Terong Dayak: Spesies Baru Solanum Berduri Kalimantan yang Unik

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Rabu, 17 Jun 2026 07:01 WIB
Solanum kalimantanense, spesies terong berduri asal Kalimantan yang punya manfaat jadi obat tradisional. Foto: BRIN
Balikpapan -

Para peneliti kembali mengungkap temuan baru keanekaragaman hayati dari Kalimantan. Spesies yang baru diidentifikasi ini adalah terong berduri dari kelompok spiny solanums, atau yang dikenal warga lokal sebagai 'terong dayak' (Solanum kalimantanense).

Penemuan ini tidak hanya menambah daftar panjang flora unik Indonesia, tetapi juga memberikan wawasan baru tentang evolusi dan potensi pemanfaatan tanaman lokal.

Yuk kita telusuri lebih dalam tentang temuan menarik ini, seperti dilansir dari Jurnal Taprobanica: A New Spiny Eggplant Species of The Genus Solanum L. (Angiosperms: Solanaceae) from Indonesian Borneo karya Esthi L Agustiani dkk.

Klasifikasi Terong Berduri

Spesies baru ini termasuk dalam keluarga besar Solanaceae, sebuah keluarga botani penting yang mencakup berbagai tanaman pertanian bernilai ekonomi tinggi seperti kentang, tomat, dan tentu saja, terong.

Secara lebih spesifik, taksonominya adalah sebagai berikut:

  • Kingdom: Plantae
  • Klad: Tracheophytes, Angiospermae, Eudikotil, Asterid
  • Ordo: Solanales
  • Famili: Solanaceae
  • Genus: Solanum
  • Subgenus: Leptostemonum (Kelompok terong berduri)
  • Spesies: Solanum kalimantanense

Penemuan Spesies Baru Solanum

Spesies terong baru ini ditemukan secara eksklusif di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel). Menariknya, alih-alih ditemukan di pedalaman hutan, tanaman ini justru sebagian besar tumbuh subur di kebun-kebun milik penduduk setempat.

Penemuan ini merupakan hasil dari investigasi lapangan yang dilakukan antara tahun 2022 hingga 2024 oleh para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Spesimen dikumpulkan dari berbagai lokasi, di antaranya Desa Teluk Muda dan Desa Intu Lingau Kaltim dan Desa Amawang Kiri Muka di Kalsel.

Sering kali spesies 'baru' sebenarnya sudah ditemukan beberapa tahun sebelumnya. Penemuan baru dipublikasikan setelah melalui proses identifikasi yang panjang, seperti studi morfologi dan analisis molekuler (DNA) yang cermat.




(bai/aau)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork