Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan di kawasan perbatasan saat ini tengah mengalami 'banjir' buah-buahan lokal yang eksotis. Sayangnya, melimpahnya hasil panen dari ratusan pohon peninggalan nenek moyang ini terancam membusuk sia-sia karena minimnya akses transportasi untuk menjualnya ke luar daerah.
Guna menyiasati hal tersebut dan mengangkat nilai ekonomi masyarakat, Pemerintah Kecamatan Krayan Selatan menggelar acara Wisata Panen & Cita Rasa Buah Lokal Krayan Selatan. Ajang perdana ini dilangsungkan pada 9-31 Maret 2026 di Desa Long Layu dan Tang Laan.
Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan melihat kondisi buah yang berlimpah namun tidak mendatangkan keuntungan finansial bagi warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau makan buah, nggak mungkin kita makan semua, berlimpah ini. Jadi ya busuk, nggak ada nilainya. Nah, makanya kita munculkan ide wisata ini. Paling tidak kita undang orang ke sana menikmati buahnya, bawa pulang, ada nilai ekonominya untuk masyarakat," ujar Oktavianus kepada detikKalimantan, Rabu (11/3/2026).
Wisata ini menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung. Wisatawan akan diajak untuk memetik dan menikmati buah langsung di bawah pohonnya. Ada sensasi trekking menuju kampung-kampung lama, bahkan menaiki perahu ketinting.
Buah yang ditawarkan bukanlah buah sembarangan, melainkan varietas eksotis khas Krayan yang jarang ditemui di daerah lain. Mulai dari buah mata kucing, buah meritam, dan beragam varian durian lokal Kalimantan.
"Ada durian kuning dan durian merah. Durian kuning ini rebutan orang, carinya susah betul. Sampai orang antre di bawah pohon nunggu jatuhnya," kata Oktavianus.
Buah mata kucing hijau. Foto: (Dok. Kecamatan Krayan Selatan) |
Selain itu, tersedia varian Mata Kucing Biru, Hijau, dan Merah. Sementara ada buah Beritem/Pulasan, Manggis Lokal, Langsat, Rambutan/Loyakan, dan banyak lagi. Buah-buahan ini dibanderol mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilogram.
"Untuk akomodasi, warga setempat telah menyulap rumah mereka menjadi homestay dengan tarif merakyat, yakni hanya Rp 25.000 per malam per orang," tutur dia.
Namun di balik pesona wisata dan melimpahnya potensi ekonomi di Krayan Selatan, warga masih harus menghadapi kendala infrastruktur. Oktavianus mengungkap, hilirisasi buah-buahan dan pariwisata ini lumpuh karena ketiadaan jalan yang memadai.
"Kendalanya akses kita mau keluar nggak bisa. Kondisi jalan kita seperti ini. Kalau kita kirim ke luar lewat pesawat ya terbatas dan biayanya tinggi, nggak ada untungnya," tambahnya.
Buah durian merah. Foto: (Dok. Kecamatan Krayan Selatan) |
Bahkan, untuk mendatangkan wisatawan dari kota pun disebut sangat sulit. Antusiasme masyarakat luar daerah dan Dinas Pariwisata Kabupaten yang siap berkunjung harus terhalang oleh minimnya jadwal penerbangan.
"Penerbangan ke Krayan Selatan seminggu sekali saja, itu pun hanya untuk 7 orang. Itu kendalanya untuk mengundang tamu dari luar," cerita Oktavianus.
Saat ini, pengunjung masih didominasi oleh warga lokal dari wilayah Krayan lainnya seperti Long Bawan dan Krayan Timur. Mengingat musim buah diperkirakan mulai menyusut pada bulan April, Oktavianus berharap kegiatan wisata ini tidak sekadar menjadi ajang perayaan, tapi juga menyuarakan harapan Krayan agar mendapat perhatian pemerintah pusat.
"Harapan kita ada perhatian pemerintah. Masa pemerintah melihat kita ada potensi seperti itu ya dibiarkan. Mungkin bisa bangun sarana jalan, dibuat agregat kah, supaya bisa mendukung nilai ekonomi di perbatasan ini," harap dia.


