Ringgit Menguat, Wisatawan Malaysia Serbu Kuliner-Hotel di Kalbar

Ringgit Menguat, Wisatawan Malaysia Serbu Kuliner-Hotel di Kalbar

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Jumat, 05 Jun 2026 07:59 WIB
Barisan mobil mewah pelat Malaysia parkir di depan salah satu toko di Kota Pontianak, Kalbar.
Barisan mobil mewah pelat Malaysia parkir di depan salah satu toko di Kota Pontianak, Kalbar. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan
Pontianak -

Menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia terhadap rupiah membawa berkah bagi sektor pariwisata dan ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar). Dalam beberapa pekan terakhir, wisatawan asal Malaysia, khususnya dari Kuching, Sarawak, terlihat semakin ramai berkunjung ke Kalbar untuk berwisata, berbelanja hingga berburu kuliner.

Dampaknya mulai dirasakan berbagai sektor usaha, mulai dari hotel, restoran, pusat oleh-oleh hingga jasa penukaran uang atau money changer. Salah seorang staf money changer di Pontianak, Yoga, mengatakan tingginya nilai tukar ringgit membuat daya beli wisatawan Malaysia meningkat.

"Kalau orang Malaysia memang banyak yang menukar uang ke rupiah. Mereka melihat kurs rupiah lebih murah, sehingga lebih tertarik datang ke Indonesia untuk belanja maupun kuliner," kata Yoga kepada wartawan, Kamis (4/6/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, tren penguatan ringgit sudah berlangsung sejak beberapa waktu terakhir. Jika tahun lalu satu ringgit berada di bawah Rp 4 ribu, kini nilainya mendekati Rp 4.500.

Kondisi tersebut membuat wisatawan Malaysia mendapatkan keuntungan lebih besar saat menukarkan mata uang mereka ke rupiah.

"Satu ringgit sekarang bisa ditukar sekitar Rp 4.500. Dengan nilai itu, mereka merasa biaya makan, belanja dan menginap di Indonesia jauh lebih murah," ujarnya.

Yoga mengatakan rata-rata wisatawan Malaysia menukarkan uang antara 300 hingga 500 ringgit untuk kebutuhan selama beberapa hari berada di Kalbar.

"Nominal itu sudah cukup untuk makan, belanja dan jalan-jalan selama beberapa hari. Karena kurs menguntungkan, daya beli mereka juga meningkat," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kalbar, Sugeng Hariadi membenarkan adanya peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, terutama dari Malaysia dan Brunei Darussalam.

Menurut Sugeng, dalam beberapa minggu terakhir kendaraan berpelat Malaysia dan Brunei semakin banyak terlihat memasuki wilayah Kalbar melalui jalur perbatasan.

"Beberapa minggu terakhir memang cukup banyak kendaraan dari Kuching, Sarawak dan Brunei yang masuk ke Kalimantan Barat. Ini tentu menjadi kabar baik bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif," ujarnya.

Sugeng menilai kurs ringgit yang kuat menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kunjungan wisatawan dari negeri jiran tersebut. Dengan biaya hidup yang lebih murah dibandingkan di negara asalnya, wisatawan Malaysia bisa menikmati lebih banyak layanan dengan pengeluaran yang relatif rendah.

"Kalau makan standar di Malaysia bisa menghabiskan lebih dari Rp 50 ribu jika dikonversi ke rupiah. Sementara di Pontianak, dengan Rp 30 ribu saja sudah bisa menikmati makanan yang cukup lengkap. Begitu juga hotel dan kebutuhan lainnya yang relatif lebih terjangkau," jelasnya.

Sugeng mengatakan peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya menguntungkan sektor perhotelan, tetapi juga memberikan efek berantai bagi pelaku usaha kuliner, transportasi, pusat oleh-oleh hingga destinasi wisata di berbagai daerah.

Karena itu, ia meminta seluruh pelaku usaha pariwisata menjaga kualitas pelayanan, kebersihan, keamanan dan kenyamanan agar wisatawan mendapatkan pengalaman positif selama berada di Kalbar.

"Kita harus menjaga keramahan, kebersihan dan keamanan. Kalau wisatawan merasa nyaman, mereka akan kembali lagi dan merekomendasikan Kalbar kepada kerabat maupun teman-teman mereka," katanya.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads