Gajah adalah salah satu hewan dengan tubuh raksasa dan bobot berton-ton, bahkan dikenal sebagai mamalia darat terbesar. Tapi tahukah detikers, di Indonesia justru hidup gajah dengan ukuran paling kecil di dunia?
Di hutan Kalimantan, ada satu subspesies gajah yang ukurannya jauh lebih mungil dibanding kerabatnya di Asia, hingga membuatnya masuk Guinness World Records.
Gajah tersebut adalah gajah mini Kalimantan atau Borneo pygmy elephant (Elephas maximus borneensis). Hewan ini secara resmi tercatat sebagai gajah terkecil di dunia!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Guinness World Records, gajah mini Kalimantan merupakan subspesies yang sekitar 30% lebih kecil dibanding gajah Asia lainnya. Pada catatan di tahun 2003, gajah dewasa jantan tingginya mencapai 1,7-2,6 meter, sedangkan betina berukuran 1,5-2,2 meter. Rata-rata berat tubuh mereka pun hanya berkisar 2.500 kg.
Penobatan ini menempatkan Borneo pygmy sebagai subspesies gajah Asia terkecil yang diakui dunia, selain tiga subspesies gajah Asia lainnya, yaitu gajah India, gajah Sri Lanka, dan gajah Sumatra.
Ciri Khas Gajah Mini Kalimantan
Gajah mini Kalimantan memiliki bentuk tubuh yang unik dibanding subspesies lain. Meskipun disebut mini oleh Guinness World Records, gajah ini tetaplah menjadi mamalia darat terbesar di habitatnya. Beberapa ciri khasnya adalah:
- Ukuran lebih kecil, di mana rata-rata ukuran tubuhnya lebih pendek dibanding gajah Asia lain, hanya berkisar antara 1,7-2,2 meter. Sementara gajah pada umumnya memiliki tinggi hingga 3 meter
- Telinga besar dan ekor panjang yang sering kali hampir menyentuh tanah
- Gading relatif lebih lurus dibandingkan gading yang lengkung khas gajah Asia lain
- Tubuhnya lebih bulat dan "padat", dengan kaki yang pendek
Gajah yang satu ini secara umum tetap memiliki struktur tubuh mirip gajah lainnya, hanya saja tubuhnya lebih kerdil. Seperti yang dikutip dari WWF, ukuran tubuh ini adalah bentuk evolusi akibat isolasi di Pulau Borneo.
Jenis hutan tropis Borneo yang lebat, dengan rawa-rawa, dan perbedaan komposisi pakan diyakini mendorong terbentuknya adaptasi biologis ini.
Sebaran dan Populasi Gajah Mini Kalimantan
Gajah kerdil Kalimantan hanya ditemukan di bagian utara pulau Borneo, khususnya di kawasan Sabah (Malaysia) dan wilayah Kalimantan Utara (Indonesia).
Kawanan gajah ini hidup di hutan tropis dataran rendah yang tersisa di pulau Borneo, termasuk kawasan The Heart of Borneo, yaitu area jantung Borneo lintas negara yang melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Brunei.
Populasi gajah mini di Borneo cukup terbatas. Di Sabah, jumlahnya diperkirakan mencapai ribuan individu, tetapi di Indonesia populasinya jauh lebih kecil, diperkirakan hanya puluhan ekor pada beberapa kawasan tertentu.
Pada 2025 lalu, gajah mini Kalimantan masih terlihat beraktivitas di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia. Gabungan Pemuda Pecinta Alam Kabupaten Nunukan (Gapetah Borneo) melaporkan jumlahnya yang hanya berkisar 8-13 ekor berdasarkan pengamatan.
Asal Usul Gajah Mini Kalimantan
Close up of Bornean elephant (Elephaa maximus borneensis) Borneo / Bornean Pygmy Elephant. (WWF Indonesia) Foto: Bornean Pygmy Elephant. (WWF Indonesia) |
Selama bertahun-tahun, asal-usul gajah yang hidup di Kalimantan sempat menuai berbagai spekulasi. Salah satu anggapan yang cukup populer menyebutkan bahwa gajah-gajah tersebut bukan fauna asli Kalimantan, melainkan dibawa sekitar abad ke-17 sebagai bagian dari politik Kesultanan Sulu.
Seiring dengan perkembangan riset di bidang genetika, justru bisa membantah pemahaman tersebut. Sejumlah penelitian berbasis analisis DNA mengungkap bahwa gajah kerdil Kalimantan (Elephas maximus borneensis) memiliki profil genetik yang berbeda dari gajah Asia lain, baik yang hidup di Sumatra maupun di daratan Asia.
Fernando dkk dalam penelitiannya yang berjudul "DNA Analysis Indicates That Asian Elephants Are Native to Borneo and Are Therefore a High Priority for Conservation" menemukan bahwa populasi gajah Borneo telah mengalami isolasi genetik dalam jangka waktu yang sangat panjang, jauh sebelum ditemukannya aktivitas manusia di wilayah ini.
Temuan tersebut memperkuat kesimpulan bahwa gajah Kalimantan bukan hasil introduksi buatan, tetapi memang populasi alami yang telah menetap dan berkembang di Pulau Borneo selama ratusan ribu tahun.
Status Konservasi dan Ancaman
Walaupun mendapat pengakuan dunia sebagai gajah terkecil, nasib Borneo pygmy jauh dari kata baik. Subspesies ini diklasifikasikan Endangered (Terancam Punah) dalam daftar merah IUCN karena:
- Hilangan habitat akibat deforestasi
- Fragmentasi hutan, yang menyebabkan menyempitnya area jelajah dan pasokan pakan
- Konflik manusia-gajah, karena gajah masuk ke lahan pertanian dan dibunuh untuk dijual organ tubuhnya, seperti gading.
Di Indonesia sendiri, gajah termasuk gajah kerdil Kalimantan (Elephas maximus borneensis) berstatus sebagai satwa yang dilindungi secara hukum. Perlindungan ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, yang melarang segala bentuk penangkapan, perburuan, perdagangan, serta perusakan habitat satwa dilindungi, dengan ancaman sanksi pidana dan denda.
Status tersebut juga diperkuat melalui Permen LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 yang menetapkan gajah sebagai satwa liar dilindungi di tingkat nasional. Selain itu, pemerintah juga memiliki kebijakan khusus melalui Permenhut Nomor P.44/Menhut-II/2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatra dan Gajah Kalimantan.
Melalui perlindungan hukum ini, masyarakat harus paham bahwa gajah adalah hewan yang dilindungi negara. Membunuhnya dan memperjualbelikannya adalah hal yang melanggar hukum.
Simak Video "Video: Satpam Masjid di AS Tewas Lindungi Jemaah saat Insiden Penembakan"
[Gambas:Video 20detik]
(aau/aau)

