Menikmati keindahan alam memang menyenangkan. Namun bagi komunitas pemuda di Tarakan, Kalimantan Utara, hobi tersebut tak lengkap tanpa tanggung jawab untuk merawatnya. Dari kesadaran bahwa kerusakan lingkungan akan mematikan hobi mereka sendiri, komunitas pemuda kini bergerak melampaui sekadar wisata alam.
Aksi nyata ini ditunjukkan oleh kolaborasi komunitas Freedivers Tarakan dan Komunitas Pecinta Alam Liar (KPAL). Akhir pekan ini, mereka terjun langsung ke Pantai Amal Lama, pesisir Timur Tarakan untuk menanam sekitar 150 bibit mangrove jenis Rhizophora SP serta memungut sampah plastik yang berserakan.
Bilal dari komunitas Freedivers Tarakan menambahkan bahwa menjaga mangrove adalah langkah mutlak bagi penyelam. Baginya, percuma menyelam jika ekosistem bawah laut rusak akibat rusaknya benteng pertahanan di pesisir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mangrove itu ekosistem krusial. Ini tempat bayi-bayi ikan dan kepiting berlindung dari arus dan predator. Tanpa kawasan pesisir yang terjaga, ekosistem di laut dalam juga akan hancur. Jadi, ini sangat berkaitan erat dengan kami para penyelam," jelas Bilal kepada detikKalimantan di Pantai Amal Lama. Minggu (16/8).
Freedivers Tarakan dan Komunitas Pecinta Alam Liar tengah asik menanam mangrove. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan |
Senada dengan Pegiat komunitas KPAL, Abdul, menegaskan bahwa prinsip mereka sederhana, jika ingin menikmati alam yang nyaman dan aman, maka lingkungan harus dilestarikan.
"Kami ingin mengubah pola pikir bahwa menjadi pecinta alam itu tidak hanya soal menikmati pemandangan. Kalau bukan kita yang rawat, masa harus tunggu bencana datang baru kita restorasi?" ujar Abdul Usai penanaman kegiatan.
Yang membedakan aksi pemuda ini dengan kegiatan serupa adalah komitmen mereka terhadap keberlanjutan. Mereka menolak keras anggapan bahwa menanam mangrove hanya aksi seremonial sekali jalan. Abdul menjelaskan, setiap bibit yang ditanam wajib melalui tahap pemantauan ketat.
"Kami ada kegiatan monitoring rutin setiap dua minggu, lalu berlanjut di bulan ketiga. Kami punya target jangka hidup bibit minimal 80 persen. Kalau cuma tanam terus ditinggal, itu bukan konsep kami," tegasnya.
Hingga saat ini, komunitas tersebut telah menanam bibit mangrove di lahan seluas sekitar 5 hektare sejak tahun 2011. Dengan anggota yang solid, mereka membuktikan bahwa meski dengan keterbatasan dana, aksi kolektif pemuda dapat menjadi garda terdepan pelestarian lingkungan.
"Selagi masih di Tarakan, bagi kami tidak ada sekat komunitas atau wilayah. Tujuannya satu, menjaga agar pesisir kita tetap punya masa depan," tutup Abdul.

