7 Film Fiksi Berlatar Sisi Lain Peristiwa G30S/PKI

Film

7 Film Fiksi Berlatar Sisi Lain Peristiwa G30S/PKI

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Selasa, 29 Sep 2026 22:00 WIB
Film Gie
Film Gie. Foto: (dok Ist)
Balikpapan -

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) merupakan salah satu titik balik paling kelam dalam sejarah Indonesia. Sejarah ini menjadi memori kolektif dan terus diingat setiap menjelang September.

Para sineas pun mencoba merekam dan merekonstruksi sisi lain peristiwa, baik terkait politik, kemanusiaan, hingga dampak sosial dari gejolak tahun 1965 tersebut. Tak cuma dari dalam negeri, ada juga film produksi dari Barat.

Berikut adalah 7 film yang berlatar belakang serta berkaitan erat dengan tragedi 1965, lengkap dengan sinopsis hingga daftar kru dan pemainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. The Year of Living Dangerously (1982)

Film The Year of Living Dangerously (1982). (Istimewa)Film The Year of Living Dangerously (1982). (Istimewa)

Kisah berpusat pada seorang jurnalis muda asal Australia, Guy Hamilton (Mel Gibson), yang tiba di Jakarta pada tahun 1965 untuk mengemban tugas luar negeri pertamanya. Guy dibantu oleh Billy Kwan (Linda Hunt), seorang fotografer keturunan Tionghoa-Australia yang memiliki jaringan sangat luas.

Billy dikenalkan dengan Jill Bryant (Sigourney Weaver), asisten Kedutaan Besar Inggris, dan hubungan mereka berkembang menjadi romansa intens. Jill bahkan membocorkan rahasia diplomatik mengenai pengiriman senjata rahasia dari komunis Tiongkok untuk mempersenjatai PKI.

Ketika peristiwa G30S pecah, Guy sempat diserang militer hingga matanya terluka parah saat mendekati Istana Presiden. Dia akhirnya memutuskan meninggalkan ambisi kariernya demi menyusul Jill ke bandara dan melarikan diri dari Indonesia.

Kru dan Pemain

  • Sutradara: Peter Weir
  • Penulis Skenario: Peter Weir, David Williamson, dan C.J. Koch (berdasarkan novel karya C.J. Koch)
  • Produser: Freddie Fields, Jim McElroy, dan Hal McElroy
  • Pemain: Mel Gibson (sebagai Guy Hamilton), Sigourney Weaver (sebagai Jill Bryant), Linda Hunt (sebagai Billy Kwan), Michael Murphy (sebagai Pete Curtis), serta Bill Kerr (sebagai Kolonel Henderson).

2. Puisi Tak Terkuburkan (2000)

Film Puisi Tak Terkuburkan (2000). (dok Ist)Film Puisi Tak Terkuburkan (2000). (dok Ist)

Film drama-dokumenter hitam-putih ini mengangkat kisah nyata penyair didong asal Gayo, Ibrahim Kadir (memerankan dirinya sendiri). Ceritanya, dia ditangkap tanpa alasan jelas saat kekacauan politik 1965 meluas ke Aceh.

Dia dijebloskan ke Penjara Takengon bersama orang-orang yang dituduh sebagai anggota atau simpatisan PKI tanpa proses interogasi maupun peradilan yang adil. Ibrahim hidup dalam teror psikologis selama 22 hari karena menyaksikan rekan-rekan sesama tahanan dipanggil setiap malam untuk dieksekusi mati.

Di tengah ketiadaan hukum dan maraknya penangkapan massal serampangan terhadap warga sipil serta seniman pasca-1965, Ibrahim bersama para tahanan melantunkan syair tradisional didong sebagai cara menjaga kewarasan dan bentuk protes, hingga ia akhirnya dibebaskan setelah terbukti menjadi korban salah tangkap.

Kru dan Pemain

  • Sutradara & Produser: Garin Nugroho
  • Penulis Naskah: Nana Mulyana dan Garin Nugroho
  • Rumah Produksi: SET Film Workshop
  • Pemain: Ibrahim Kadir, José Rizal Manua, Berliana Febryanti, Ella Gayo, Fuad Idris, El Manik, Pitrajaya Burnama, Amak Baldjun, serta Aty Cancer.

3. Gie (2005)

Alur cerita berfokus pada perjalanan hidup dan pemikiran kritis Soe Hok Gie yang diperankan Nicholas Saputra dan Jonathan Mulia (versi muda). Dia adalah aktivis mahasiswa Universitas Indonesia yang vokal menentang rezim Orde Lama.

Pasca-30 September 1965, suasana berubah mencekam dengan berlakunya jam malam dan penangkapan massal tanpa pengadilan terhadap orang-orang yang dituduh komunis, termasuk hilangnya sahabat masa kecil Gie yang berhaluan kiri, Tan Tjin Han (Thomas Nawilis).

Setelah pergantian kekuasaan ke Orde Baru, Gie mengalami krisis batin mendalam karena melihat pertumpahan darah dan malah melahirkan rezim militer baru yang otoriter.

Kru dan Pemain

  • Sutradara & Penulis Skenario: Riri Riza
  • Produser: Mira Lesmana
  • Penata Sinematografi: Yadi Sugandi
  • Rumah Produksi: Miles Films & Sinemart Pictures
  • Pemain: Nicholas Saputra (Soe Hok Gie), Jonathan Mulia (Soe Hok Gie muda), Thomas Nawilis (Tan Tjin Han), Lukman Sardi (Herman Lantang), Sita Nursanti (Ira), Wulan Guritno (Sinta), Surya Saputra (Aristides Katoppo), Indra Birowo (Denny Mamoto), Donny Alamsyah (Jaka), Robby Tumewu (Soe Lie Piet), serta Tutie Kirana (Nio).

