Sejarah di Balik Hari Pramuka 14 Agustus

Sejarah di Balik Hari Pramuka 14 Agustus

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 10 Agu 2026 14:00 WIB
Logo Gerakan Pramuka
Logo Gerakan Pramuka/Foto: Istimewa (dok Pramuka)
Balikpapan -

Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia memperingati Hari Pramuka setiap 14 Agustus. Setiap tahunnya, Hari Pramuka dirayakan sebagai peringatan akan perjalanan panjang pendidikan kepanduan di Indonesia.

Kegiatan kepanduan sudah berkembang sejak masa Hindia Belanda, jauh sebelum Gerakan Pramuka berdiri pada 1961. Organisasi-organisasi yang menjadi pemicu kepanduan kemudian berdiri di berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang yang berbeda, mulai dari organisasi kebangsaan, keagamaan, maupun kelompok masyarakat adat.

Berbagai organisasi itu kemudian bersatu dalam Gerakan Pramuka yang diresmikan pada 14 Agustus 1961. Selanjutnya tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pramuka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Mula Kepanduan di Indonesia

Robert Baden-Powell namanya tidak bisa dipisahkan dari sejarah kepanduan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dikutip dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, kegiatan kepanduan di Hindia Belanda mulai muncul pada awal abad ke-20.

Pada tahun 1912 telah berlangsung latihan sekelompok pandu di Batavia. Kelompok itu dikenal sebagai sabang dari Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO). Dua tahun kemudian, NPO berdiri sendiri dengan nama Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.

Saat awal berdiri, keanggotaan NIPV dikhususkan hanya bagi keturunan Belanda. Di titik ini masyarakat Indonesia kemudian mulai membentuk organisasi kepanduan sendiri. Salah satunya lahir pada 1916, yaitu Javaansche Padvinders Organisatie yang didirikan Mangkunegara VII di Solo. Organisasi ini merupakan salah satu pelopor kepanduan yang beranggotakan masyarakat asli Indonesia.

Setelah Javaansche Padvinders Organisatie, berdirilah berbagai organisasi lainnya, seperti Hizbul Wathan, Nationale Padvinderij, Syarikat Islam Afdeling Pandu, Kepanduan Bangsa Indonesia, Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie, Pandu Indonesia, Padvinders Organisatie Pasundan, Pandu Kesultanan, El-Hilaal, Pandu Ansor, Al Wathoni, Tri Darma, Kepanduan Asas Katolik Indonesia, dan Kepanduan Masehi Indonesia.

Kepanduan di Masa Pergerakan Nasional

Berkembangnya banyak organisasi kepanduan cukup menarik perhatian Robert Baden-Powell. Pada awal Desember 1934, Baden-Powell bersama istrinya, Lady Baden-Powell, dan anak-anak mereka mengunjungi kegiatan kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya.

Keterlibatan pandu dari Hindia Belanda dalam kegiatan internasional semakin terlihat saat Jambore Kepanduan Sedunia. Pada Jambore Dunia 1933 di Hungaria, terdapat delegasi dari Hindia Belanda yang hadir untuk menyaksikan kegiatan tersebut.

Pada Jambore Dunia 1937 di Belanda, Kontingen Pandu Hindia Belanda juga tercatat berpartisipasi dengan anggota yang berasal dari berbagai kelompok, termasuk pandu keturunan Belanda, Indonesia, Pandu Mangkunegaran, dan pandu keturunan Tionghoa dan Arab.

Di dalam negeri, salah satu kegiatan besar saat itu adalah All Indonesian Jamboree atau Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 19-23 Juli 1941. Pertumbuhan kepanduan di Indonesia sejalan dengan kesadaran kebangsaan. Dari sini, Kwartir Nasional mencatat bahwa gerakan kepanduan turut melahirkan semangat patriotisme di kalangan pemuda.

Lahirnya Gerakan Pramuka

Setelah Indonesia merdeka, persoalan utama kepanduan ada pada bagaimana menyatukan berbagai kelompok kepanduan dari latar belakang yang berbeda. Upaya itu diwujudkan melalui Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia yang berlangsung di Surakarta pada 27-29 Desember 1945. Dari kongres itu terbentuklah Pandu Rakyat Indonesia sebagai organisasi kepanduan resmi di Indonesia.

Sayangnya situasi politik dan keamanan setelah kemerdekaan membuat perkembangan tersebut tidak berjalan mulus. Ketika Belanda kembali melakukan agresi militer pada 1948, Pandu Rakyat Indonesia dilarang berdiri di wilayah-wilayah yang berada di bawah pendudukan Belanda.

Kondisi tersebut kemudian ikut mendorong munculnya organisasi kepanduan lain, antara lain Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM). Jumlah organisasi kepanduan di Indonesia pun menjamur.

Kwartir Nasional dalam laporannya mencatat sekitar 100 organisasi yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo). Banyaknya organisasi tersebut justru menimbulkan persoalan baru karena terdapat perbedaan golongan dan kepentingan yang membuat gerakan kepanduan nasional kurang kuat sebagai satu kesatuan.

Kondisi inilah yang kemudian mendorong Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX menggagas penyatuan berbagai organisasi kepanduan dalam satu gerakan nasional.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui serangkaian proses pada 1961. Presiden Soekarno menunjuk sebuah panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono untuk mempersiapkan pembentukan organisasi kepanduan baru.

Pada 9 Maret 1961, nama Pramuka mulai diperkenalkan dan diperingati sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka. Selanjutnya, pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka pada 20 Mei 1961.

Tahapan penyatuan berlanjut pada 20 Juli 1961. Para wakil organisasi kepanduan Indonesia menyatakan ikrar untuk meleburkan diri ke dalam Gerakan Pramuka. Momentum ini kemudian dikenal sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka.

Hari Pramuka Diperingati Setiap 14 Agustus

Walaupun sudah digagas sebelumnya, tetapi puncak proses pembentukan Gerakan Pramuka terjadi pada 14 Agustus 1961. Di hari itu, Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat dalam sebuah upacara di halaman Istana Negara Jakarta.

Dalam upacara tersebut, Presiden Soekarno menganugerahkan Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional Indonesia kepada Gerakan Pramuka. Panji tersebut kemudian diserahterimakan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menjadi Ketua pertama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Penganugerahan panji juga memiliki dasar hukum, yaitu Keputusan Presiden Nomor 448 Tahun 1961 tanggal 14 Agustus 1961. Kwartir Nasional menjelaskan bahwa tanggal 14 Agustus kemudian diperingati sebagai Hari Pramuka karena pada tanggal tersebut pemerintah menganugerahkan Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional kepada Gerakan Pramuka.

Gerakan Pramuka merupakan organisasi yang menyelenggarakan pendidikan kepramukaan di Indonesia. Nama Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang berarti orang muda yang suka berkarya.

Demikian sejarah Hari Pramuka yang diperingati setiap 14 Agustus. Semoga bisa menambah wawasan detikers!

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Worth to Know: Sejarah Masuknya Pramuka ke Indonesia"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads