Mengenal Tiang Ayu dalam Upacara Erau Kutai

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 08 Sep 2026 22:00 WIB
Foto: Prosesi mendirikan Tiang Ayu pada rangkaian Erau 2019. (dok DPRD Kab Kutai Kartanegara)
Kutai Kartanegara -

Festival Adat Erau yang diselenggarakan setiap tahun di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur punya banyak rangkaian kegiatan yang dilaksanakan lebih dari seminggu lamanya. Salah satu prosesi yang terkenal adalah Belimbur sebagai acara puncak yang dilakukan sangat meriah. Namun, ada satu benda dan prosesi yang posisinya sangat penting dalam pelaksanaan Erau.

Tiang Ayu namanya, yang punya tempat spesial dalam tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Tiang Ayu dikaitkan dengan sebuah pusaka bernama Sangkoh Piatu yang dipercaya merupakan senjata milik Aji Batara Agung Dewa Sakti, raja pertama Kutai Kartanegara.

Bentuk Tiang Ayu

Pusaka tersebut bersama Tiang Ayu didirikan untuk memulai rangkaian adat Erau dan kemudian kembali direbahkan pada akhir upacara. Dilansir laman Museum Mulawarman, Tiang Ayu juga disebut Ayu, Pinang Ayu, atau Rebak Ayu. Benda ini adalah tombak pusaka yang diselipkan di kain berwarna kuning sebagai lambang kerahayuan atau keselamatan dan ketrentaman.

Pusaka yang dikaitkan dengan Tiang Ayu tersebut bernama Sangkoh Piatu, panjangnya mencapai 2 meter. Konon, Sangkoh Piatu adalah senjata raja pertama Kutai Kartanegara.

Hiasan di Tiang Ayu

Sangkoh Piatu dan Tiang Ayu tidak berdiri sendirian. Ada sejumlah benda di sekeliling Tiang Ayu yang memiliki fungsi dan makna berbeda.

Pada bagian pusaka terdapat Tali Juwita dan kain Cinde. Tali Juwita adalah tali yang terdiri atas tujuh lapis benang emas dengan beberapa cincin, sedangkan Cinde dililitkan langsung ke Tiang Ayu.

Ada pula janur kuning, daun sirih, dan buah pinang yang melengkapi ritual. Benda-benda ini dimasukkan ke dalam kain kuning dan diikat pada Tiang Ayu.

Saat pelaksanaan ritual, Tiang Ayu juga ditempatkan di atas kasur berwarna kuning yang dilapisi kain kuning bermotif merah yang disebut Tapak Liman. Di bawah alas itu terdapat susunan Tambak Karang yang digambarkan dengan empat naga dan seluang mas. Di sisi Tiang Ayu juga ditempatkan pusaka lain, yaitu Gong Raden Galuh dan Batu Tijakan.

Mendirikan Tiang Ayu, Penanda Dimulainya Erau

Setelah berbagai persiapan dilakukan, tibalah prosesi Mendirikan Tiang Ayu. Upacara ini dilaksanakan di ruang Stinggil Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara, saat ini berada di kompleks Museum Mulawarman, Tenggarong.

Prosesi diawali setelah Sultan memasuki ruang Stinggil. Para dewa dan belian menjalankan bagian ritualnya, kemudian beberapa anggota keluarga dan kerabat Kesultanan mengangkat Tiang Ayu dari posisi semula dan menempatkannya pada penyangga. Setelah Tiang Ayu berdiri, seluruh hadirin mengikuti doa.

Dalam penjelasan Museum Mulawarman, sebelum ditegakkan Tiang Ayu berada dalam posisi rebah di atas alas yang telah dipersiapkan dan menghadap ke arah singgasana Sultan. Setelah ritual besawai dilakukan, keluarga keraton mengangkat pusaka tersebut dan meletakkannya pada penyangga.

Prosesi ini punya makna yang lebih dalam. Menurut publikasi berjudul Fungsi Simbolik Perayaan Erau di Tenggarong (Kajian Semiotika), Tiang Ayu adalah simbol pegangan hidup. Mendirikan Tiang Ayu berarti berupaya mencari atau mendirikan kerahayuan (keselamatan dan ketenteraman). Tiang ini berdiri selama rangkaian Erau berlangsung.



Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"


(sun/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork