Sistem rehabilitasi orang utan di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) terdiri dari beberapa tahapan berjenjang. Tahapan 'sekolah hutan' ini merupakan proses krusial bagi satwa endemik Kalimantan tersebut untuk mempelajari keterampilan dasar agar bisa kembali hidup liar secara mandiri di habitat aslinya.
CEO BOSF, Jamartin Sihite, menjelaskan bahwa jenjang pendidikan orang utan ini diibaratkan seperti jenjang pendidikan pada manusia. Setiap tahap memiliki peranan penting dalam membentuk kemandirian mereka.
"Setelah baby school mereka masuk forest school seperti SD sampai SMA, lalu ke pulau pra-pelepasliaran seperti universitas sebelum dilepasliarkan," jelas Jamartin, Kamis (4/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada jenjang tertinggi atau tahap pra-pelepasliaran, orang utan sudah dilatih untuk benar-benar mandiri di lingkungan yang menyerupai habitat asli tanpa ketergantungan pada manusia.
"Di pulau itu mereka belajar hidup sendiri, mencari makan, membuat sarang, dan mengenali ancaman tanpa bantuan manusia," ujarnya.
Materi Pelajaran di Sekolah Hutan
Istilah 'sekolah' bagi orang utan bukan sekadar penyebutan simbolik, melainkan tempat mereka benar-benar diajarkan keterampilan dasar untuk bertahan hidup Jamartin menegaskan bahwa materi pelajaran mencakup kemampuan paling dasar yang wajib dimiliki di alam liar.
"Orang utan itu belajar membuat sarang, belajar mencari makan, dan keterampilan lain yang mereka butuhkan di alam liar. Jadi yang dipindahkan itu sekolahnya, bukan sekadar orangutannya," ujar Jamartin.
Selama proses pembelajaran di sekolah hutan, orang utan didampingi oleh pengasuh atau babysitter.
"Biasanya satu babysitter menangani dua sampai tiga orang utan. Mereka diawasi saat belajar memanjat, mencari makan, dan lainnya," ungkap Jamartin.
Meski nantinya sudah dinyatakan lulus dan dilepasliarkan, pihak BOSF tetap melakukan pemantauan untuk memastikan kemampuan bertahan hidup mereka berjalan baik.
"Setelah dilepasliarkan tetap kami pantau. Sama seperti manusia, tidak semua teori langsung bisa diterapkan di lapangan," pungkasnya.
Seluruh proses pembelajaran ini dilakukan dengan pengawasan ketat namun tetap membatasi interaksi dengan manusia agar mereka tidak kehilangan sifat liarnya.
"Kami tidak bisa terlalu mengekspos karena mereka harus dijauhkan dari manusia. Mereka tidak boleh menganggap manusia sebagai teman," tegasnya.
Video Viral Orang Utan Naik Bus
Sebelumnya, viral sebuah video terkait sekelompok orang utan yang tampak sedang naik bus. Jamartin memberikan penjelasan bahwa momen tersebut merupakan bagian dari proses rehabilitasi saat mereka harus berpindah ke 'sekolah hutan' yang baru di Nyaru Menteng, Palangka Raya.
"Pelajarannya tetap sama, hanya tempatnya yang pindah. Kalau ibarat manusia, seperti gedung sekolah lama diganti yang baru," kata dia.
Pemindahan dilakukan menggunakan bus karena jumlah individu yang cukup banyak, yakni lebih dari 10 individu dengan rentang usia sekitar satu hingga empat tahun.
"Kalau satu per satu itu sulit. Jadi mereka kami masukkan ke dalam bus bersama pengasuh dan petugas pendamping," jelasnya.
Video tersebut diketahui merupakan dokumentasi beberapa bulan lalu dan saat ini mereka sudah berada di sekolah yang baru.
(bai/bai)
