Kalimantan Flashback

Tragedi Karhutla Pembunuh Massal Orang Utan Kalimantan

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Jumat, 11 Sep 2026 14:01 WIB
Dokter memeriksa kondisi orang utan kalimantan dalam kondisi lemah diduga karena paparan asap karhutla Ketapang. Foto: ANTARA/HO-Kemenhut
Balikpapan -

Pada 1997 hingga 1998, Indonesia menjadi sorotan dunia karena peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dahsyat dan menjadi salah satu kebakaran hutan terbesar. Kabut asap bahkan menyelimuti wilayah Asia Tenggara, dari Filipina hingga utara Australia.

Bukan cuma kerugian ekonomi dan krisis kesehatan, sebuah tragedi ekologis terjadi di pedalaman Kalimantan dan Sumatera. Kebakaran hutan seakan menjadi pembunuh satwa endemik kebanggaan Indonesia, orang utan, hingga diperkirakan sepertiga populasinya musnah..

8 Ribu Orang Utan Tewas

Kebakaran hebat yang melanda wilayah Kalimantan dan beberapa daerah lain selama periode 1997-1998 meninggalkan tragedi bagi populasi orang utan liar. Menurut laporan resmi yang dipublikasikan oleh kemitraan penyelamatan kera besar PBB, Great Apes Survival Partnership (UN-GRASP), bencana tersebut diperkirakan telah membunuh sekitar 8.000 ekor orang utan.

Kehancuran ini merata di seluruh bentang alam habitat mereka. Berdasarkan data di situs Orangutan Outreach, malapetaka ekologis tersebut diyakini telah memusnahkan hampir sepertiga dari seluruh populasi orang utan liar di dunia. Mereka tewas bukan hanya karena terpanggang api secara langsung, melainkan juga akibat kelaparan ekstrem serta kehilangan habitat tempat mereka bernaung.

Bagaimana Orang Utan Mati Sebanyak Itu?

BOS Foundation Australia mencatat bahwa sebagian besar kebakaran di Kalimantan sengaja disulut manusia. Tujuannya adalah pembersihan lahan secara cepat, khususnya untuk perluasan perkebunan kelapa sawit skala industri.

Di bawah kondisi cuaca kering ekstrem akibat fenomena El Nino, api-api yang sengaja dinyalakan ini dengan sangat cepat merambat ke hutan sekitar dan membakar wilayah hutan hujan di luar kendali. Orang utan pun terjebak dan tak bisa menghindar lagi.

Pembukaan lahan dengan cara membakar membuat orang utan yang terbiasa hidup tinggi di atas kanopi hutan menjadi terperangkap tanpa memiliki rute penyelamatan diri untuk meloloskan diri. Dikutip dari situs Biodiversity Warriors, pada kebakaran tahun 1997, tercatat sebanyak 40% dari total titik api di dalam habitat sensitif orang utan.




(bai/aau)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork