Kemarau Bikin Pasir Pulau Sangalaki Kering, Penyu Kesulitan Bertelur

Kalimantan Timur

Kemarau Bikin Pasir Pulau Sangalaki Kering, Penyu Kesulitan Bertelur

Muhammad Budi Kurniawan - detikKalimantan
Jumat, 04 Sep 2026 13:00 WIB
Seekor penyu sedang bertelur di lapangan pasir putih di Derawan, Berau, Kaltim.
Penyu bertelur di Derawan, Berau. Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Berau -

Musim kemarau berkepanjangan mulai berdampak terhadap aktivitas penyu yang bertelur di Pulau Sangalaki, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). Pasir yang sangat kering membuat penyu kesulitan menggali sarang hingga berujung gagal bertelur.

Koordinator BKSDA Kaltim di Pulau Sangalaki, Arsad, mengatakan wilayah tersebut hampir dua bulan tidak diguyur hujan. Kondisi pasir yang terlalu kering menyebabkan lubang yang digali penyu mudah longsor.

"Pasirnya sangat kering karena hampir dua bulan belum ada hujan. Itu mengganggu penyu juga kalau datang bertelur malam di sini," kata Arsad saat ditemui detikkalimantan di Pulau Sanglaki, Kamis (3/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, penyu biasanya akan menggali pasir untuk membuat sarang sebelum mengeluarkan telurnya. Namun, pada kondisi kemarau seperti sekarang, proses tersebut kerap gagal karena pasir yang digali kembali longsor.

Petugas BKSDA yang melakukan patroli setiap malam bahkan kerap hanya menemukan jejak penyu tanpa menemukan sarang maupun telur. Kondisi itu oleh petugas disebut sebagai penyu yang "memeti".

"Dia datang, jejaknya terus gagal bertelur, pindah-pindah. Tiap malam kita patroli itu menemukan hanya jejak saja," ujarnya.

Dalam beberapa kasus, penyu bahkan ditemukan menghamburkan telurnya di permukaan pasir. Arsad menduga kondisi itu terjadi karena penyu sudah tidak mampu menggali sarang setelah berulang kali gagal.

"Kadang dia bertelur ini enggak digali lagi. Dia bertelur berhambur di pasir. Mungkin sudah kebelet, sudah tidak tahan, akhirnya telurnya dihambur saja di pasir," jelasnya.

Jejak Penyu Meningkat pada Musim Puncak

Arsad menjelaskan aktivitas penyu bertelur di Pulau Sangalaki memiliki pola musiman. Periode puncak berlangsung sekitar April hingga Agustus.

Pada periode tersebut, jumlah jejak penyu yang ditemukan petugas bisa mencapai lebih dari 20 jejak dalam satu malam. Sedangkan pada September hingga Maret, jumlahnya relatif lebih sedikit, yakni sekitar 10-20 jejak per malam.

Meski demikian, BKSDA tidak dapat memastikan seluruh jejak tersebut berasal dari penyu yang berbeda. Petugas menggunakan jumlah jejak sebagai indikator kedatangan penyu dan mengasumsikan setiap jejak berasal dari individu berbeda.

"Kalau jejaknya 10, kami laporkan 10 yang datang. Sistemnya seperti itu di sini," katanya.

Sarang yang Berhasil Direlokasi Menurun

Kemarau juga membuat upaya penyelamatan telur penyu melalui relokasi sarang ikut terkendala. Pada kondisi normal, petugas dapat merelokasi sekitar 8-10 sarang dalam sehari. Namun, saat kemarau panjang, jumlah sarang yang berhasil direlokasi turun drastis.

"Sekarang kami usahakan ada satu sarang, atau bisa dua sarang. Tapi rata-rata satu sarang yang berhasil kami relokasi," ungkap Arsad.

Setiap sarang penyu yang direlokasi rata-rata berisi sekitar 100 butir telur. Dengan kondisi saat ini, petugas setidaknya berupaya menyelamatkan sekitar 100-200 telur penyu per hari.

Relokasi dilakukan untuk menjaga telur tetap dapat menetas. Petugas tidak bisa menyiram pasir menggunakan air asin untuk membantu proses penggalian karena dapat memengaruhi keberhasilan telur menetas.

"Kalau kena air asin itu akan gagal untuk menetas. Jadi kami hanya berusaha semaksimal mungkin," katanya.

Arsad mengatakan kondisi tersebut juga berdampak pada wisatawan yang datang ke Pulau Sangalaki untuk menyaksikan tukik atau anak penyu menetas. Sebab, pada kondisi normal, hampir setiap hari terdapat sekitar dua hingga tiga sarang yang menetas. Namun selama kemarau, tidak selalu ada telur yang berhasil menetas untuk disaksikan wisatawan.

"Dulu salah satu atraksi wisata di Sangalaki itu melihat telur penyu menetas. Sekarang kadang tamu datang ingin melihat yang menetas, enggak ada," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads