Ini Langur Borneo, Primata Penghuni Wilayah Danau Sentarum

Ini Langur Borneo, Primata Penghuni Wilayah Danau Sentarum

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 19 Jan 2026 08:01 WIB
Lutung borneo. (Dokumentasi Borneo Nature Foundation)
Foto: Lutung borneo. (Dokumentasi Borneo Nature Foundation)
Kapuas Hulu -

Taukah detikers, Kalimantan punya lutung endemik yang kini hanya hidup di satu wilayah saja? Namanya lutung borneo atau lebih sering disebut langur borneo.

Primata ini merupakan salah satu yang paling langka dan terancam punah di dunia. Satwa endemik Kalimantan ini memiliki sebaran yang sangat terbatas, bahkan di Indonesia keberadaannya saat ini hanya tercatat secara pasti di Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat.

Langur borneo adalah bagian penting dari ekosistem hutan rawa dan hutan dataran rendah Kalimantan. Sayangnya populasi yang sangat kecil, fragmentasi habitat, serta ketergantungan pada jenis hutan tertentu, membuat spesies ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ciri-ciri Fisik Langur Borneo

Lutung atau langur borneo. (Dokumentasi Borneo Nature Foundation)Lutung atau langur borneo. (Dokumentasi Borneo Nature Foundation)

Langur borneo memiliki nama ilmiah Presbytis chrysomelas ssp. cruciger, salah satu subspesies dari kelompok lutung daun (colobine monkeys) yang terkenal sebagai primata pemakan daun. Dalam beberapa publikasi, satwa ini juga dikenal dengan beberapa sebutan, seperti Bornean banded langur dan three-colored langur.

Sebutan three-colored atau "tiga warna" merujuk pada pola bulu tubuhnya yang khas, yang membedakannya dari spesies langur lain. Secara umum, pola tiga warna pada langur borneo terdiri dari:

- Warna hitam atau cokelat gelap yang mendominasi bagian punggung dan ekor
- Warna cokelat kemerahan hingga oranye kecokelatan pada bagian samping tubuh
- Warna lebih terang keabu-abuan atau kekuningan pada bagian perut dan dada

Pola ini juga diduga berperan sebagai kamuflase alami di antara tajuk hutan yang teduh dan berlapis cahaya.

Secara morfologi, langur borneo memiliki tubuh yang relatif ramping dengan proporsi lengan dan kaki yang panjang. Bentuk tubuh ini merupakan adaptasi khas primata arboreal yang memungkinkannya bergerak lincah dari satu dahan ke dahan lain di tajuk pohon tanpa harus turun ke tanah.

Anggota geraknya yang panjang membantu langur borneo menjangkau ranting yang berjauhan serta mempertahankan stabilitas saat berpindah di kanopi hutan.

Ekor langur borneo tergolong sangat panjang dan berfungsi utama sebagai alat keseimbangan. Saat melompat atau berjalan di dahan yang sempit, ekor digunakan sebagai penyeimbang tubuh agar tidak mudah terjatuh.

Wajah langur borneo sendiri relatif kecil dengan bentuk yang khas dibandingkan primata lain di Kalimantan. Struktur wajah dan rahangnya mendukung pola makan hewan herbivor, terutama daun muda, pucuk, dan bagian tumbuhan lain yang berserat tinggi.

Taksonomi Lengkap dan Kekerabatan Langur Borneo

Secara klasifikasi, langur borneo menempati posisi sebagai berikut:

Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Order: Primates
Family: Cercopithecidae
Subfamily: Colobinae
Genus: Presbytis
Species: Presbytis chrysomelas
Subspecies: Presbytis chrysomelas ssp. cruciger

Langur borneo termasuk dalam subfamili Colobinae, yaitu kelompok primata pemakan daun (leaf-eating monkeys) yang dikenal memiliki lambung bersekat (sacculated stomach). Nah, struktur lambung inilah yang memungkinkan proses fermentasi bakteri untuk mencerna daun, pucuk, dan bagian tumbuhan berserat tinggi yang sulit dicerna oleh primata lain.

Adaptasi fisiologis ini membuat seluruh anggota Colobinae, termasuk langur borneo, sangat bergantung pada kualitas vegetasi dan kestabilan habitat hutan.

Hubungan Kekerabatan dengan Langur di Indonesia

Di Indonesia, subfamili Colobinae diwakili oleh beberapa kelompok utama, terutama genus Presbytis, Trachypithecus, dan Nasalis. Langur borneo berada dalam genus Presbytis, satu kelompok dengan beberapa langur endemik Indonesia lainnya, seperti:

- Langur Jawa (Presbytis comata)
- Langur abu (Presbytis hosei)
- Langur merah (Presbytis rubicunda)
- Langur Mentawai (Presbytis potenziani)

Secara kekerabatan, langur borneo memiliki hubungan evolusi yang cukup dekat dengan langur Jawa (Presbytis comata), karena keduanya berada dalam genus yang sama dan memiliki pola adaptasi ekologis serupa sebagai primata arboreal pemakan daun.

Namun demikian, perbedaan geografis yang sangat jauh antara Kalimantan dan Jawa menyebabkan keduanya berkembang secara terpisah dan membentuk karakter morfologi serta perilaku yang berbeda.

Langur Jawa umumnya hidup di hutan pegunungan dan hutan hujan dataran rendah Jawa bagian barat, sedangkan langur borneo sangat spesifik pada hutan rawa, hutan banjir musiman, dan hutan dataran rendah Kalimantan. Perbedaan habitat ini turut memengaruhi variasi warna bulu, ukuran tubuh, hingga strategi bertahan hidup masing-masing spesies.

Langur Borneo dan Primata Khas Kalimantan Lainnya

Jika dibandingkan dengan primata khas Kalimantan lainnya, seperti bekantan (Nasalis larvatus), langur borneo masih satu subfamili Colobinae, tapi berbeda genus.

Bekantan memiliki adaptasi unik terhadap lingkungan sungai dan mangrove, sementara langur borneo jauh lebih spesifik pada kanopi hutan dan vegetasi rawa. Perbedaan ini menunjukkan betapa beragamnya jalur evolusi primata pemakan daun di Kalimantan.

Keunikan Presbytis chrysomelas ssp. cruciger juga terletak pada sebarannya yang sangat sempit dan populasinya yang ekstrem kecil,sehingga membuatnya menjadi salah satu anggota genus Presbytis yang paling terancam punah.

Habitat Langur Borneo di Danau Sentarum

Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Foto: dok Kementerian LHK

Berbeda dengan banyak primata Kalimantan yang masih bisa dijumpai di beberapa kawasan hutan, langur borneo di Indonesia hanya diketahui hidup di Taman Nasional Danau Sentarum, seperti yang diteliti oleh Musyaffa dan Santoso dalam penelitiannya berjudul Karakteristik Habitat dan Polaroid Aktivitas Langur Borneo (Presbytis chrysomelas cruciger) di Taman Nasional Danau Sentarum.

Kawasan Danau Sentarum menyediakan kombinasi ekosistem yang nyaris sempurna bagi langur ini, antara lain:

  • Hutan rawa musiman
  • Hutan peralihan rawa-bukit
  • Hutan bukit dataran rendah
  • Struktur tajuk berlapis
  • Ketinggian sekitar 32-275 mdpl

Danau Sentarum merupakan kawasan unik berupa danau musiman yang tergenang saat musim hujan dan mengering sebagian saat kemarau. Perubahan ini menciptakan keragaman vegetasi yang sangat tinggi, sekaligus menyediakan sumber pakan alami bagi langur.

Di luar kawasan ini, habitat serupa telah banyak mengalami fragmentasi, pembukaan lahan, dan degradasi, sehingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan langur borneo.

Sebagai primata colobinae, langur borneo adalah herbivora pemakan daun, buah, dan biji. Penelitian terkait pola makan di Danau Sentarum mencatat bahwa langur borneo mengonsumsi setidaknya 27 jenis tumbuhan dari 16 famili.

Sekitar 50% makanannya berupa daun, sisanya terdiri dari buah, biji, dan bagian tumbuhan lain. Salah satu pakan pentingnya adalah buah gita susu (Willughbeia coriacea), tanaman liana yang banyak tumbuh di kawasan hutan rawa Danau Sentarum.

Pola makan ini menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap keutuhan ekosistem hutan, sehingga kerusakan vegetasi bisa langsung berdampak pada kelangsungan hidup langur borneo.

Populasi Langur Borneo Kini

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), langur borneo berstatus Critically Endangered (Kritis), status satu tingkat sebelum punah di alam liar.

Dalam penilaian terbaru IUCN, jumlah individu langur borneo yang masih bertahan di alam diperkirakan tidak lebih dari 500 ekor.

Seluruh populasi yang diketahui saat ini berada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, tanpa adanya subpopulasi lain yang terkonfirmasi di luar kawasan tersebut. Kondisi ini membuat langur borneo berada dalam situasi sangat rentan, karena satu gangguan besar saja dapat berdampak fatal bagi keseluruhan spesies.

IUCN juga menyoroti rendahnya tingkat rekrutmen populasi, yaitu minimnya individu muda yang berhasil tumbuh hingga dewasa dan menggantikan individu yang mati.

Populasi yang kecil dan terfragmentasi meningkatkan risiko perkawinan sedarah (inbreeding), yang pada akhirnya dapat menurunkan daya tahan genetik dan kemampuan adaptasi spesies terhadap perubahan lingkungan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads