Hutan hujan tropis Asia Tenggara menyimpan pesona keragaman satwa yang luar biasa, salah satunya adalah burung enggang klihingan (bushy-crested hornbill). Berbeda dengan kebanyakan spesies burung pada umumnya, enggang klihingan memiliki ikatan keluarga dan kepedulian sosial yang sangat menakjubkan.
Artikel ini akan membawa detikers menyelami kehidupan enggang klihingan secara lengkap, mulai dari rincian klasifikasi, keunikan fisik, peta persebaran, ragam perilaku dan kebiasaannya, hingga status konservasi yang mengancam kelestariannya di alam liar saat ini.
Klasifikasi
Secara taksonomi, enggang klihingan tergabung dalam famili Bucerotidae yang dikenal luas sebagai kelompok burung rangkong atau burung berparuh besar. Berikut klasifikasinya berdasarkan Animal Diversity:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Kelas: Aves (burung)
- Subkelas: Neognathae (burung neognath)
- Ordo: Coraciiformes (burung raja udang dan kerabatnya)
- Famili: Bucerotidae (burung rangkong/enggang)
- Genus: Anorrhinus
- Spesies: Anorrhinus galeritus (burung rangkong jambul lebat)
Ciri-ciri Fisik
Dilansir dari Biodiversity Warriors, enggang klihingan termasuk jenis burung rangkong berukuran agak kecil dengan panjang tubuh sekitar 70 cm. Penampilannya sangat ikonis dengan bulu jambul yang tumbuh terkulai di kepalanya.
Sebagian besar bulu di bagian punggung dan sayapnya berwarna hitam gelap, berpadu dengan bagian perut yang berwarna cokelat keabu-abuan. Bagian ekornya pun tak kalah cantik, menampilkan gradasi warna cokelat tua keabu-abuan dengan garis hitam lebar yang tegas pada bagian ujungnya.
Salah satu ciri paling mencolok dari burung ini adalah adanya area kulit tanpa bulu berwarna biru terang di sekitar mata dan tenggorokannya. Untuk membedakan jenis kelamin, kita cukup mengamati warna paruh dan mata mereka.
Rangkong jantan memiliki paruh berwarna hitam dengan iris mata berwarna merah. Sebaliknya, sang betina memiliki paruh yang keputih-putihan dengan iris mata berwarna hitam. Sementara itu, burung yang masih remaja dapat dikenali dari iris matanya yang berwarna biru.
Selain visualnya yang khas, enggang klihingan juga mudah dikenali di alam liar karena suaranya yang terkenal jauh lebih bising dibandingkan kerabat enggang lainnya.
Persebaran dan Habitat
Dikutip dari situs Rangkong Indonesia, burung yang terbiasa hidup berkelompok dalam kawanan kecil berisikan 2 hingga 20 individu ini merupakan satwa asli kawasan Asia Tenggara. Wilayah jelajahnya terbentang melintasi hamparan hutan tropis di Myanmar, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Indonesia, tepatnya di Sumatera dan Kalimantan.
Hutan-hutan lebat dengan pepohonan tinggi merupakan habitat favorit utama enggang klihingan karena di sanalah sumber makanan mereka tersedia sangat melimpah. Meskipun sesekali kawanan ini masih bisa dijumpai bersembunyi di dalam ekosistem hutan gambut.
Mereka sangat jarang, atau bahkan hampir tidak pernah ditemukan di area hutan yang terbuka seperti kawasan pesisir pantai. Untuk urusan membangun sarang pelindung, burung ini sangat mengandalkan lubang-lubang alami yang terbentuk di batang pohon-pohon besar, khususnya pohon meranti.
Kebiasaan dan Perilaku
Ada beberapa kebiasaan dan perilaku dari enggang klihingan yang dapat diamati, seperti dari makanan, bersarang, hingga perkembangbiakan.
Pola Makan
Dalam Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH) Volume 9, Juni 2022, enggang klihingan adalah satwa omnivora yang menyukai buah. Mereka tercatat mengonsumsi hingga 18 jenis buah yang berbeda.
Dua famili tumbuhan yang paling mendominasi menu harian mereka adalah Myristicaceae (48%) dan Magnoliaceae (20%), dengan jenis buah yang paling sering ditemukan adalah buah darah (Horsfieldia sp.). Selain itu, mereka sangat menyukai berbagai buah ara (Ficus spp.) yang memiliki kandungan gula yang tinggi.
Di luar diet buah-buahan yang kaya nutrisi dan lemak, burung ini juga lihai berburu hewan kecil. Terkadang mereka memangsa serangga, jangkrik, katak, hingga kadal untuk memenuhi kebutuhan protein harian.
Kebiasaan Bersarang dan Kehidupan Sosial
Perilaku enggang klihingan saat bersarang adalah salah satu tontonan yang menakjubkan di hutan tropis. Burung monogami yang sangat setia pada satu pasangan seumur hidupnya ini memiliki sifat altruistik (rela berkorban dan mementingkan kelompok).
Selama masa pengeraman, induk betina akan masuk ke dalam lubang pohon (Madhuca sp.) dan menutup akses masuknya menggunakan lumpur, hingga hanya menyisakan sebuah celah sempit. Betina akan terkurung di sana dengan aman dari jangkauan predator.
Di sinilah peran kelompok terlihat. Enggang jantan tidak bekerja sendirian, ia dibantu oleh 4 hingga 7 ekor anggota kelompok lain yang bertugas mencarikan dan mengantarkan pakan secara bergantian.
Cara mereka memberi makan sangat unik, yakni burung 'pengantar' akan menampung makanan di dalam kantong tenggorokannya (kantong gular), lalu ia akan terbang ke depan sarang, mengeluarkan pakan itu satu per satu ke ujung paruhnya, dan memuntahkannya secara perlahan ke dalam celah sarang agar bisa dijangkau oleh sang betina.
Siklus Perkembangbiakan
Proses panjang berkembang biak ini memakan waktu setidaknya 90 hari. Terdiri dari 30 hari masa inkubasi (mengerami telur) dan 60 hari masa merawat 2 hingga 3 ekor anak burung yang menetas di dalam sarang.
Selama berbulan-bulan itu pula, para anggota kelompok penolong tidak hanya sibuk menyuplai makanan, namun juga bersama-sama memproteksi sarang dan teritorial mereka dengan cara memproduksi kepakan suara berisik untuk menakuti ancaman dari luar.
Status Konservasi dan Ancaman
Pemilik nama global bushy-crested hornbill ini memiliki peran ekologis yang teramat penting sebagai agen penyebar biji untuk meremajakan hutan. Menyadari peran vital tersebut, Pemerintah Indonesia melindungi eksistensinya secara hukum berdasarkan PermenLHK No. 20 Tahun 2018.
Di tingkat global, lembaga IUCN beserta regulasi CITES telah memasukkan enggang klihingan ke dalam kategori Hampir Terancam (Near Threatened/NT) sekaligus terdaftar pada Appendix II.
Meski burung ini memiliki kemampuan bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan tutupan hutan, ancaman kerusakan habitat akibat deforestasi masih menjadi teror utama. Sejak tahun 2000 hingga 2012, tercatat mamalia bersayap ini telah kehilangan sekitar 12% habitat aslinya.
Angka ini menjadi alarm keras bagi usaha konservasi; sebab jika eksploitasi perusakan hutan tak kunjung dibendung, bukan tidak mungkin habitat alami mereka akan musnah seutuhnya dalam tiga generasi yang akan datang.
