berkunjung ke Kalimantan Tengah. Karena kapan lagi bisa melihat berbagai satwa endemik Kalimantan di atas klotok, beralaskan tenangnya Sungai Sekonyer?




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads