Siti Masih Kritis Usai Dibakar Mantan Suami, Perwakilan Keluarga Buka Suara

Siti Masih Kritis Usai Dibakar Mantan Suami, Perwakilan Keluarga Buka Suara

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 19 Jun 2026 15:00 WIB
Begini Kondisi Terkini Siti Juhairiyah di ICU RS Hanau Masih Kritis
Siti Juhairiyah di ICU RS Hanau/Foto: Istimewa (dok RS Hanau)
Kotawaringin Barat -

Siti Juhairiyah (30) merupakan korban pembakaran yang diduga dilakukan mantan suaminya. Perwakilan keluarga akhirnya angkat bicara.

Sepekan setelah peristiwa tragis itu terjadi di Desa Karang Mulya, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat, kondisi korban masih kritis. Siti dengan luka bakar 80 persen, hingga kini menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Hanau, Kabupaten Seruyan. Di balik pintu ruang ICU, keluarga hanya bisa berharap keajaiban.

Feri (40), perwakilan keluarga Siti yang selama ini mendampingi dari luar ruang ICU, mengungkapkan pada awal-awal setelah kejadian, Siti masih sempat memberikan respons. Meski tak mampu berbicara. Gerakan tubuh yang lemah dan air mata yang mengalir menjadi tanda bahwa ia masih merasakan keadaan di sekelilingnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah itu dokter mengambil langkah agar korban tidak merasakan sakit yang luar biasa akibat luka bakarnya, sehingga dokter memberikan obat penenang," ujar Feri, Jumat (19/6/2026).

Menurut Feri, tim medis terus berupaya maksimal menyelamatkan nyawa korban. Sejumlah tindakan medis telah dilakukan, termasuk operasi pembersihan jaringan luka bakar serta penggantian perban di bagian wajah dan tubuh yang mengalami luka parah.

Feri menjelaskan dirinya bukan keluarga kandung korban. Namun karena Siti telah bekerja lebih dari satu tahun di kedai milik adiknya dan tidak memiliki sanak saudara di Kotawaringin Barat, ia memilih untuk mendampingi korban selama menjalani perawatan.

Persoalan biaya pengobatan sempat menjadi kekhawatiran lantaran tidak seluruh tindakan medis dapat ditanggung BPJS. Kondisi tersebut membuat Feri meminta bantuan kepada Wakil Ketua II DPRD Kotawaringin Barat, Sri Lestari.

Upaya itu membuahkan hasil. Melalui koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, seluruh biaya pengobatan korban akhirnya dipastikan ditanggung oleh Pemprov Kalteng.

"Alhamdulillah kami mendapat kabar langsung dari Direktur RSUD Hanau bahwa biaya pengobatan ditanggung Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Kami sangat bersyukur karena banyak pihak yang peduli dan membantu, termasuk Dinas Sosial yang juga datang menanyakan kebutuhan korban," katanya.

Sementara itu, keluarga di kampung halaman berharap Siti dapat dirujuk ke Lombok NTB untuk menjalani pengobatan lebih dekat dengan keluarganya. Namun hingga kini kondisi korban masih belum memungkinkan untuk dipindahkan.

Di tengah perjuangan korban melawan luka bakarnya, keluarga juga mendesak aparat penegak hukum segera menangkap pelaku dan menjatuhkan hukuman setimpal. Feri menuturkan berdasarkan keterangan saksi di lokasi, aksi pembakaran berlangsung sangat cepat. Pelaku disebut datang secara tiba-tiba, memukul kepala korban menggunakan kayu, kemudian menyiramkan bensin ke tubuh korban sebelum melemparkan api yang langsung membakar tubuh korban.

"Warga yang melihat tidak sempat menolong karena semuanya berlangsung begitu cepat. Sebelum kejadian itu korban juga sering mendapat ancaman dari pelaku, sehingga semua akses komunikasi dengan pelaku sudah diblokir oleh korban," ungkapnya.

Kasus ini menjadi perhatian publik. Di tengah perjuangan korban mempertahankan hidup, keluarga kini hanya berharap keadilan segera ditegakkan dan pelaku dapat segera mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Sebelumnya, Direktur Rumah Sakit Hanau, dr Atet Kurniadi, mengungkapkan kondisi Siti belum menunjukkan perkembangan signifikan dan masih berada dalam fase kritis.

"Hari ini masuk kamar operasi yang kedua untuk merawat luka kembali. Kondisi secara umum masih sama, terpasang alat bantu napas, kondisi disedasi untuk mengurangi nyeri. Sudah ada perbaikan tapi belum bisa dikatakan stabil," ujar dr Atet, Rabu (17/6/2026).

Di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Hanau, tim medis terus berjuang menyelamatkan nyawa Siti. Ia kini masih harus menggunakan alat bantu pernapasan dan berada dalam kondisi disedasi guna mengurangi rasa sakit akibat luka bakar berat yang dideritanya.

"Disedasi adalah pemberian obat untuk menurunkan tingkat kesadaran, mengurangi kecemasan, membuat rileks, atau mengurangi rasa tidak nyaman selama prosedur medis," kata dr Atet.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads