Masyarakat pesisir Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) punya tradisi bernama Upacara Adat Nyanggar dan Babarasih Banua. Ialah ritual sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus doa bersama agar kampung halaman senantiasa diberi keselamatan, ketenteraman, dan dijauhkan dari segala bencana.
Masyarakat setempat hingga kini masih teguh menjaga warisan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun itu. Bagi masyarakat Melayu Kotawaringin, Nyanggar dan Babarasih Banua bukan sekadar agenda budaya tahunan.
Tradisi Nyanggar dan Babarasih Banua menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama, dan alam yang menjadi sumber kehidupan. Terutama, bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut dan sungai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prosesi adat biasanya diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama dan tokoh adat, dilanjutkan dengan berbagai rangkaian kegiatan budaya yang mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Barat, Rona Nirmala, mengatakan Nyanggar dan Babarasih Banua merupakan salah satu kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat Kobar, khususnya di wilayah pesisir Kumai.
"Tradisi Nyanggar dan Babarasih Banua merupakan warisan budaya yang memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya yang sangat tinggi. Ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas segala nikmat yang diberikan Tuhan sekaligus doa agar daerah kita selalu aman, damai, dan dijauhkan dari berbagai musibah," kata Rona, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat terus berupaya melestarikan tradisi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah yang juga memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata.
"Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal tradisi ini, tetapi juga bangga menjadi bagian dari budaya Kotawaringin Barat. Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama agar nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tetap hidup di tengah masyarakat," katanya.
Lebih dari sekadar ritual adat, Nyanggar dan Babarasih Banua juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi antarwarga. Masyarakat berkumpul tanpa memandang latar belakang, saling bergotong royong menyiapkan seluruh rangkaian acara hingga menikmati kebersamaan dalam suasana penuh kekeluargaan.
"Nilai-nilai inilah yang membuat tradisi tersebut tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Di saat budaya luar terus berdatangan, masyarakat Kumai tetap menjadikan Nyanggar dan Babarasih Banua sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hidup, menghormati alam, dan merawat persatuan," ujarnya.
Bagi Kotawaringin Barat, Nyanggar dan Babarasih Banua bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga wajah budaya daerah yang terus hidup. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu bertahan dari zaman ke zaman, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan kekayaan adat Melayu Kotawaringin kepada masyarakat luas.
