Eksotisme Tarian Dayak Sa'ben-Tahol Hipnotis Ribuan Penonton Irau Malinau

Eksotisme Tarian Dayak Sa'ben-Tahol Hipnotis Ribuan Penonton Irau Malinau

Oktavian Balang - detikKalimantan
Kamis, 22 Okt 2026 10:38 WIB
Tarian Dayak Saben
Tarian Dayak Sa'ben/Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Malinau -

Panggung utama perayaan HUT Malinau ke-27 dan Irau ke-12 bergema oleh riuh seni tradisi lokal. Pada pelaksanaan malam kedua di Lapangan Padan Liu' Burung (PLB), kemegahan busana adat dan detak koreografi magis dari etnis Dayak Sa'ben serta Tahol sukses memikat perhatian ribuan penonton yang memadati lokasi acara.

Pantauan detikKalimantan di lokasi, ada yang tampil memukau membawa atribut kipas dari susunan bulu burung enggang bermotif kontras hitam-putih, yang melambangkan keluhuran serta identitas budaya Dayak Sa'ben. Sementara itu, penari Dayak Tahol mengenakan pakaian adat bernuansa gelap yang dipercantik lilitan manik-manik khas beraneka warna di bagian dada, serta hiasan ikat kepala berwarna kuning cerah.

Sebagai informasi, tarian dari Dayak Sa'ben mengisahkan tentang nilai gotong royong, sementara tarian dari Dayak Tahol melambangkan bentuk kegembiraan atas kemenangan tradisi berburu kepala atau mengayau di masa lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya itu, panggung Irau malam tadi turut dimeriahkan oleh perwakilan Kerukunan Keluarga Batak Malinau (KKBM) hingga Kerukunan Kawanua (Manado). Kehadiran berbagai etnis lokal dan Nusantara di atas satu panggung menciptakan potret keharmonisan dan toleransi yang begitu kental di Bumi Intimung.

Ketua Panitia Irau Malinau 2026 sekaligus Sekretaris Daerah (Sekda) Malinau, Dr. Ernes Silvanus, menyampaikan keberagaman seni budaya yang tampil pada panggung utama di Lapangan Padan Liu Burung (PLB) merupakan cerminan dari semangat persatuan dan kebhinekaan di Bumi Intimung.

"Kami memandang penting untuk memberi ruang kepada setiap etnis maupun paguyuban untuk bisa menampilkan seni budaya mereka melalui tari-tarian. Hal ini agar antar-etnis bisa saling mengenal. Ruang yang diberikan sama, durasi yang sama, untuk menampilkan karya budaya masing-masing. Inilah Indonesia yang wajib kita junjung tinggi," ujar Ernes kepada detikKalimantan, Kamis (22/10/2026).

Tarian Dayak TaholTarian Dayak Tahol/ Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan

Ernes menjelaskan, selain mempererat hubungan antar-etnis, keikutsertaan generasi muda dalam berbagai penampilan tradisi hingga perlombaan tari pesisir menjadi pilar penting penjagaan warisan budaya lokal.

"Partisipasi aktif generasi muda dalam membawakan tarian tradisi hingga perlombaan tari pesisir pada Irau kali ini menjadi garansi bahwa kebudayaan lokal tidak akan tergerus oleh zaman," ungkapnya.

Tidak hanya berfokus pada panggung kebudayaan yang inklusif, Ernes juga menekankan bahwa perhelatan Irau Malinau 2026 yang berlangsung selama 7 hari ini dirancang secara matang untuk memberi dampak ekonomi terukur bagi masyarakat setempat.

"Untuk memastikan dampak tersebut, kami bekerja sama dengan Bappeda, BPS Malinau, hingga Telkomsel untuk menghitung secara presisi perputaran uang dan trafik pengunjung yang hadir hingga penutupan acara mendatang," pungkas Ernes.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads