Cigi Kave, sebuah kafe baru buka di kawasan Demang Lebar Daun, Palembang. Baru mulai buka, media sosial kafe ini sudah digeruduk netizen yang protes. Kenapa ya?
Dikutip detikFood dari sosial media TikTok @cigi.kave, Cigi Kave jadi sorotan usai menghadirkan konsep interior tak biasa. Kafe ini menggantungkan ratusan bra di bagian atap. Sayangnya, konsep interior yang mereka terapkan ini justru mengundang kecaman hingga kritik di TikTok.
Kafe ini mengusung konsep berbeda, menggabungkan tempat ngopi hingga tempat nongkrong yang harganya ramah di kantong. Meski sekilas kafe ini memang menempati bangunan rumah sederhana, tapi menu kopi dan makanan yang ditawarkan cukup lengkap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sini pengunjung bisa memesan beberapa menu kopi andalan seperti Es Kopi Creamy Cigi, Kopi Kikim, Sanger Kopi, Es Klepon Cigi sampai Browny Latte. Kisaran harganya dari Rp 19.000.
Sementara untuk menu makanannya ada pilihan Nasi Katsu Sambal Matah, Bolognese Pasta, Nasi Goreng Nusantara, sampi camilan seperti Banana Crispy Cigi hingga Mic Platter. Makanan ini bisa dinikmati dari harga Rp 22.000.
Namun kemudian, Cigi Kave viral di TikTok karena konotasi negatif, sebab ada puluhan bra (BH) atau beha wanita yang digantung sebagai hiasan utama di langit-langit kafe. Tak hanya di satu sudut saja, hampir di seluruh bagian langit-langit kafe dipenuhi dengan puluhan beha berbagai warna.
Tentunya hal itu memantik komentar bernada kritik dari netizen, terutama netizen wanita yang menganggap hiasan tersebut sebagai bentuk pelecehan dan merendahkan derajat wanita.
Dari video-video kafe yang penuh dengan hiasan tak biasa itu, netizen mulai membanjiri kolom komentar di akun TikTok @cigi.kave. Mereka meminta agar pihak kafe segera menurunkan ratusan beha itu karena dianggap tidak sopan.
Selain gantungan bra, beberapa netizen juga mengkritik bahwa interior kafe lebih mirip seperti warung remang-remang dengan pencahayaan yang serba ungu gelap.
Tak lama usai dikritik banyak netizen, pihak Cigi Kave langsung menurunkan gantungan bra dari atap kafe mereka.
Di kolom komentar, pihak Cigi Kave menjelaskan bahwa semua hiasan bra itu akan diturunkan. Mereka mengungkap filosofi mengapa menggunakan bra sebagai hiasan kafe.
"Halo, kakak. Motivasinya adalah untuk memberi informasi dan membuka ruang referensi agar pengetahuan kita bisa terus berkembang (walaupun dianggap salah). Filosofinya: "Saat punya ide, mimpi, dan inspirasi, jangan takut duluan untuk diwujudkan (selama dengan cara yang benar)," tulis pihak Cigi Kave.
"Cuma, dari kejadian ini kita belajar bahwa ada kesalahan dari konsep BH-BH ini yang dirasa kurang pantas. Jadi, kita akan memperbaiki kekurangannya, kakak. BH-BH-nya akan dicabut dan kami akan terus berkembang mempercantik kafe ini," pungkas perwakilan Cigi Kave.
Mereka juga mengunggah video proses ketika gantungan-gantungan bra itu diturunkan dari langit-langit kafe. Meski begitu, sampai sekarang masih banyak komentar netizen yang kontra.
Dihubungi detikFood (30/01/2026), Muhammad Aprizal Saputra, selaku perwakilan dari Cigi Kave memberikan klarifikasi terkait penggunan bra sebagai dekorasi kafe.
"Penggunaan bra sebagai dekorasi awalnya terinspirasi dari pengalaman pemilik kafe yang pernah tinggal dan bepergian di Eropa. Dari pengalaman tersebut, muncul gagasan simbolik tentang keberanian, melawan rasa takut, dan berani mengeksekusi ide dengan cara yang positif," ungkap Saputra.
Konsep tersebut juga diiringi dengan komitmen Cigi Kave menjalankan usaha secara sehat, seperti tidak menyediakan menu alkohol, menjual produk halal, dan menetapkan harga yang terjangkau.
Namun demikian, manajemen Cigi Kave menyadari bahwa simbol tersebut dinilai sensitif oleh sebagian masyarakat dan dianggap kurang sesuai dengan norma serta budaya Indonesia.
Setelah menerima berbagai kritik dan saran, pihak Cigi Kave memutuskan untuk mencabut seluruh dekorasi beh sebagai bentuk tanggung jawab dan sikap menghormati nilai yang berlaku di masyarakat.
Manajemen Cigi Kave menegaskan bahwa sejak awal tidak ada niat untuk melecehkan atau menyinggung pihak mana pun.
"Dari konsep dan filosofi ini, kami berharap banyak anak muda semakin mencintai negeri ini dan terinspirasi oleh nilai yang diusung Cigi Kave, yaitu jangan takut terlebih dahulu. Sejak awal, tidak ada sama sekali niat kami untuk melecehkan atau menyinggung pihak mana pun," lanjut Saputra.
Ke depannya, Cigi Kave berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan konsep, fasilitas, dan manajemen. Mereka berharap dapat tumbuh menjadi ruang kreatif yang memberikan manfaat bagi anak muda di Palembang.
(aau/aau)
