Tiang Bukan Sembarang Tiang, Tiang Sangga Buana Namanya

Tiang Bukan Sembarang Tiang, Tiang Sangga Buana Namanya

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 30 Jul 2026 11:11 WIB
Lokasi Tiang Sangga Buana. Tiang ini merupakan tonggak awal berdirinya Kota Pangkalan Bun. Tiang ini roboh dan tak dipasang kembali di area Istana Kuning pada 2022, hanya tersisa tiang bagian bawah saja
Tiang Sangga Buana yang tinggal tersisa bagian bawahnya saja/Foto: Istimewa
Kotawaringin Barat -

Di balik megahnya Istana Kuning di Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, berdiri sebuah tiang utama yang tak sekadar menopang bangunan. Tiang Sangga Buana menjadi simbol yang menyimpan filosofi kepemimpinan, persatuan, dan keseimbangan yang diwariskan sejak masa Kesultanan Kutaringin.

Bagi masyarakat, Sangga Buana bukan hanya bagian dari konstruksi istana. Tiang ini diyakini sebagai lambang penyangga kehidupan dan kekuatan kerajaan, sekaligus pengingat bahwa seorang pemimpin harus mampu menjadi sandaran bagi rakyatnya.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kotawaringin Barat, Rona Nirmala, mengatakan Istana Kuning merupakan salah satu warisan budaya paling berharga di Kobar. Di dalamnya tersimpan berbagai nilai sejarah yang hingga kini masih relevan untuk dikenalkan kepada generasi muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tiang Sangga Buana memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Selain menjadi penyangga utama bangunan, tiang ini juga melambangkan kokohnya persatuan, kepemimpinan, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat pada masa Kesultanan Kutaringin," ujarnya, Kamis (30/7/2026).

Menurut Rona, setiap bagian Istana Kuning memiliki cerita dan makna tersendiri. Karena itu, pelestarian bangunan bersejarah tidak cukup hanya menjaga fisiknya, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya mengenalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat.

Ia menilai warisan budaya seperti Sangga Buana menjadi identitas daerah yang perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Melalui edukasi, promosi wisata sejarah, hingga kegiatan kebudayaan, pemerintah daerah berupaya menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap peninggalan leluhur.

"Generasi muda perlu mengetahui bahwa Istana Kuning bukan sekadar bangunan tua. Di dalamnya terdapat sejarah panjang, nilai budaya, dan filosofi kehidupan yang menjadi bagian dari identitas Kotawaringin Barat," katanya.

Rona berharap semakin banyak masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan wisatawan, yang datang mengunjungi Istana Kuning. Dengan mengenal sejarah secara langsung, warisan Kesultanan Kutaringin diharapkan tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Di tengah perubahan zaman, Tiang Sangga Buana masih berdiri kokoh di jantung Istana Kuning. Ia bukan hanya menyangga bangunan, tetapi juga menjadi penyangga ingatan kolektif tentang kejayaan Kesultanan Kutaringin dan nilai-nilai luhur yang terus diwariskan kepada masyarakat Kotawaringin Barat.

Konon, menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Sangga Buana merupakan tiang pertama yang ditegakkan saat pembangunan istana. Pemasangannya tidak dilakukan sembarangan. Para tetua adat dan ulama terlebih dahulu memanjatkan doa agar istana menjadi tempat yang membawa keberkahan, keamanan, dan kesejahteraan bagi rakyat serta pemimpinnya.

Nama Sangga Buana dimaknai sebagai 'penyangga dunia'. Filosofi itu menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi penopang kehidupan masyarakat, sebagaimana tiang utama menopang seluruh bangunan istana agar tetap kokoh menghadapi terpaan waktu.

Di balik kokohnya Tiang Sangga Buana, tersimpan kisah yang hingga kini masih diceritakan oleh masyarakat Kotawaringin Lama. Konon, tiang utama Istana Kuning itu pernah mengalami kerusakan hingga patah. Peristiwa tersebut membuat masyarakat dan keluarga Kesultanan merasa kehilangan salah satu simbol penting yang selama ini menjadi penyangga utama istana.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, proses penggantian tiang tidak dilakukan seperti mengganti bagian bangunan biasa. Berbagai pertimbangan adat dan budaya menyertai pemilihannya. Kayu pengganti harus memenuhi syarat tertentu agar tetap mempertahankan nilai filosofis Sangga Buana sebagai penyangga istana dan simbol kokohnya pemerintahan Kesultanan Kutaringin.

Meski tiang lama telah digantikan, makna Sangga Buana tidak pernah berubah. Bagi masyarakat, yang terpenting bukan semata-mata kayunya, melainkan nilai yang diwariskan di balik keberadaannya: keteguhan, persatuan, dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam menopang kehidupan rakyat.

Hingga kini, kisah patahnya Tiang Sangga Buana masih menjadi bagian dari cerita yang dituturkan para sesepuh dan pewaris Kesultanan Kutaringin kepada generasi muda. Cerita tersebut menjadi pengingat bahwa benda bersejarah pun memiliki perjalanan panjang yang harus dirawat agar warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads