Polisi masih menyelidiki kasus meninggalnya Irfan Zaki Azizi (16), santri Pesantren Labbaik Indonesia di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap penyebab kematian santri yang sebelumnya dirawat dalam kondisi lebam-lebam itu.
Kasat Reskrim Polres Kubu Raya, Iptu Nunut Rivaldo Simanjuntak melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade mengatakan penyelidikan masih berlangsung.
Dikatakan Ade, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Kubu Raya bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) masih terus mengumpulkan berbagai keterangan serta bukti yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan oleh Unit PPA Satreskrim Polres Kubu Raya bersama KPAI dan stakeholder terkait. Saat ini kami juga masih menunggu hasil visum dari pihak rumah sakit sebagai bagian dari proses pengumpulan alat bukti," ujar Ade, Jumat (13/3/2026).
Azizi dilaporkan meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 07.40 WIB setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Polisi memastikan proses penyelidikan dilakukan secara profesional untuk mengungkap fakta sebenarnya.
"Kami berkomitmen menangani perkara ini secara transparan dan objektif agar penyebab kematian korban dapat diketahui secara jelas," tegas Ade.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak berspekulasi atau menyebarkan informasi yang belum tentu benar di media sosial.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi. Percayakan proses ini kepada kepolisian yang sedang bekerja maksimal," lanjutnya.
Sebelumnya Azizi sempat menjalani perawatan intensif setelah diduga mengalami trauma di bagian kepala. Kondisi Azizi pertama kali diketahui orang tuanya, setelah pihak pesantren mengabarkan bahwa putra mereka mengalami alergi terhadap obat parasetamol.
Mendapat kabar tersebut, keduanya segera berangkat dari Kayong Utara menuju Kubu Raya untuk memastikan kondisi anak mereka. Namun sesampainya di rumah sakit, keluarga menemukan kondisi yang berbeda dari penjelasan awal.
"Kami awalnya diberitahu anak kami alergi parasetamol. Tapi setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi," ujar Ahmad, Kamis (12/3).
Foto yang beredar memperlihatkan Azizi terbaring di ranjang perawatan dengan kedua mata bengkak hingga tertutup. Memar kehitaman terlihat jelas di sekitar mata dan pipinya, bahkan di bagian kening terdapat benjolan besar.
Melihat kondisi tersebut, keluarga menduga Azizi menjadi korban kekerasan saat berada di lingkungan pesantren. Dokter jaga di RS Bhayangkara Pontianak yang pertama menangani Azizi menyebut adanya dugaan trauma pada bagian kepala sehingga diperlukan penanganan medis lanjutan.
"Dokter mengatakan ada trauma di kepala," kata Ahmad.
Karena kondisinya dinilai serius, Azizi kemudian dirujuk ke RSU Santo Antonius Pontianak untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis bedah saraf.
Kondisi korban memerlukan penanganan intensif oleh tim medis hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat pagi sekitar pukul 07.40 WIB.
