Mengenal Wayang Gung, Pesona Seni Pertunjukan dari Banjar

Mengenal Wayang Gung, Pesona Seni Pertunjukan dari Banjar

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Senin, 21 Sep 2026 11:40 WIB
Wayang Gung, pertunjukan seni wayang orang dari Banjar. (dok Indonesia Travel))
Foto: Wayang Gung, pertunjukan seni wayang orang dari Banjar. (dok Indonesia Travel))
Banjarmasin -

Wayang Gung merupakan seni pertunjukan tradisional kebanggaan masyarakat Banjar. Kesenian ini memadukan unsur tari, olah vokal, alunan gamelan, dan epik Ramayana ke dalam sebuah identitas budaya yang sangat khas.

Sebagai Warisan Budaya Takbenda yang sarat akan makna, kesenian ini tidak hanya menyuguhkan hiburan panggung berstruktur unik dengan balutan kostum memukau, tetapi juga mewariskan nilai edukasi, pesan filosofis, hingga fungsi ritual yang melekat pada kehidupan masyarakat.

Asal Usul Wayang Gung

Dikutip dari buku Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2018 dari Kemdikbud. Wayang Gung merupakan seni pertunjukan tradisional sejenis wayang orang yang mengangkat cerita pakem Ramayana versi masyarakat Banjar. Kesenian ini secara resmi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2017 melalui Surat Keputusan nomor 260/M/2017.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara historis, lahirnya kesenian ini tidak lepas dari pengaruh Wayang Orang Jawa yang kemudian diadaptasi secara khusus oleh masyarakat lokal. Meskipun tampak serupa, Wayang Gung memiliki ciri khas tersendiri pada tabuhan gamelan, tata busana, gerak tari, bahasa pengantar, dan struktur panggungnya.

Aktor dan Elemen Pementasan

Berdasarkan situs Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, dijelaskan setiap pementasan Wayang Gung melibatkan kelompok pemain panggung bernama pawayanggongan yang berjumlah sekitar sepuluh hingga dua belas orang. Selain itu, pementasan ini juga didukung secara penuh oleh kelompok panggamelan yang berisi sepuluh hingga sebelas orang penabuh alat musik tradisional.

Para pelakon dalam pertunjukan ini bersifat sangat khusus karena setiap tokoh hanya diperankan oleh seniman yang benar-benar menjiwai karakternya. Para pemain profesional ini bahkan sanggup memainkan lakon dadakan tanpa latihan panjang karena mereka percaya adanya bimbingan dari kekuatan magis.

Karakter setiap tokoh sangat mudah dikenali melalui pembagian kostum yang meliputi hiasan kepala, baju utama, dan celana bawahan. Penampilan para aktor juga disempurnakan dengan aksesoris pendukung seperti gelang, kumis buatan, kalung logam, hiasan telinga, hingga giring-giring di bagian kaki.

Pementasan budaya Wayang Gung ini menjadi semakin memukau dan hidup berkat paduan olah vokal para pemain dengan gerak tarinya. Gerakan tari yang menyatu secara apik dengan irama gamelan dan ketopong tersebut selalu sukses memancing stimulus imajinasi para penontonnya.

Wayang Gung, pertunjukan seni wayang orang dari Banjar. (dok Media Center Provinsi Kalsel)Wayang Gung, pertunjukan seni wayang orang dari Banjar. (dok Media Center Provinsi Kalsel)

Struktur Pagelaran

Pertunjukan yang biasanya dimainkan semalam suntuk ini memiliki tata aturan pementasan yang telah diatur secara rapi. Pagelaran selalu diawali dengan alunan gamelan lasam, disusul masuknya Dalang Utusan, Dalang Pengambiran, dan Dalang Sejati ke arena panggung.

Pertunjukan utama selalu dibagi ke dalam empat babak berurutan yang dimulai dengan prosesi pembukaan bernama babak mamucukani. Pada babak awal ini, ketiga dalang akan menembang dan berdialog untuk menyampaikan jalan cerita sekaligus memanggil roh gaib pembimbing lakon.

Setelah pembukaan selesai, lakon dilanjutkan ke babak sidang jajar yang menampilkan pertemuan para satria untuk membahas permasalahan dalam kerajaan. Alur cerita kemudian akan semakin memanas saat pertunjukan memasuki babak konflik yang menampilkan pertempuran sengit melawan tokoh-tokoh jahat.

Rangkaian konflik dalam pementasan ini pada akhirnya akan diselesaikan melalui sebuah babak antiklimaks yang dikenal dengan istilah bapacah. Babak terakhir ini selalu menyuguhkan akhir cerita yang bahagia sebagai simbol kemenangan mutlak bagi pihak yang berbuat kebaikan.

Fungsi Kesenian di Tengah Masyarakat

Sejak zaman dahulu, Wayang Gung sangat diminati sebagai hiburan dalam acara maulid, hajatan, perayaan perkawinan, hingga hari besar nasional. Di balik sifatnya yang sangat menghibur, pertunjukan ini juga bertindak sebagai media didaktis untuk menyampaikan nilai filosofis kehidupan bagi masyarakat Banjar.

Di luar urusan kemasyarakatan duniawi, kesenian tradisional ini ternyata juga memiliki fungsi spiritual yang berkaitan erat dengan ritual magis. Masyarakat Banjar kerap menyelenggarakan pagelaran ini untuk sekadar membayar nazar pasca panen atau bahkan sebagai sarana spiritual menolak wabah penyakit.

Halaman 2 dari 2
(bai/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads