Ada 47 Orang Utan di Lanskap Karaitan yang Diselamatkan Sejak 2024

Ada 47 Orang Utan di Lanskap Karaitan yang Diselamatkan Sejak 2024

Riani Rahayu - detikKalimantan
Jumat, 30 Jan 2026 14:30 WIB
Foto drone hasil investigasi di Landskap Karaitan, Simpang Perdau Jalan Poros Sangatta-Bengalon. (Dokumentasi Jaringan Penulis Alam)
Foto drone hasil investigasi di Lanskap Karaitan, Simpang Perdau Jalan Poros Sangatta-Bengalon. (Dokumentasi Jaringan Penulis Alam)
Kutai Timur -

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) menyebut lanskap Karaitan di utara Sungai Sangatta dan selatan Sungai Bengalon merupakan habitat alami orang utan. Di kawasan itu diperkirakan terdapat lebih dari 500 individu, meski angka tersebut masih bersifat perkiraan kasar.

Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto mengatakan jumlah tersebut belum berdasarkan riset detail dan masih perlu penelitian lanjutan. Di sisi lain, kawasan itu juga menjadi lokasi berbagai aktivitas pembangunan ekonomi.

"Kalau kita melihat landscape Karaitan itu habitat alami orang utan, di utara Sungai Sangatta dan Bengalon di selatan. Perkiraan kasar ada lebih dari 500 individu orang utan di sana, tapi ini masih perlu penelitian lebih lanjut," ujarnya kepada detikKalimantan, Jumat (30/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut meski adanya pembangunan ekonomi (dalam hal ini pertambangan dan perkebunan sawit) tetap berjalan, namun aspek lingkungan tidak bisa diabaikan. Menurutnya, meningkatnya fragmentasi habitat membuat tim harus melakukan penyelamatan satwa dalam kondisi terpaksa.

Sejak 2024 hingga kini, BKSDA mencatat sudah ada 47 orang utan yang diselamatkan dari kawasan tersebut. Langkah itu diambil karena banyak individu ditemukan terisolasi hingga turun ke tepi jalan dan mencari makan di sekitar aktivitas manusia.

"Rescue itu keterpaksaan untuk menyelamatkan orang utan. Karena mereka sudah terfragmentasi, tidak bisa ke mana-mana, sampai mengemis di pinggir jalan, makan sampah dan sebagainya. Itu yang mengalahkan kita untuk mengambil keputusan penyelamatan, dan itu ada aturannya," jelasnya.

BKSDA menegaskan rescue bukan solusi utama jangka panjang. Pihaknya justru mendorong agar pembangunan dan kelestarian habitat bisa berjalan beriringan melalui penataan ruang satwa.

Ia mengatakan saat ini BKSDA bersama para pelaku usaha dan pemangku kepentingan tengah menyusun skema pencadangan area habitat dan koridor hijau penghubung antar kantong populasi.

"Kita berharap pembangunan tetap berjalan, tapi orang utan juga bisa hidup aman berdampingan. Kita sedang godok kesepakatan dengan pelaku usaha untuk mencadangkan beberapa lokasi jadi area orang utan, lalu disiapkan jalur hijau atau koridor migrasi," terangnya.

Menurut Ari, orang utan dijadikan fokus karena berperan sebagai spesies payung. Perlindungan habitatnya otomatis akan menjaga satwa lain yang ada di sana juga, seperti beruang madu dan macan dahan.

"Orang utan ini umbrella species. Kalau kita menjaga habitat orang utan, satwa lain juga ikut terjaga. Itu yang kita dorong jadi area preservasi, meskipun berada di luar kawasan konservasi," tegasnya.

Selain 47 individu yang sudah diselamatkan, BKSDA juga telah mengidentifikasi sedikitnya 12 orang utan lain yang berpotensi segera di-rescue. Namun pelaksanaannya masih menunggu perkembangan kondisi di lapangan.

"Jumlah ke depan belum bisa dipastikan. Kita lihat situasi orang utannya dan kondisi pembukaan lahannya. Kalau memang harus segera diselamatkan, pasti kita lakukan," pungkasnya.



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads