Tim detikTravel belum lama ini berkesempatan menjelajah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Daerah yang punya luas wilayah 36.962,37 km2 ini sebetulnya dikenal sebagai 'Kota Tambang'.
Sebab, Berau menjadi salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Hal ini tervalidasi dari aktivitas tambang yang begitu kentara di jantung kota, Tanjung Redeb.
Kapal-kapal besar pengangkut batu bara lalu lalang di Sungai Berau. Pekerja-pekerja tambang tampak lumrah, topi proyek, baju proyek dan sepatu safety masif digunakan oleh pria maupun wanita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum banyak yang tahu, Berau juga punya banyak potensi spesial di sektor pariwisatanya. Bupati Berau, Sri Juniarsi Mas bahkan menargetkan agar Berau bisa segera melepas predikatnya sebagai 'Kota Tambang'.
"Berau hidup dari sumber saya alam (SDA) seperti tambang, sawit dan bahari. Tambang pasti habis dan harus bertransisi ke SDA lain, yaitu pariwisata," ucapnya belum lama ini.
Selaku bupati yang menjabat dalam periode kedua, ia tahu betul bahwa pariwisata bukanlah primadona. Tapi sekarang, sektor inilah yang menjadi harapan pertumbuhan ekonomi Berau selanjutnya.
"Dalam 10 tahun ini, kita sudah merancang pariwisata dengan membangun infrastruktur. Ada 100 kampung yang punya potensi pariwisata," terangnya.
Sebut saja Maratua, Kakaban, dan Derawan adalah bagian dari Kabupaten Berau yang menjadi destinasi nasional dan internasional, hingga membantu pergerakan pembangunan destinasi lain. Nama-nama destinasi lain seperti Labuan Cermin, Tali Sayang atau Kaniunang mulai terpengaruh dan mendapat perhatian.
Bupati Berau. Foto: Mellisa Bonauli/detikTravel |
Maratua jadi yang paling populer. Keindahan pasir pantainya yang putih dan sehalus tepung kini dicari oleh turis mancanegara. Sejak covid, jumlah kunjungan ke pulau itu naik sampai 3 kali lipat, kata Bupati Sri.
Menurut data dari Kabupaten (Pemkab) Berau, jumlah kunjungan wisatawan sepanjang 2024 melonjak signifikan, dari sebelumnya 422.592 kunjungan menjadi 557.214 kunjungan. Kenaikan lebih dari 134 ribu wisatawan ini tentu berdampak pada sektor-sektor lain. Ada kunjungan, berarti ada data beli.
Turis yang paling banyak datang adalah warga Tiongkok, disusul oleh Rusia dan Italia. Bahkan event Mararua Run yang jadi agenda tahunan mendompleng peningkatan bisnis homestay.
Goa Gumantung Foto: (bonauli/detikcom) |
Bicara soal wisata di Maratua, jagoannya ada Gua Gumantung, destinasi baru yang masih jadi hidden gem di kampung Berau. Jaraknya cuku[ dekat dengan dermaga, Gua Gumantung menyimpan banyak kejutan.
Di satu titik, goa besar menganga di antara tebing terjal. Di bawahnya mengalir sebuah sungai, hitam dan tenang. Untuk bisa bermain di sungai, wisatawan harus turun melalui tangga. Sebuah dek kecil menjadi pelataran utamanya, menjadi akses turun ke sungai. Tiga buah kano sudah siap di sana.
Pengunjung kemudian akan diminta mendayung bergantian. Airnya begitu dingin, sinar matahari memantul dari tebing ke permukaan, terlihat jelas bahwa air sungai itu jernih dengan warna toska.
Melihat Sunset dari Tepian Sungai
Kawasan Tepian Segah di Tanjung Redeb Foto: (bonauli/detikcom) |
Sudah menjelajah pagi hari ke gua, waktunya menikmati matahari tenggelam sambil menyantap camilan. Berau tak cuma Maratua dan Derawan, ada tempat nongkong yang wajib masuk daftar kunjunganmu saat di Berau. Namanya Kawasan Tepian Segah, spot hits ala Blok M.
Sekedar diketahui, Sungai Segah merupakan salah satu sungai yang memiliki peranan penting dalam perjalanan sejarah daerah Berau. Sungai ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber air dan jalur transportasi, kini juga jadi spot 'bengong' dan kulineran favorit warga.
Kawasan tepian Sungai Segah kini berkembang menjadi destinasi wisata perkotaan di Tanjung Redeb, yang menawarkan panorama indah, terutama saat matahari terbenam di waktu senja. Mirip Blok-M, Kawasan Tepian Segah dikembangkan sebagai pusat kuliner dan wisata kota.
Ada berbagai gerobak makanan dan minuman yang berjualan di sana saat sore. Parkirnya langsung di samping pedastrian. Berbagai makanan mulai dari nasi goreng, cilok, bakso sampai pempek ada di sana.
Sambil jajan, pengunjung bisa duduk santai sambil memandangi Sungai Segah dan senja. Semua mata tertuju pada senja. Tak semua memotretnya, tapi masing-masing menikmati perpisahan sang surya.
Kawasan Tepian Segah di Tanjung Redeb Foto: (bonauli/detikcom) |
Pemandangan yang berbeda dari senja di Kawasan Tepian Segah, ialah kapal tambang batubara. Seakan memindahkan gunung, muatan batubara lewat tanpa permisi.
Semakin malam, kawasan ini semakin ramai. Warga sekitar biasanya mencari makan malam di sana atau sekedar nongkrong bersama kawan. Di depan kawasan ini, ada sebuah masjid bernama Al-Ikhlas. Walau nongkrong, jangan lupa untuk selalu salat, ya!
Ada sebuah dermaga khusus PT Berau Coal di dekat Kawasan Tepian. Ini mengapa kapal dari perusahaan itu bebas mondar-mandir. Sementara di ujung kawasan tepian, ada berbagai alat berat yang terlihat.
Baca juga: Jelajah Maratua, Pesonanya Sungguh Tiada Dua |
Oleh-oleh Cokelat dari Berau
Coklat Berau Foto: (bonauli/detikcom) |
Berau adalah salah satu penghasil cokelat terbaik. Bupati Berau, Sri Juaniarsi Mas mengatakan bahwa Berau telah lama menjadi pengekspor cokelat untuk luar negeri. Setiap tahunnya, sekitar 500 ton cokelat dikirim ke Eropa.
"Cokelat kita itu terbaik, karena setelah diteliti fermentasinya sempurna," terangnya dalam wawancara di kediamannya belum lama ini.
Valrhona, merek cokelat premium asal Prancis juga salah satu yang memperebutkan cokelat Berau. Di luar dari pengiriman 500 ton itu, Sri berkata bahwa Valrhona meminta pengiriman 25 ton cokelat setiap tahunnya.
"Dari Swiss juga minta 50 ton juga, di luar dari 500 ton ekspor kita," katanya.
Ia berkata bahwa ini adalah peluang bagi petani, UMKM dan ekonomi kreatif.
Bubuk cokelat Berau dapat ditemukan di toko oleh-oleh. Salah satunya merek Berau Choco yang diproduksi oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Cokelat ini dikemas oleh Rumah Kemas Batiwakkal, milik PT Berau Coal, sebuah perusahaan pertambangan baru bara.
Menurut penjaga toko oleh-oleh, Dian, cokelat Berau Choco berasal dari tanah tambang yang sudah tidak berproduksi. Cokelat ditanam agar tanah Kalimantan kembali hijau dan menghasilkan perputaran ekonomi.
Cokelat-cokelat ini juga menjadi andalan di kafe-kafe Berau. Traveler yang liburan ke Berau bisa nongkong sambil menikmati nikmatnya cokelat Kalimantan.





