Indonesia memiliki kekayaan alam dengan berbagai ekosistem, salah satunya gambut yang berperan penting dalam kondisi iklim global. Tanah gambut ditemukan di sejumlah daerah, antara lain di Pulau Kalimantan.
Sebagai pengetahuan buat detikers, lahan atau tanah gambut dibedakan menjadi beberapa jenis. Dalam artikel ini, kita ulas mulai dari pengertian, jenis-jenis lahn gambut, manfaat, serta risikonya.
Pengertian Tanah Gambut
Berdasarkan buku Explore Geografi Jilid 1, tanah gambut terbentuk dari akumulasi sisa material organik yang tidak membusuk secara sempurna selama ribuan tahun. Proses penumpukan serasah tumbuhan ini terjadi di kawasan rawa-rawa yang tergenang air dengan kadar oksigen sangat rendah.
Kawasan ekosistem lahan basah ini memiliki persebaran yang cukup luas di wilayah Indonesia, mulai dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Papua bagian Selatan. Selain itu, keberadaan bentang tanah gambut ini juga tercatat mendominasi wilayah daratan Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, serta Kalimantan Selatan.
Jenis Tanah Gambut
Tanah gambut dibedakan ke dalam beberapa jenis berdasarkan lokasi, kedalaman, proses pembentukan, hingga tingkat kesuburannya. Berikut penjelasan yang dirangkum dari situs YIARI dan Universitas Lambung Mangkurat.
Berdasarkan Lokasi atau Lingkungan Fisiografi
- Gambut Pantai: Lahan ini terbentuk di wilayah pesisir sehingga prosesnya sangat dipengaruhi oleh pasang surut serta rutin mendapat asupan tambahan mineral dari air laut. Kehadiran nutrisi laut tersebut membuat kawasan berkarakteristik unik ini pada umumnya didominasi oleh rimbunnya ekosistem hutan mangrove.
- Gambut Pedalaman (Sungai): Berlokasi jauh dari pesisir atau di sepanjang aliran sungai, kawasan ini murni mengandalkan limpahan curah hujan atau air tawar sungai tanpa pengayaan mineral laut. Karakteristik lingkungan yang khas tersebut menjadikannya sebagai habitat paling ideal bagi suburnya pertumbuhan vegetasi hutan kayu berdaun lebar.
- Gambut Transisi: Kawasan peralihan ini membentang tepat di antara wilayah pesisir pantai dan daratan pedalaman sehingga sifatnya memadukan dua kondisi bentang alam tersebut. Akibat fenomena ini, komposisi tanah serta ragam vegetasi yang tumbuh di atasnya merupakan perpaduan harmonis dari ciri khas daratan maupun pesisir.
- Gambut Dataran Tinggi (Pegunungan): Pembentukan jenis lahan basah ini secara spesifik terjadi di area punggung bukit maupun kawasan pegunungan yang suhu lingkungannya terasa lebih sejuk. Kontur ketinggian dan letak geografisnya secara langsung membedakan karakter ekosistem ini dari tumpukan gambut biasa yang terbentuk di area dataran rendah.
- Gambut Cekungan (Basin Peat): Material organik pada hamparan ekosistem ini menumpuk di area topografi berupa cekungan lembah, rawa belakang sungai, maupun lekukan alami daratan. Lingkungan fisik yang menjorok lebih rendah ke bawah amat mendukung proses penjebakan bahan nabati hingga berujung pada pelapukan basah yang memakan waktu lama.
Berdasarkan Kedalaman atau Ketebalannya
- Gambut Sangat Dangkal: Kategori ini mendeskripsikan lahan gambut yang memiliki lapisan penumpukan material organik amat tipis dengan ketebalan di bawah angka 50 cm. Lapisannya yang begitu minimalis membuat sifat organiknya banyak bercampur serta bersentuhan langsung dengan lapisan dasar penyangga mineral di bawahnya.
- Gambut Dangkal: Pada klasifikasi ini, dimensi ketebalan lapisan sisa-sisa vegetasi yang membusuk membentang dari ukuran 50-100 cm. Lahan basah berspesifikasi dangkal ini masih cukup bersahabat untuk dikonversi secara langsung demi mendukung aktivitas pertanian warga melalui metode pengolahan yang tepat.
- Gambut Sedang: Hamparan kawasan gambut yang tergolong dalam kelas pertengahan ini memiliki rentang dimensi ketebalan lapisan organik 101-200 cm. Pengalihan fungsinya menjadi lahan produktif perkebunan secara mutlak membutuhkan serangkaian teknik pengelolaan khusus agar kualitas kesuburan tanah aslinya tidak mendadak anjlok.
- Gambut Dalam: Ekosistem lahan basah ini menampung tumpukan material sisa tanaman yang telah menebal secara masif pada ketebalan 201-400 cm. Kedalaman sebesar itu menyulapnya menjadi fasilitas alami penyimpan simpanan emisi karbon raksasa sehingga ekosistem ini teramat sangat rentan terdegradasi apabila airnya sengaja dikuras.
- Gambut Sangat Dalam: Kategori spesial ini disematkan pada hamparan tanah berlapis sisa makhluk hidup yang mencatatkan tingkat kedalaman mulai 401-800 cm. Kandungan endapan organiknya yang luar biasa tebal menahbiskan area gambut ini sebagai garda terdepan perlindungan iklim dari paparan gas rumah kaca berskala internasional.
- Gambut Dalam Sekali: Peringkat kedalaman ekstrem ini ditujukan khusus bagi bentang gambut berusia purba yang lapisan tanah alaminya melampaui ukuran 801-1.200 cm. Penimbunan massa bahan alam super tebal yang memakan waktu ratusan tahun ini harus dilestarikan keberadaannya tanpa boleh diganggu gugat sedikitpun demi keselamatan umat manusia.
(bai/des)