Perjuangan pemuda asal Borneo juga menjadi penggerak lahirnya Sumpah Pemuda. Perjuangan itu bermula dari sebuah asrama di Jakarta yang didirikan Ya' Sabran.
Asrama Bening Kalimantan namanya, didirikan Ya' Sabran untuk menampung pelajar asal Kalimantan di Jakarta. Bukan asrama biasa, di dalamnya aktivitas organisasi yang didirikan oleh pemuda-pemuda Kalimantan. Dalam buku Nasionalis di Lingkungan Aristokrat Islam Sambas, Ya' Sabran merupakan bangsawan Kerajaan Landak yang menempuh pendidikan guru di Meester Cornelis, Jatinegara.
Selama berada di Jakarta, Sabran aktif berkegiatan di Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Perguruan Rakyat bersama tokoh pergerakan, seperti Mohammad Yamin, Amir Sjarifuddin, dan Adam Malik. Dirinya juga mendirikan organisasi serta Asrama Benih Kalimantan bagi pelajar Kalimantan di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asrama Benih Kalimantan didirikan untuk membantu pelajar asal Kalimantan yang bersekolah di Jakarta. Keberadaan tempat tinggal bagi pelajar apalagi dari daerah yang jauh saat itu adalah hal yang penting.
Berdasarkan penelusuran detikKalimantan, tidak ditemukan informasi di mana lokasi tepatnya Asrama Benih Kalimantan berdiri. Namun, di tengah Jakarta, pelajar dari Kalimantan menjalani pendidikan sekaligus membangun hubungan dengan sesama perantau dan kalangan aktivis.
Salah satu tokoh yang juga disebut pernah tinggal di asrama itu adalah Pangeran Mohammad Noor (selanjutnya akan menjadi gubernur pertama Kalimantan). Mohammad Noor pernah bersekolah dan tinggal di asrama yang didirikan Ya' Sabran bersama pelajar asal Kalimantan lainnya.
Ya' Sabran dan Sumpah Pemuda
Pria bernama lengkap Ya' M. Sabran itu menjadi salah satu pemuda asal Kalimantan Barat yang disebut hadir dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Ia tidak tercatat sebagai perwakilan resmi Kalimantan Barat, tapi disebut mengikuti kongres melalui lingkungan Perkumpulan Anak Betawi (PAB).
Selain Sabran, ada Kwee Bok Kwie, wartawan kelahiran Sambas yang bekerja di surat kabar Sin Po. Kiprahnya di Sin Po membawanya menjadi salah satu perwakilan Kalimantan Barat karena gagasan keberaniannya dalam bersuara. Sumpah Pemuda dirumuskan melalui Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 di Jakarta.
Pergerakan Berlanjut di Kalimantan Barat
Setelah berjuang di Jakarta, Ya' Sabran dan rekannya, Gusti Sulung Lelanang, melanjutkan perjuangan mereka di Kalimantan Barat. Gusti Sulung Lelanang merupakan bangsawan Kerajaan Landak yang pernah bekerja sebagai guru di Batavia (Jakarta). Lelanang aktif dalam organisasi Sarekat Islam ketika berada di Jawa dan karena aktivitas politiknya itu membuat pemerintah kolonial memulangkannya ke Kalimantan Barat pada 1922.
Di Kalbar, Lelanang dan Sabran mendirikan Inheemse Nederlandsche School (INS), dengan Sabran sebagai direkturnya. Selama di Kalbar, Lelanang mengajak anak muda dan guru untuk ikut membangun Sarekat Rakyat (SR) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada tahun 1924, dirinya memimpin Sarekat Rakyat Pontianak. Melalui organisasi ini, Lelanang aktif menyebarkan gagasan politiknya dan mengkritik pemerintahan kolonial melalui surat kabar Warta Borneo, Halilintar-Hindia, dan Berani. Karena aktivitas yang membahayakan kolonial, Lelanang ditangkap dan dibuang ke Boven Digul, Papua, selama tahun 1926-1927. Pria asal Landak itu baru kembali pulang ke Kalimantan Barat pada 1938. Setelah pulang, Lelanang aktif dalam Partai Indonesia Raya (Parindra) dan Persatuan Anak Borneo (PAB).
Kisah Asrama Benih Kalimantan ini merupakan awal dari sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Barat. Dimulai dari para pemudanya, jauh di Kota Jakarta, menempuh pendidikan, membangun organisasi, menuliskan gagasan, dan terlibat dalam pergerakan kebangsaan untuk mewakili suara Kalimantan Barat.
Jejak Ya'Sabran, Gusti Lelanang, Kwee Bok Kwie, dan Pangeran Mohammad Noor menunjukkan semangat persatuan Indonesia yang dibangun melalui banyak jalur. Namun yang pasti, perjuangan itu dilakukan untuk mencapai kesatuan yang sama, bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, untuk Indonesia.