4. Sang Penari (2011)

Di desa terpencil Dukuh Paruk pada era 1960-an, Srintil (Prisia Nasution) bertekad menjadi penari ronggeng di bawah bimbingan Kertareja (Slamet Rahardjo) dan Nyai Kertareja (Dewi Irawan). Namun, ritual penobatan ronggeng membuat kekasihnya, Rasus (Oka Antara), patah hati dan memilih pergi dari desa untuk menjadi tentara.

Kepolosan warga desa dimanfaatkan oleh politisi partai kiri, Bakar (Lukman Sardi), yang menyelipkan orasi politik dalam pertunjukan seni serta mencatat nama-nama warga penerima bantuan pangan. Ketika G30S meletus, warga dianggap sebagai simpatisan komunis, hingga militer melancarkan pembersihan dan memenjarakan Srintil ke kamp tahanan politik.

Kru dan Pemain

  • Sutradara: Ifa Isfansyah
  • Produser: Shanty Harmayn
  • Penulis Skenario: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, dan Shanty Harmayn
  • Rumah Produksi: Salto Films
  • Pemain: Prisia Nasution (Srintil), Oka Antara (Rasus), Slamet Rahardjo (Kertareja), Dewi Irawan (Nyai Kertareja), Lukman Sardi (Bakar), Hendro Djarot (Sakarya), Yayu Unru (Dursamin), serta Landung Simatupang (Sersan Pujo).

5. Surat dari Praha (2016)

Surat dari PrahaSurat dari Praha. Foto: dok. kumcer Surat dari Praha

Kemala Dahayu Larasati (Julie Estelle) pergi ke Praha untuk memenuhi wasiat almarhum ibunya, Sulastri Kusumaningrum (Widyawati), guna menyampaikan kotak berisi surat-surat lama kepada Mahdi Jayasri alias Jaya (Tio Pakusadewo).

Di tempat kerja Jaya pada restoran milik Dewa (Rio Dewanto), terungkap fakta bahwa Jaya adalah mantan Mahasiswa Ikatan Dinas (MAHID) yang dikirim Presiden Soekarno pada awal 1960-an.

Pasca-meletusnya G30S, Jaya menolak menandatangani surat kesetiaan kepada rezim Orde Baru hingga membuat paspornya dicabut sepihak. Dia lantas menjadi stateless (tanpa kewarganegaraan) dan menjadi eksil politik yang terpisah puluhan tahun dari tanah air serta kekasihnya.

Kru dan Pemain

  • Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
  • Penulis Naskah: M. Irfan Ramly
  • Produser: Glenn Fredly, Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono, Chicco Jerikho, dan Angga Dwimas Sasongko
  • Pemain: Julie Estelle (Kemala Dahayu Larasati), Tio Pakusadewo (Mahdi Jayasri / Jaya), Widyawati (Sulastri Kusumaningrum), Rio Dewanto (Dewa), Chicco Jerikho (Mantan suami Larasati), Jajang C. Noer (Widya), serta Shafira Umm.

6. Kupu-Kupu Kertas (2024)

Berlatar di Banyuwangi pada tahun 1965, film ini mengisahkan jalinan asmara antara Ning (Amanda Manopo), putri dari pimpinan simpatisan PKI Rekoso (Iwa K), dan Ihsan (Chicco Kurniawan) yang berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU).

Situasi sosial yang memanas akibat sengketa lahan dan kontras ideologi memuncak saat kelompok PKI diprovokasi oleh Busok (Reza Arap) untuk menyerang dan membunuh kakak Ihsan beserta puluhan anggota GP Ansor.

Terinspirasi dari rekonstruksi tragedi Cemetuk 18 Oktober 1965 dan serangan balasan Operasi Gagak Hitam, Ihsan berada dalam dilema emosional mendalam antara menuntut dendam atas kematian keluarganya atau menyelamatkan nyawa Ning di tengah aksi pembalasan massa yang brutal.

Kru dan Pemain

  • Sutradara: Emil Heradi
  • Produser: Denny Siregar dan Yoen K.
  • Penulis Naskah: Rahabi Mandra dan Jocelyn Cordelia
  • Rumah Produksi: Denny Siregar Production & Maxima Pictures
  • Pemain: Amanda Manopo (Ning), Chicco Kurniawan (Ihsan), Iwa K. (Rekoso), Reza Oktovian / Reza Arap (Busok), Samo Rafael (Rasyid), Fajar Nugra (Zul), Ayu Laksmi (Sulastri), serta Seroja Hafiedz (Aida).

7. Lobang Buaya (2026)

Lobang Buaya (2026).Lobang Buaya (2026). Foto: Dok. Ist

Mengambil latar tahun 1964 di Desa Lobang Buaya atau setahun sebelum tragedi nasional, kisah bermula ketika Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) ditugaskan menginvestigasi pembunuhan berantai misterius terhadap pejabat desa korup yang tewas setiap tanggal 30 dengan kondisi tubuh berlubang.

Di tengah hambatan intrik elit lokal serta teror gaib yang menyerang istrinya, Soegeng mengungkap bahwa teror tersebut merupakan bagian dari ritual gelap. Hal ini dikaitkan dengan cerita '7 Setan Desa' yang berkembang saat itu.

Kru dan Pemain

  • Sutradara: Hanung Bramantyo
  • Penulis Skenario: Haqi Achmad dan Hanung Bramantyo
  • Produser: Shierly Kosasih
  • Penata Sinematografi: Suadi Utama
  • Pemain: Baskara Mahendra (Letnan Soegeng), Carissa Perusset (Arum Wangi), Khiva Iskak (Suradi), Anya Zen (Ningsih), serta Mathias Muchus (Sukarya).
Halaman 2 dari 2
(bai/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads