Karhutla melanda kawasan Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Hingga Kamis (10/9/2026), luas kawasan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 3.105 hektare.
Kebakaran ini tentu menjadi perhatian serius karena TN Tanjung Puting merupakan salah satu habitat penting orang utan Kalimantan sekaligus kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi. Lokasinya Puting berada di Semenanjung Tanjung, Kalimantan Tengah.
TN Tanjung Puting memiliki luas sekitar 415.040 hektare dan telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer UNESCO sejak 1977. Beragam ekosistem bisa ditemukan di sana, mulai dari hutan dataran rendah, hutan rawa air tawar, rawa gambut, hutan kerangas, dan mangrove.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kawasan ini juga menjadi salah satu pusat konservasi orang utan terbesar di dunia. Pemerintah kolonial Belanda menetapkannya sebagai Suaka Margasatwa Tanjung Puting pada 1930-an, sebelum kemudian berubah menjadi taman nasional.
Meski menjadi pusat konservasi orang utan, TN Tanjung Putih juga ditinggali berbagai satwa endemik Kalimantan lain. Dari sini, detikers bisa menyaksikan langsung bagaimana mereka hidup dan berinteraksi sehari-hari. Berikut ini berbagai jenis satwa yang hidup di TN Tanjung Puting.
1. Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus)
Orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan |
Orang utan Kalimantan bisa dibilang satwa paling identik dengan TN Tanjung Puting. Primata besar berambut kemerahan ini sekaligus merupakan satwa endemik Pulau Borneo dan salah satu spesies yang memiliki tempat rehabilitasi di Tanjung Puting.
Salah satu lokasi pengamatan orang utan Kalimantan ada di Camp Leakey, yang juga dikenal sebagai pusat penelitian dan konservasi orang utan. Ada pula Pondok Tanggui yang bisa dikunjungi untuk melihat orang utan hasil rehabilitasi.
2. Bekantan (Nasalis larvatus)
Bekantan Kalimantan. Foto: Dok. Animalium BRIN |
Kalau orang utan adalah primata yang paling terkenal di Tanjung Puting, bekantan adalah satwa unik yang paling mudah dikenali dari bentuk tubuhnya.
Bekantan merupakan primata endemik Borneo yang memiliki hidung panjang dan besar, terutama pada spesies jantan. Satwa ini banyak beraktivitas di kawasan hutan, rawa, mangrove dan tepian sungai.
Di Tanjung Puting, bekantan bisa dijumpai ketika wisatawan menyusuri Sungai Sekonyer. Mereka biasanya terlihat bergerombol di pepohonan yang berada di sepanjang sungai. UNESCO memasukkan bekantan sebagai salah satu spesies langka, terancam dan endemik yang menjadi kekayaan penting Tanjung Puting.
3. Beruang Madu (Helarctos malayanus)
Beruang madu (Helarctos malayanus) di habitat alaminya di Kalimantan. Foto: Dok. Animalium BRIN |
Beruang madu merupakan jenis beruang terkecil di dunia yang hidup di hutan Tanjung Puting. Tubuhnya berwarna hitam dan memiliki tanda kekuningan atau jingga berbentuk seperti tapal kuda di bagian dada. Makanannya bermacam-macam, mulai dari buah, madu, serangga dan hewan kecil.
Sayangnya, hewan ini lebih sulit ditemukan dibandingkan orangutan atau bekantan karena sifatnya cenderung soliter dan lebih banyak beraktivitas di dalam hutan. Peran beruang madu tidak kalah penting, lho, saat mencari makanan, beruang madu juga membantu penyebaran biji dan menguraikan material organik di hutan.
4. Owa-Owa (Hylobates agilis)
Owa di TN Tanjung Puting. Foto: Dok. Direktorat Jenderal KSDAE |
Tanjung Puting juga menjadi habitat bagi owa-owa atau owa agile. Primata ini punya ciri unik dengan tubuh yang ramping serta kemampuan bergerak cepat dari satu pohon ke pohon lain.
Owa hidup di pepohonan dan menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di kanopi hutan. Karena sangat bergantung pada tutupan hutan, kerusakan dan hilangnya habitat dapat memberikan dampak besar terhadap populasinya.
5. Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Monyet ekor panjang (macaca Fascicularis). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/rwa. Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya |
Berbeda dengan orang utan dan bekantan, monyet ekor panjang punya kemampuan beradaptasi yang cukup tinggi. Satwa ini hidup di berbagai habitat, termasuk kawasan sekitar sungai dan hutan Tanjung Puting.
Monyet ekor panjang hidupnya berkelompok dan cukup aktif. Saat menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan kelotok, detikers bisa melihat kelompok monyet ini beraktivitas di pepohonan di tepi sungai.
6. Buaya Muara (Crocodylus porosus)
Buaya muara di TN Tanjung Puting. Foto: Dok. TN Tanjung Puting |
Sungai-sungai di Tanjung Puting menjadi habitat bagi reptil predator seperti buaya muara. Satwa ini terkenal sering muncul di kawasan perairan dan muara yang masih masuk dalam ekosistem TN Tanjung Puting.
Buaya muara merupakan salah satu reptil terbesar di dunia. Walaupun tidak selalu mudah ditemui saat menyusuri sungai, keberadaannya penting bagi siklus rantai makanan ekosistem perairan Tanjung Puting. Selain buaya muara, UNESCO juga mencatat keberadaan buaya senyulong (Tomistoma schlegelii) di kawasan Tanjung Puting.
7. Rangkong dan Enggang
Burung Rangkong Badak. Foto: getty images Foto: Burung Rangkong Badak. Foto: getty images |
Selain darat dan perairan, hutan Tanjung Puting juga menjadi rumah bagi berbagai jenis burung, termasuk rangkong atau enggang. UNESCO mencatat lebih dari 200 spesies burung di kawasan Cagar Biosfer Tanjung Puting, termasuk berbagai jenis rangkong, raja udang, bangau dan burung air lainnya.
Salah satu yang khas adalah rangkong badak (Buceros rhinoceros). Burung dengan paruh besar dan tanduk khas di atas paruh ini perannya penting dalam ekosistem hutan, terutama untuk menyebarkan biji di sepanjang hutan.
Kekayaan satwa Tanjung Puting tentu tidak lepas dari keberagaman ekosistemnya. Berbagai ekosistem bisa ditemukan di sini, termasuk hutan rawa gambut, rawa air tawar, hutan dataran rendah, dan mangrove.
Karena itu, kebakaran di Tanjung Puting merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan hidup satwa yang bergantung pada kawasan ini. Semoga api di Kalimantan cepat padam dan satwa-satwa yang terdampak bisa kembali lagi ke alam liarnya.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)







