Orang Utan Terancam Keluar Hutan Saat Kekeringan, Rawan Konflik Vs Manusia

Orang Utan Terancam Keluar Hutan Saat Kekeringan, Rawan Konflik Vs Manusia

Riani Rahayu - detikKalimantan
Minggu, 23 Agu 2026 11:45 WIB
Proses evaluasi dan pelepasliaran orang utan yang terusir oleh api di Ketapang. (dok Muffidz Masum/YIARI)
Foto: Proses evaluasi dan pelepasliaran orang utan yang terusir oleh api di Ketapang. (dok Muffidz Ma'sum/YIARI)
Balikpapan -

Kemarau panjang mulai mengancam keberlangsungan satwa liar di tengah hutan yang semakin terfragmentasi. Sumber pakan hingga air yang menyusut membuat orang utan dan satwa lainnya berpotensi keluar dari hutan untuk mencari makan ke kebun warga hingga mendekati embung maupun lubang bekas tambang.

Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto mengatakan kemarau panjang bukan fenomena baru di Kalimantan dan pernah terjadi pada 2015 serta 2019. Namun berkurangnya tutupan hutan membuat kemampuan kawasan tersebut bertahan menghadapi kekeringan semakin menurun.

"Yang menjadi catatan dari tahun ke tahun adalah semakin berkurangnya hutan itu akan mempengaruhi juga terhadap kecepatan daripada kekeringan. Nah, yang terjadi adalah dengan kondisi sekarang itu semakin buruk karena memang kemampuan hutan untuk menahan situasi kekeringan semakin berkurang," ujar Paulinus kepada detikKalimantan, Minggu (23/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Paulinus mengatakan berkurangnya tutupan hutan juga mempersempit ruang hidup satwa. Kondisi tersebut semakin terasa saat kemarau panjang lantaran sumber pakan di dalam hutan ikut menyusut.

"Ketika musim kemarau terjadi, maka dengan ruang hidupnya semakin kecil, jumlah pakan satwa juga semakin berkurang di hutan. Kalau orang utan salah satu kasusnya adalah kurangnya pohon untuk membuat sarang," ungkapnya.

Kondisi itu dinilai dapat meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa selama musim kemarau. Paulinus mencontohkan semakin banyak orang utan ditemukan keluar dari kawasan hutan di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

"Ini menyebabkan semakin tahun dan ketika musim kemarau panjang seperti ini, konflik antara satwa dan manusia semakin tinggi. Sebagai contoh semakin banyaknya orang utan sekarang di musim kemarau ini ditemukan di area Bengalon," jelasnya.

Menurut Paulinus, kebun masyarakat menjadi salah satu tujuan satwa ketika sumber pakan di dalam hutan semakin sulit ditemukan. Orang utan, beruang hingga kelompok makaka berpotensi mendekati kebun untuk mencari buah maupun tanaman yang masih tersedia selama kemarau.

"Satu-satunya tempat untuk satwa sekarang bisa bertahan adalah mencari makan atau mencari buah di kebun-kebun masyarakat. Nah, itulah kenapa tingkat konflik akan semakin tinggi," tuturnya.

Orang utan misalnya, dapat mendatangi kebun ketika buah-buahan hutan tidak lagi tersedia akibat kondisi kering. Sementara kelapa, singkong hingga nangka milik masyarakat menjadi sumber pakan alternatif yang masih dapat ditemukan satwa.

"Kalau musim-musim begini buah-buah yang kayak buah kelapa, singkong, kemudian nangka itu kan buah-buah yang berbuah secara bulanan. Nah, satwa-satwa ini akan masuk ke area-area perkebunan masyarakat. Inilah yang menyebabkan konflik," katanya.

Ancaman tidak hanya berasal dari berkurangnya sumber makanan, tetapi juga ketersediaan air. Sungai-sungai kecil di kawasan hutan berpotensi mengering sehingga satwa terdorong mendekati sungai besar maupun sumber air buatan yang berada di kawasan aktivitas manusia.

"Banyak satwa yang akan berkonflik karena lagi-lagi mereka akan pergi ke embung-embung air. Kalau di daerah pertambangan itu kan ada embung-embung air, lubang tambang. Kemudian kalau di daerah-daerah perusahaan sawit itu ada embung-embung air," bebernya.

Paulinus menyebut persoalan dapat semakin berat apabila kemarau berlangsung panjang dan sumber air tersebut ikut mengering. Satwa harus terus berpindah untuk mendapatkan air dan dalam kondisi tertentu perjalanan panjang tersebut dapat membuat satwa mengalami dehidrasi.

"Kalau mereka enggak bisa bertahan di situ, ya mereka akan mati atau mereka akan terus-terus pindah untuk menemukan sumber air lainnya," ujarnya.

Selain mendekati kebun dan sumber air, satwa akan berusaha berpindah menuju kawasan hutan yang kondisinya lebih baik. Namun fragmentasi hutan membuat perjalanan tersebut tidak mudah karena satwa harus melintasi berbagai kawasan konsesi maupun aktivitas manusia.

"Yang kedua adalah satwa-satwa ini akan mencari hutan yang lebih besar untuk mereka bisa bertahan. Nah, celakanya adalah hutan-hutan sekarang itu banyak yang sudah terfragmentasi," terang dia.

Kondisi serupa juga menjadi perhatian di Kabupaten Berau yang tengah menghadapi karhutla. Paulinus menyebut kawasan hulu Kecamatan Kelay masih memiliki kondisi hutan yang relatif baik sehingga memungkinkan satwa dari kawasan lain bergerak menuju wilayah tersebut.

"Kalau Kecamatan Kelay ini bagian hulu sungai itu hutannya masih bagus. Tingkat apinya lebih rendah, maka satwa akan pasti banyak ke arah sana, dari tempat lain coba berpindah ke sana," katanya.

Namun perjalanan menuju hutan yang lebih aman membuat satwa harus melewati kawasan perusahaan. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan bagi satwa untuk menyelamatkan diri dari kawasan yang terdampak kebakaran maupun kekeringan.

"Sayangnya adalah untuk berpindah dari lokasi yang terbakar ke lokasi yang lebih aman itu melintasi perusahaan-perusahaan. Mungkin itu yang akan jadi catatan susahnya bagi satwa untuk pindah," tuturnya.

CAN Borneo menyiagakan tim untuk menghadapi kemungkinan satwa keluar dari kawasan hutan dan berkonflik dengan masyarakat. Sebanyak 20 personel saat ini dibagi untuk penanganan kebakaran serta penyelamatan satwa.

"Sampai saat ini tim kami ada 20. Itu terbagi dari tim pemadam kebakaran dengan tim penyelamatan satwa," ungkapnya.

Paulinus mengatakan satwa yang ditemukan dalam kondisi sehat dapat langsung dipindahkan menuju kawasan hutan yang lebih aman. Sementara satwa yang mengalami dehidrasi maupun membutuhkan pertolongan akan lebih dulu dibawa ke pusat rehabilitasi untuk menjalani perawatan.

"Ketika kita menemukan dengan kondisi tersebut, ini harus masuk ke pusat rehabilitasi untuk dirawat. Tapi untuk satwa yang masih kondisinya baik, bagus, kita akan langsung translokasi atau kita release kembali," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: Orang Utan Mati gegara Karhutla-Prabowo ke Rusia"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads