Tak hanya barang berharga seperti emas atau uang, makanan ternyata juga berpotensi hilang. Di Amerika Serikat, ada lobster yang berhasil digasak sekelompok sindikat pencuri. Tak main-main, lobster itu bernilai Rp 6 miliar!
Dilansir detikFood dari laman People, pengiriman lobster bernilai hampir 400.000 Dollar AS atau setara lebih dari Rp 6 miliar itu dilaporkan hilang dalam perjalanan.
Mulanya, pengiriman berangkat dari sebuah gudang penyimpanan di Massachusetts dan dijadwalkan tiba di beberapa gudang ritel besar di kawasan Midwest. Namun, hingga waktu yang ditentukan, muatan tersebut tak pernah sampai ke tujuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan logistik yang bertanggung jawab atas pengiriman tersebut mengungkapkan bahwa metode yang digunakan pelaku tergolong sangat rapi. Identitas sopir diduga telah dipalsukan, lengkap dengan dokumen serta alat komunikasi yang sulit untuk dilacak.
Laporan lain juga menyebutkan bahwa peristiwa serupa bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kasus dengan pola yang sama telah dilaporkan oleh perusahaan logistik lainnya.
Aparat penegak hukum pun dibuat kebingungan menghadapi kasus ini, karena kuat dugaan pencurian dilakukan secara terorganisir dan telah direncanakan dengan matang. Jejak para pelaku nyaris tak terlacak, sementara pola aksi mereka hingga kini belum berhasil diungkap.
Lobster menjadi target utama lantaran tingginya permintaan dari restoran-restoran di Amerika Serikat, terutama menjelang perayaan Tahun Baru. Nilai jualnya yang mahal serta permintaan pasar yang tinggi membuat pencurian lobster dianggap sama bernilainya dengan barang berharga lainnya.
Keseriusan kasus ini bahkan mendorong Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk turun tangan. Saat ini, pengungkapan kasus dilakukan melalui kerja sama antara FBI dan aparat penegak hukum di Chicago serta Minneapolis. Sindikat pencurian tersebut juga diduga mengincar komoditas bernilai tinggi lainnya.
"Ini masalah yang sangat besar sampai lintas negara," ujar Dylan Rexing selaku CEO perusahaan logistik berbasis di Indiana, Rexing Companies.
Kasus yang sampai sekarang masih sulit dipecahkan ini memberikan momok menakutkan bagi banyak perusahaan. Jika tak segera dihentikan, diduga kerugian yang bisa diciptakan mencapai Rp 281-587 Miliar.
(aau/aau)
