Musim durian di Kalimantan Barat (Kalbar) tak hanya menarik perhatian warga lokal, tetapi juga tamu dari luar daerah. Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN) sekaligus Ketua Bakominfo DPP GEKRAFS, Ifan Seventeen menyempatkan diri mencicipi Durian Jemongko saat berkunjung ke Kota Pontianak.
Bagi pria bernama lengkap Riefian Fajarsyah itu, menikmati durian bukan sekadar menyantap buah musiman, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Pontianak.
"Oh luar biasa, sedap sekali. Dari dulu memang di Pontianak itu menikmati durian adalah bagian dari tradisi dan budaya masyarakatnya," kata Ifan berbincang dengan detikKalimantan, Jumat (10/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama Durian Jemongko diambil dari daerah asal buah tersebut, yakni Kampung Jemongko di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, Kabupaten Sanggau. Berjarak tempuh 5-6 jam dari Pontianak. Penamaan Durian Jemongko pertama kali dipopulerkan oleh seorang jurnalis senior, Shando Safela.
Belakangan, nama durian ini dikenal karena cita rasanya yang disebut menyerupai durian premium namun harga yang relatif terjangkau. Menurut Ifan, keunggulan Durian Jemongko tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada proses seleksi buah yang dinilai menjaga kualitas.
"Menurut saya, Durian Jemongko bisa menjadi pilihan kuliner durian yang berkualitas karena buahnya sudah melalui quality control. Jadi rasanya terjaga dengan harga yang sangat terjangkau," ujarnya.
Pelantun 'Jangan Paksa Rindu' itu berharap Durian Jemongko bisa berkembang menjadi identitas baru Kalimantan Barat di sektor wisata kuliner. "Harapan kita semua, Durian Jemongko bisa menjadi salah satu local wisdom dari Pontianak. Dulu orang mengenal Pontianak sebagai kota jeruk. Mudah-mudahan ke depan Durian Jemongko bisa menjadi trademark baru," katanya.
Meski baru pertama kali berkunjung ke Lapak Durian Jemongko, Ifan mengaku sudah mendengar kisah mengenai asal-usul durian tersebut. Ia menyebut buah itu berasal dari wilayah pedalaman Kalimantan Barat dan selama ini dikenal memiliki kualitas yang baik.
"Saya baru pertama kali ke sini, tapi sudah mendengar cerita bahwa Durian Jemongko berasal dari pedalaman Kalimantan Barat. Yang menarik, durian berkualitas seperti ini akhirnya bisa dinikmati masyarakat sendiri dengan harga yang lebih pantas," ujarnya.
Ifan Seventeen Cicipi Durian Jemongko di Pontianak./ Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan |
Ifan juga mengapresiasi upaya memperkenalkan nama Durian Jemongko kepada masyarakat luas. Menurutnya, pengenalan sebuah produk lokal membutuhkan cerita yang kuat agar memiliki nilai tambah sebagai destinasi wisata.
"Jadi luar biasa. Orang sekarang jadi tahu Durian Jemongko. Produk lokal seperti ini memang perlu terus dipromosikan supaya semakin dikenal," katanya.
Fenomena Durian Jemongko belakangan menjadi daya tarik wisata kuliner di Pontianak. Saat musim panen tiba, ratusan pembeli rela mengantre bahkan berebut memilih buah yang baru tiba di lapak.
Lapak paling favorit berada di Lapak Durian Jemongko yang berada di kawasan UMKM Jalan Letkol Sugiono, Pontianak Selatan. Lapak ini milik Shando Safela. Setiap hari, 1.200-1.800 buah durian ludes di atas bak mobil, sebelum diturunkan ke lapak.
Sensasi berburu durian langsung dari mobil pengangkut menjadi pengalaman yang banyak diburu pencinta durian, termasuk wisatawan dari luar Kalimantan Barat.

