Taman Nasional Tanjung Puting, Rumah Flora Fauna Langka yang Sedang Terbakar

Taman Nasional Tanjung Puting, Rumah Flora Fauna Langka yang Sedang Terbakar

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Kamis, 15 Okt 2026 10:00 WIB
Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)
Foto: Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)
Kotawaringin Barat -

Taman Nasional Tanjung Puting atau biasa disingkat TNTP di Kalimantan Tengah dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi penting bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Hutan tropis yang membentang luas di kawasan ini menjadi habitat bagi berbagai satwa liar yang keberadaannya kian terancam.

Mulai dari orang utan, bekantan, ragam jenis lutung di Kalimantan, banyak satwa langka yang tinggal di sini. Kini, kekayaan alam yang tersimpan di TNTP tengah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Api yang melanda kawasan hutan tidak hanya mengancam kelestarian ekosistem, tetapi juga keselamatan satwa-satwa langka yang bergantung pada hutan sebagai tempat tinggal dan sumber makanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanjung PutingTanjung Puting Foto: Kemenpar

Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah merupakan salah satu kawasan yang memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan hidup satwa-satwa langka. Kebakaran di kawasan ini pun menjadi pengingat bahwa kerusakan hutan bukan hanya persoalan hilangnya pepohonan, melainkan juga ancaman terhadap kehidupan satwa dan keseimbangan ekosistem.

Tentang Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)

Taman Nasional Tanjung Puting berlokasi di Kalimantan Tengah, tepatnya di semenanjung barat daya yang mencakup wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan. TNTP didirikan pada tahun ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda menjadi cagar alam dan suaka margasatwa pada tahun 1937.

Taman Nasional Tanjung Puting memiliki luas mencapai 415.040 hektare atau sekitar enam kali luas wilayah Jakarta. Dalam satu dekade terakhir, kawasan konservasi ini berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan Indonesia.

Taman Nasional Tanjung Puting dikelola oleh Balai Taman Nasional Tanjung Puting, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)

Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting mulanya adalah Suaka Margasatwa Sampit, diutamakan sebagai wilayah perlindungan orang utan (Pongo pygmaeus) dan bekantan (Nasalis larvatus). Pada sekitar tahun 70-an kemudian wilayah ini diubah namanya menjadi Suaka Margasatwa Tanjung Puting.

Pada tahun 1977, Suaka Margasatwa Tanjung Puting telah dimasukkan ke dalam daftar Cagar Biosfer di Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO. Tanjung Puting kemudian dinyatakan sebagai calon taman nasional melalui SK Menteri Pertanian RI No. 736/Mentan/X/1982 tanggal 14 Oktober 1982.

Kawasan TNTP berbatasan dengan Sungai Sekonyer, Sungai Kumai, Laut Jawa di sebelah barat dan selatan, serta batas buatan di sebelah timur dan utara. Taman Nasional ini memiliki beberapa tipe ekosistem, yaitu hutan tropika dataran rendah, hutan tanah kering (hutan kerangas), hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau atau mangrove, hutan pantai, dan hutan sekunder.

Daya Tarik Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung PutingTaman Nasional Tanjung Puting. Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan

TN Tanjung Puting merupakan salah satu Taman Nasional tertua di Indonesia yang tujuan penetapannya untuk penyelamatan ekosistem hutan rawa dan rawa gambut serta penyelamatan spesies unggulan tingkat dunia yaitu orang utan dan bekantan.

Kawasan TNTP dihuni oleh sekitar 38 jenis mamalia. Tujuh di antaranya adalah primata yang cukup dikenal dan dilindungi seperti orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), owa kalimantan (Hylobates agilis), dan beruang madu (Helarctos malayanus).

1. Melihat Bekantan

Seekor bekantan (Nasalis larvatus) memakan pucuk daun di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.Seekor bekantan (Nasalis larvatus) memakan pucuk daun. Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Bekantan (Nasalis larvatus) adalah jenis monyet berhidung besar dan panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus Nasalis. Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai.

Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet.

Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah one-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu juga terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan.

Hewan jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain.

2. Melihat Orang Utan Kalimantan

Perjamuan makan siang di Camp LeakeyPerjamuan makan siang di Camp Leakey Foto: Ida Setianingsih

Sebagai pusat konservasi orang utan, TN Tanjung Puting menjadi tempat terbaik melihat orangutan Kalimantan secara langsung, khususnya di kamp-kamp rehabilitasi seperti Camp Leakey, Pondok Tanggui, dan Tanjung Harapan.

Taman Nasional Tanjung Puting merupakan habitat alami bagi salah satu populasi orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) terbesar yang dilindungi dan dijaga kelestariannya. Satwa ini memiliki sejumlah keistimewaan yang membuatnya menjadi salah satu primata paling menarik untuk dipelajari.

Secara ilmiah, orang utan memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga hampir 97 persen. Satwa yang juga dikenal dengan julukan kera merah ini diperkirakan telah melalui perjalanan evolusi selama 8-12 juta tahun. Selain itu, orangutan memiliki karakteristik unik sebagai mamalia arboreal, yakni hewan yang menghabiskan sebagian besar kehidupannya di pepohonan, sekaligus menjadi salah satu hewan arboreal terbesar di dunia.

Wisatawan bisa bertemu atau berinteraksi langsung dengan orang utan saat jam makan yang telah dijadwalkan (tentunya dalam pengawasan petugas). Tapi dengan catatan, aktivitas ini bukan sesuatu yang pasti terjadi dan wisatawan tidak diperkenankan untuk memberi makan secara pribadi.

3. Melihat Fauna dan Flora Langka Lainnya

Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)

Beberapa jenis reptil dapat ditemukan di kawasan TNTP, termasuk di antaranya buaya sinyulong (Tomistoma schlegeli), buaya muara (Crocodilus porosus), dan labi-labi (Trionyx cartilagineus).

Tercatat lebih dari 200 jenis burung yang hidup di kawasan TNTP. Salah satu jenis burung yang ada di kawasan ini, yaitu sandang lawe (Ciconia stormi) termasuk dalam 20 jenis burung terlangka di dunia. Hutan ini tak cuma dihuni fauna langka namun juga banyak flora yang unik salah satunya tumbuhan pemakan serangga seperti kantong semar (Nepenthes sp).

4. Menjelajahi Kawasan dengan Perahu Klotok

Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)Taman Nasional Tanjung Puting. (Istimewa/Laman Kementerian Kehutanan)

Pengunjung dapat menikmati keindahan alam di TN Tanjung Puting dengan menyusuri sungai menggunakan klotok.

Salah satu cara untuk menikmati Tanjung Puting adalah menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan klotok, perahu kayu tradisional yang biasa digunakan untuk membawa wisatawan. Selama perjalanan, wisatawan bisa menikmati pemandangan hutan di sepanjang sungai.

Jalur tersebut juga menjadi akses menuju sejumlah lokasi konservasi orang utan. Perjalanan dengan klotok pun menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan di Taman Nasional Tanjung Puting.

Nasib Taman Nasional Tanjung Puting

Karhutla di TN Tanjung Puting Saling BerhadapanKarhutla di TN Tanjung Puting Saling Berhadapan Foto: Instagram @respons.media

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional (TN) Tanjung Puting di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, makin mengkhawatirkan. Bahkan dalam video yang beredar di media sosial, tampak api mengepung kawasan tersebut dari dua sisi, barat dan selatan.

Kejadian ini pun dibenarkan oleh Kepala BNPB Letjen Suharyanto. Ia mengatakan upaya pemadaman terus dilakukan, termasuk melalui langkah water bombing. Namun, upaya tersebut kerap terkendala jarak pandang terbatas akibat kabut asap.

Taman Nasional Tanjung Puting kini merana karena kebakaran hutan. Selain menjadi habitat berbagai satwa liar, kawasan tersebut juga menjadi tujuan wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, sayangnya saat ini area tersebut sedang dilanda karhutla yang mengancam ekosistem di sana.

1.200 Hektare TN Tanjung Puting terbakar. (Dok TNTP)1.200 Hektare TN Tanjung Puting terbakar. (Dok TNTP)

Padahal, Tanjung Puting menjadi tujuan wisata bagi wisatawan dari berbagai negara. Data Balai Taman Nasional Tanjung Puting yang diberitakan Antara, mencatat sebanyak 79.920 kunjungan wisatawan sepanjang 2025.

Dari jumlah tersebut, sekitar 78% merupakan wisatawan mancanegara dan 22% wisatawan domestik. Namun kini sejak karhutla terjadi di TN Tanjung Puting, jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara tercatat mengalami penurunan hingga 80 persen.

Saat ini, kondisi TN Tanjung Puting kian mengkhawatirkan. Kebakaran mengancam kawasan hutan dan habitat orang utan, sementara tim gabungan relawan menarik diri setelah upaya pemadaman di lapangan dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan.

Dengan kemampuan pemadaman yang sudah mencapai batas, mereka mendesak pemerintah segera mengerahkan water bombing untuk menjangkau titik api di zona inti yang sulit ditangani dari darat. Luas kawasan terdampak diperkirakan sekitar 54 ribu hektare, meski angka tersebut masih berupa perkiraan dan belum dapat dipastikan sebagai luas lahan yang terbakar.

Situasi ini juga menjadi beban bagi pekerja wisata dan relawan yang selama ini berada di garis depan. Aktivitas wisata di kawasan yang bergantung pada alam dan keberadaan orang utan ikut terancam, sementara relawan harus menghadapi kebakaran dengan kemampuan dan dukungan yang terbatas.

Sumber:

- Arsip liputan detikcom
- Laman Kementerian Kehutanan
- Laman Kementerian Perhubungan
- Laman Kementerian Pariwisata
- Laman Dinas Pariwisata Kotawaringin Barat

Halaman 2 dari 3
(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads