Di tengah hamparan yang baru saja dilalap api karhutla, masih ada kehidupan yang berusaha bertahan. Seekor tenggiling dengan berat sekitar 2 kilogram ditemukan dalam kondisi hidup di bekas karhutla di Jalan Bumi Raya 1, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Satwa yang dilindungi tersebut ditemukan saat Tim Komunitas Reptil Sampit melakukan penyisiran di kawasan yang sebelumnya terbakar. Selain tenggiling, tim juga menemukan seekor ular sanca kembang.
Ketua Komunitas Reptil Sampit, Hari, langsung menghubungi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit setelah mengetahui satwa tersebut merupakan jenis yang dilindungi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tenggiling kemudian diserahkan kepada petugas BKSDA untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pemeriksaan membawa kabar baik. Meski ditemukan di kawasan bekas kebakaran, tubuh tenggiling tidak menunjukkan tanda-tanda luka bakar maupun cedera lainnya.
"Kondisi tenggiling tampak sehat dan tidak ditemukan luka. Tidak ada luka bakar atau luka lainnya di tubuhnya," ujar Kepala Pos BKSDA Sampit, Muriansyah, Jumat (28/8/2026).
Untuk sementara, tenggiling diamankan di kandang Pos BKSDA Sampit sembari menunggu arahan lebih lanjut. Namun, petugas tidak ingin satwa tersebut terlalu lama berada dalam kandang karena dapat mengalami stres.
Setelah mendapat arahan dari pimpinan, petugas memutuskan untuk mengembalikan tenggiling tersebut ke habitatnya. Lokasi pelepasliaran dipilih secara hati-hati dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan kenyamanan satwa. Tenggiling dilepasliarkan di wilayah Kabupaten Kotim yang dinilai aman dan berada jauh dari kawasan yang masih terdampak karhutla.
"Untuk menghindari stres, tenggiling akhirnya kami lepasliarkan di wilayah Kabupaten Kotim, di lokasi yang aman, jauh dari karhutla. Aman dan nyaman untuk satwa tersebut," jelasnya.
Penyelamatan itu menjadi bagian dari upaya BKSDA bersama komunitas dalam mencari satwa liar yang masih bertahan di kawasan terdampak kebakaran. Penyisiran dilakukan karena karhutla tidak hanya mengancam manusia, permukiman, dan lingkungan, tetapi juga menghancurkan habitat serta mengancam kehidupan satwa liar.
"Saat ini kami bersama pihak komunitas berusaha menyisir daerah bekas karhutla. Kami berusaha mencari dan menyelamatkan satwa liar yang masih hidup," pungkasnya.
