Trenggiling Terjerat Pukat Warga, Diduga Keluar Habitat karena Karhutla

Kalimantan Barat

Trenggiling Terjerat Pukat Warga, Diduga Keluar Habitat karena Karhutla

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Kamis, 24 Sep 2026 18:20 WIB
Trenggiling yang diselamatkan dari jerat pukat warga di Kayong Utara.
Trenggiling yang diselamatkan dari jerat pukat warga di Kayong Utara. Foto: Dok. KPH Kayong
Kayong Utara -

Seekor trenggiling ditemukan terjerat pukat di kebun cabai warga di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar). Satwa dilindungi itu diduga keluar dari habitatnya akibat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Trenggiling dengan nama ilmiah Manis javanica itu ditemukan warga bernama Nasir (50) pada Selasa (22/9/2026). Saat itu, Nasir sedang berada di area tanaman cabainya.

Nasir sebelumnya memasang pukat untuk mencegah ayam dan hewan liar masuk ke kebunnya. Namun, ia justru menemukan seekor trenggiling terjerat di dalamnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nasir kemudian menyelamatkan satwa tersebut dan mengamankannya di dalam keranjang. Temuan itu lalu dilaporkan kepada UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kayong sekitar pukul 09.35 WIB.

Kepala UPT KPH Wilayah Kayong, Ponty Wijaya bersama jajarannya kemudian menindaklanjuti laporan tersebut dan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar. Namun, karena tim BKSDA sedang fokus menangani karhutla, proses pelepasliaran dilakukan oleh KPH Kayong dengan dilengkapi dokumentasi foto dan video.

"Trenggiling tersebut kemudian dibawa ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) di Desa Sutera, Kecamatan Sukadana," kata Ponty, Kamis (24/9/2026).

Sekitar pukul 11.05 WIB, satwa tersebut akhirnya dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Ponty menduga, trenggiling tersebut keluar dari habitatnya karena terdesak karhutla yang terjadi di sekitar Desa Rantau Panjang.

"Diduga kuat satwa ini terdesak keluar dari habitat aslinya akibat kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Desa Rantau Panjang," ujar Ponty.

Menurut Ponty, peristiwa tersebut menjadi salah satu gambaran dampak karhutla terhadap satwa liar. Kebakaran tidak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga dapat membuat satwa kehilangan ruang hidup dan keluar ke area aktivitas manusia. Ponty mengapresiasi tindakan Nasir yang memilih menyelamatkan satwa tersebut dan melaporkannya kepada petugas.

"Kami sangat mengapresiasi kehendak baik dan kepedulian Pak Nasir yang langsung menyelamatkan serta melaporkan temuan trenggiling ini kepada kami," katanya.

Dia mengimbau masyarakat tidak menangkap, memelihara, memburu, maupun memperdagangkan satwa dilindungi. Masyarakat yang menemukan satwa dilindungi juga diminta segera melapor kepada petugas agar satwa dapat ditangani dan dikembalikan ke habitat yang sesuai.

"Kesadaran masyarakat seperti inilah yang sangat kita butuhkan di tengah kondisi darurat karhutla," pungkasnya.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads