Sudah hampir empat bulan, warga Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-biduk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) hidup tanpa listrik. Sebab, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang selama ini menjadi sumber listrik utama mengalami kerusakan dan belum bisa diperbaiki.
Plt Kepala Kampung Teluk Sumbang Badri Husni Setiawan mengatakan PLTS sebenarnya telah beroperasi sejak 2019 dan membuat warga bisa menikmati listrik selama 24 jam. Namun dalam dua tahun terakhir, pembangkit tersebut mulai sering mengalami gangguan hingga akhirnya mati total sejak Lebaran Idul Fitri.
"PLTS ini sudah ada sejak 2019. Alhamdulillah waktu itu kami sudah menikmati listrik 24 jam. Tapi sekitar dua tahun terakhir mulai sering rusak, dan sejak Lebaran sampai sekarang belum bisa menyala lagi," ujarnya kepada detikKalimantan, Senin (29/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Badri, kerusakan diduga terjadi pada sistem baterai dan panel kontrol PLTS yang hingga kini belum ditemukan titik masalahnya. Pengelola yang merupakan warga setempat juga masih memiliki keterbatasan kemampuan teknis sehingga proses perbaikan harus dibantu teknisi dari Jakarta.
"Informasi terakhir antara baterai dengan panel kontrolnya belum konek. Semuanya sistem komputer, sementara teman-teman pengelola masih terbatas untuk perbaikannya. Sampai hari ini masih komunikasi dengan teknisi di Jakarta, tapi belum ada titik temu," katanya.
Berharap Jaringan Listrik PLN
Di tengah kondisi tersebut, harapan warga kini tertuju pada masuknya jaringan listrik PLN. Usulan itu sudah beberapa kali disampaikan melalui Musrenbang dan mulai mendapat respons.
"Kurang lebih sebulan terakhir PLN sudah datang survei. Minggu lalu kami juga mendampingi penentuan titik-titik tiang. Semoga tidak ada perubahan anggaran, sehingga tahun ini pemasangan tiang listrik sudah bisa dimulai," ucapnya.
Selain listrik, Badri menyebut persoalan lain yang masih menghambat perkembangan Teluk Sumbang sebagai desa wisata adalah akses internet. Meski tidak lagi berstatus blank spot sejak mendapat bantuan tower pada 2022, kualitas jaringan dinilai masih jauh dari memadai.
"Kalau sinyal sebenarnya sudah ada. Tapi kapasitasnya kurang bagus. Kadang kirim WhatsApp pagi, sorenya baru terkirim. Memang indikator 4G penuh, tapi kecepatannya masih rendah," jelasnya.
Sinyal Internet Terhalang Gunung
Ia mengatakan pembangunan BTS baru masih terkendala kondisi geografis. Agar jaringan lebih stabil dibutuhkan tower penghubung di kawasan perbukitan, sementara jumlah pengguna di Teluk Sumbang dinilai belum memenuhi hitungan pembangunan infrastruktur tersebut.
"Informasinya harus ada tower penghubung di daerah hutan karena terhalang gunung. Sementara jumlah pengguna di sini belum menutup untuk pembangunan dua tower tambahan," katanya.
Sebagai solusi sementara, pemerintah telah memberikan bantuan internet berbasis satelit di sejumlah fasilitas umum, seperti kantor kampung dan sekolah. Namun layanan itu juga belum bisa dimanfaatkan secara maksimal ketika listrik padam.
"Wi-Fi bantuan pemerintah sebenarnya sudah ada di kantor desa dan beberapa sekolah. Tapi tetap saja butuh listrik untuk mengoperasikannya," ujarnya.
Kondisi malam hari Kampung Teluk Sumbang/ Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan |
Badri menilai dua persoalan itu sangat memengaruhi aktivitas masyarakat, terutama sektor pariwisata dan usaha kecil. Wisatawan kesulitan mengakses internet, sedangkan pelaku UMKM tidak bisa menyimpan hasil tangkapan ikan dalam waktu lama karena keterbatasan listrik.
"Kalau wisatawan datang kan pasti ingin foto, live, atau unggah ke media sosial. Kalau sinyal dan listrik bermasalah tentu jadi kendala. Begitu juga nelayan dan UMKM, ikan harus langsung dijual hari itu juga karena enggak bisa disimpan lama," katanya.
Bahkan, kata Badri, harga es batu sempat melonjak hingga Rp 5 ribu per balok karena harus didatangkan dari Biduk-biduk. "Es batu harus diambil dari Biduk-biduk pakai boks. Makanya harganya bisa sampai Rp 5 ribu per biji," ujarnya.
Saat ini Teluk Sumbang dihuni sekitar 400 kepala keluarga atau hampir 1.000 jiwa. Badri berharap rencana pembangunan jaringan listrik PLN benar-benar terealisasi agar persoalan yang selama ini membatasi perkembangan desa wisata tersebut segera teratasi.
"Harapan kami PLN segera masuk dan tidak ada pemangkasan anggaran. Kalau listrik sudah normal, aktivitas masyarakat dan pengembangan wisata tentu akan jauh lebih baik," katanya.
Di sektor pendidikan, kondisi tersebut masih bisa diatasi dengan memanfaatkan generator serta layanan internet satelit di sekolah saat pelaksanaan ujian berbasis komputer.
"Alhamdulillah ujian tetap berjalan. Sekolah menggunakan mesin genset masing-masing dan memanfaatkan Wi-Fi yang tersedia. Karena jumlah murid juga tidak terlalu banyak, sejauh ini masih bisa terlayani," pungkasnya.
(sun/des)

