Ada Babi Berjenggot di Kalimantan, Begini Penampakannya

Ada Babi Berjenggot di Kalimantan, Begini Penampakannya

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Senin, 03 Agu 2026 12:09 WIB
Babi berjenggot atau Sus barbatus. (dok rekoforest.org)
Foto: Babi berjenggot atau Sus barbatus/(dok rekoforest.org)
Balikpapan -

Babi berjenggot atau babi berjanggut merupakan mamalia berukuran besar yang memiliki sejarah evolusi panjang di kawasan Asia Tenggara. Satwa nomaden ini tersebar di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya Kalimantan.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai spesies unik ini, artikel berikut akan mengupas tuntas berbagai aspek kehidupannya yang mencakup taksonomi, sebaran habitat, karakteristik fisik, aneka perilaku keseharian, hingga status konservasinya di alam liar.

Taksonomi dan Persebaran

Secara taksonomi, spesies ini diklasifikasikan ke dalam dua subspesies utama yaitu Sus barbatus dan Sus barbatus oi. Berikut taksonomi atau klasifikasinya:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Kelas: Mamalia (mamalia)
  • Ordo: Artiodactyla (ungulata berkuku genap)
  • Famili: Suidae (babi hutan)
  • Subfamili: Suinae (babirusa)
  • Suku: Suini (babi)
  • Genus: Sus (babi)
  • Spesies: Sus barbatus dan Sus barbatus oi (babi berjanggut)

Wilayah persebaran alami mereka sangat luas. Spesies Sus barbatus tersebar di Kalimantan, hingga pulau-pulau di Filipina seperti Palawan dan Kepulauan Sulu. Sedangkan Sus barbatus oi tersebar di Semenanjung Malaysia, Kepulauan Riau, Bangka, dan Sumatera.

Mamalia ini memiliki daya adaptasi tinggi di berbagai lanskap mulai dari hutan hujan dataran rendah, kawasan mangrove pesisir, hingga hutan pegunungan di ketinggian 2.000 meter. Meskipun mereka bisa bertahan di hutan sekunder dan area perkebunan kelapa sawit, satwa ini tercatat telah kehilangan hingga 62 persen habitat alaminya di hutan Sumatera akibat deforestasi massal.

Babi berjenggot atau Sus barbatus. (dok Phil Myers/University of Michigan-Ann Arbor)Babi berjenggot atau Sus barbatus. (dok Phil Myers/University of Michigan-Ann Arbor)

Ciri-Ciri Fisik Babi Berjenggot

Spesies ini dinobatkan sebagai babi dengan bentuk kepala paling panjang dan tubuh paling ramping dibandingkan semua babi liar yang masih hidup saat ini. Ciri fisik utamanya meliputi rambut kaku menyerupai janggut di rahang bawah, dua pasang kutil di wajah, serta rumbai ujung ekor yang bentuknya sangat mirip dengan ekor gajah.

Babi jantan dewasa umumnya berbobot antara 50 hingga 120 kilogram, namun ukurannya bisa melonjak tajam melebihi 200 kilogram ketika cadangan makanan di dalam hutan sedang sangat melimpah. Sementara itu, anak babi yang baru lahir memiliki corak garis-garis pucat di punggungnya, di mana corak kamuflase tersebut akan memudar dan menghilang sepenuhnya saat mereka mencapai usia lima minggu.

Perilaku Makan dan Kebiasaan

Babi berjenggot termasuk hewan omnivora oportunistik. Mereka menggunakan moncong panjangnya yang sensitif untuk menggali cacing tanah, akar, serangga, dan memakan aneka buah-buahan yang jatuh ke lantai hutan.

Satwa ini juga memiliki insting unik berupa membangun sarang berukuran dua meter persegi dari patahan anak pohon. Mereka secara rutin berkubang di genangan lumpur basah untuk mendinginkan suhu tubuhnya.

Babi berjenggot sangat dikenal luas karena gaya hidup nomadennya. Kemampuannya cukup unik karena dapat melakukan perjalanan migrasi jarak jauh menembus hutan lebat pada malam hari.

Pergerakan kawanan besar biasanya dipimpin oleh pejantan tua. Namun pergerakan ini terjadi secara musiman guna melacak siklus berbuahnya pohon dipterokarpa dan tengkawang di alam liar.

Siklus Reproduksi

Babi betina umumnya mulai mencapai kematangan reproduksi dan siap berkembang biak ketika mereka memasuki usia antara 10 hingga 18 bulan. Saat musim ketersediaan makanan sedang sangat melimpah, seekor induk betina dapat melahirkan satu hingga dua kali dalam setahun dengan jumlah anak berkisar antara dua hingga dua belas ekor per siklus kelahiran.

Masa kehamilan mamalia ini berlangsung selama kurang lebih empat bulan sebelum sang induk mengasingkan diri. Mereka bersembunyi ke sarang besar yang terbuat dari tumpukan dedaunan dan semak rimbun.

Induk tersebut akan merawat dan melindungi bayinya secara sangat agresif pada minggu-minggu pertama. Setelah usia tiga bulan, anak-anak babi disapih dan kemudian akan mengikuti induknya selama setahun penuh.

Status Konservasi

Babi berjenggot saat ini telah resmi menyandang status konservasi Rentan (Vulnerable) dari lembaga perlindungan IUCN. Populasinya menurun tajam mencapai 30 persen selama tiga generasi terakhir. Ancaman terbesar bagi kelestarian spesies ini bersumber dari penyusutan area hutan dan perburuan yang tak terkendali.

Halaman 3 dari 2
(bai/sun)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads