Menhut Perkuat Gerak Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla

Kalimantan Barat

Menhut Perkuat Gerak Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Rabu, 09 Sep 2026 18:21 WIB
Menhut Raja Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Kamis (3/9/2026). (Dok Kemenhut)
Foto: Menhut Raja Antoni. (Dok Kemenhut)
Ketapang -

Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni memperkuat gerak cepat penyelamatan satwa liar yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini dilakukan bersamaan dengan upaya pemadaman api untuk mencegah dampak karhutla meluas, terutama terhadap orang utan.

Raja Juli mengatakan, karhutla tak hanya mengancam manusia. Satwa liar yang terdampak juga membutuhkan penanganan cepat, terlebih mereka tidak dapat menyampaikan kondisi kesehatan saat terpapar asap dan kebakaran. Kementerian Kehutanan bersama instansi terkait dan mitra konservasi memperkuat penanganan satwa di tengah situasi karhutla.

"Jadi sebenarnya sudah banyak kerja yang dilakukan antara Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat, Pak Kepala Dinas juga, dengan mitra-mitra ya, termasuk YIARI. Kerja sama selama ini berjalan dengan baik, namun dalam konteks karhutla ini, kita kerja samanya lebih diperkuat lagi," ujar Raja Juli usai mengunjungi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Rabu (9/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penguatan dilakukan dengan meningkatkan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat. Kendaraan patroli akan digunakan lebih banyak dan lebih sering untuk memantau keberadaan satwa yang terdampak karhutla. Masyarakat juga diminta segera melaporkan jika menemukan orang utan keluar dari hutan atau masuk ke kawasan permukiman melalui nomor call center yang telah disosialisasikan.

Raja Juli menekankan kecepatan laporan menjadi bagian penting dalam penyelamatan satwa. Sebab, semakin lama satwa yang terdampak asap tidak mendapat penanganan, risiko kondisi kesehatannya memburuk semakin besar.

"Kecepatan melaporkan dan kecepatan untuk me-rescue ini sangat penting, karena semakin lama orang utannya mengalami misalkan penyakit pernapasan ya, dari dampak karhutla, dan terlambat untuk di-treatment secara baik, nah itu akan mengakibatkan fatal," katanya.

Selain memperkuat patroli, dukungan terhadap mitra di lapangan juga ditingkatkan. Kebutuhan penanganan darurat, mulai dari pompa air, pipa hingga selang, disiapkan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan kebakaran di sekitar lokasi satwa.

Peralatan medis seperti tabung oksigen dan nebulizer juga menjadi bagian dari dukungan penanganan satwa terdampak asap. Jika kondisi krisis membutuhkan tambahan tenaga medis, Kemenhut membuka opsi menugaskan dokter hewan dari balai lain yang wilayahnya tidak terdampak karhutla.

"Jadi apinya kita usahakan padam, padamkan ya, tapi di saat bersamaan, langkah emergensi untuk rescue ini menjadi sangat penting sekali," tegas Raja Juli.

Satwa yang berhasil dievakuasi selanjutnya akan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan. Pelepasliaran dilakukan di habitat yang telah dinilai aman dari ancaman karhutla.

Raja Juli menekankan pelepasliaran dilakukan sesegera mungkin setelah satwa dinyatakan siap. Langkah tersebut untuk mencegah orang utan terlalu lama berada di kandang dan menjaga perilaku alaminya tetap terpelihara.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads