Setidaknya ada 11 jenis rumah adat Banjar, beberapa telah punah dan sisanya masih bertahan. Salah satu yang bertahan itu adalah rumah lanting, rumah adat masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang dibangun di atas permukaan arus sungai.
Bangunan ini merupakan kehidupan orang Banjar pesisir yang menggantungkan aktivitas sehari-harinya pada sungai. Keberadaan Rumah Lanting banyak ditemukan di kawasan sungai besar seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Sampai saat ini, sebagian masyarakat masih mempertahankan rumah ini sebagai tempat tinggal, meskipun jumlahnya semakin berkurang seiring berubahnya pola hidup mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring waktu, banyak kawasan sungai mengalami perubahan fungsi, dan masyarakat pesisir lebih memilih tinggal di daratan karena akses sarana dan prasarana yang lebih mudah.
Akibatnya, rumah lanting di sepanjang Sungai Martapura semakin berkurang, bahkan beberapa kondisi rumah yang tersisa terlihat kurang terawat dan tidak semuanya layak huni.
Selain itu, fungsi rumah lanting juga mulai bergeser. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga digunakan sebagai tempat usaha.
Sejarah Perkembangan Rumah Lanting
Secara historis, menurut publikasi berjudul Rumah Lanting: Rumah Terapung Diatas Air Tinjauan Aspek Tipologi Bangunan, keberadaan rumah lanting diperkirakan sudah ada sejak awal abad ke-19.
Pada masa itu, masyarakat Banjar memanfaatkan hasil hutan berupa kayu sebagai komoditas perdagangan. Kayu dari daerah hulu Sungai Barito dirakit dan dihanyutkan menuju muara sungai untuk diperdagangkan.
Dalam berdagang, masyarakat membutuhkan tempat tinggal yang fleksibel dan mengikuti alur sungai, sehingga muncullah rumah lanting sebagai solusinya. Selain itu, menurut beberapa sumber, rumah lanting awalnya juga digunakan sebagai tempat tinggal para nelayan yang hidup di sepanjang aliran sungai.
Ciri Arsitektur Rumah Lanting
Rumah lanting di bantaran Sungai Martapura. (Dok. Kementerian Pariwisata) |
Rumah lanting memiliki ciri arsitektur yang khas dan fungsional, di antaranya:
- Bentuk bangunan berbentuk segi empat panjang dengan konstruksi atap berbentuk pelana
- Pondasi menggunakan pelampung berupa batang kayu besar yang dipadukan dengan gelagar kayu ulin sebagai penopang lantai papan
- Dinding rumah menggunakan kayu lanan yang masih berkerabat dengan meranti sebagai material utama
- Ruang dalam terbagi menjadi dua bagian, yaitu ruang keluarga dan kamar tidur
- Bagian belakang rumah dilengkapi dapur gantung sebagai area memasak
- Rumah lanting dihubungkan dengan daratan menggunakan titian atau jembatan kecil
- Bangunan diikat menggunakan tali kawat besar sebagai pengikat supaya tidak terbawa arus sungai
Struktur tersebut membuat rumah lanting tetap stabil di atas air, sekaligus mampu mengikuti pasang surut permukaan sungai tanpa tenggelam.
Selain itu, rumah lanting nyatanya juga punya manfaat untuk lingkungan. Keberadaannya dapat membantu mengurangi erosi di bantaran sungai serta berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Dari segi sosial dan budaya, keberadaan rumah lanting merupakan bagian dari identitas kawasan yang memiliki makna sense of place, yaitu keterikatan antara wujud fisik dan kehidupan sosial masyarakatnya. Lingkungan yang memiliki identitas unik seperti ini juga menjadi daya tarik penting dalam sektor pariwisata.
Tetapi saat ini, budaya rumah lanting di Sungai Martapura semakin berkurang. Kebutuhan masyarakat semakin bertambah dan ketergantungan akan sungai semakin menurun. Akibatnya, banyak rumah lanting yang tidak lagi digunakan secara optimal, bahkan sebagian kondisinya tidak terawat.
Meskipun begitu, rumah lanting menjadi saksi bahwa masyarakat Banjar pernah menggantungkan kehidupannya kepada aliran sungai.
(aau/aau)

