Seni pertunjukan masih lekat pada orang Dayak Kanayatn. Mereka masih menggunakan topeng untuk mengiringi tarian dari berbagai ritual adat.
Topeng Loncek berasal dari Kampung Loncek, sebuah kampung adat yang berada di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Melansir Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DIPERPUSIP) Kabupaten Kubu Raya, kampung ini menjadi satu-satunya wilayah di sepanjang Sungai Ambawang yang sampai sekarang masih mempertahankan tradisi Topeng Loncek.
Tetua adat di sana punya kepercayaan bahwa kampung ini merupakan kampung penjaga tujuh bukit, terdiri dari Bukit Loncek, Bukit Tangang, Bukit Buliant, Bukit Buluh, Bukit Jahanang, Bukit Ano, dan Bukit Gamok. Ketujuh bukit itu dipercaya memiliki hubungan dengan para leluhur mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi Topeng Loncek dibawa oleh leluhur Dayak Kanayatn yang bermigrasi dari wilayah Banyuke, Kabupaten Landak, menuju Kampung Loncek. Sejak saat itu, budaya topeng terus diwariskan hingga menjadi ciri khas masyarakat Dayak Kanayatn di Kubu Raya.
Nama Topeng Loncek semakin dikenal setelah direkomendasikan menjadi salah satu dari 14 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2026.
Baca juga: Mengenal Sapundu dan Sederet Larangannya |
Berawal dari Ritual Babalak
Pada awal kemunculannya, Topeng Loncek ditampilkan dalam ritual babalak, sebuah tradisi sunatan kampung yang dilakukan masyarakat Dayak Kanayatn. Dalam ritual tersebut, seluruh tokoh topeng dimainkan secara lengkap dan berurutan.
Masing-masing topeng punya fungsi yang berbeda-beda sebagai perlindungan, transisi menuju tahap kehidupan baru, serta dalam menjaga dan memperkuat hubungan masyarakat di kampung. Formasi lengkap Topeng Loncek terdiri atas:
- Topeng Buta
- Topeng Ganye (rusa)
- Topeng Asu' (anjing)
- Topeng Kara' (kera)
- Topeng Barong
- Topeng Bela'
Seiring waktu, ritual babalak perlahan mulai jarang dilaksanakan. Hal ini berdampak pula pada penggunaan Topeng Loncek yang sekarang lebih sering hadir dalam gawe adat penganten atau pesta pernikahan.
Topeng Buta, Raja dari Seluruh Topeng Loncek
Topeng Buta adalah tokoh paling penting sekaligus paling sakral di antara seluruh topeng yang ada. Topeng Buta disebut sebagai raja dari seluruh topeng karena kedudukannya paling tinggi.
Topeng ini dibuat dari kayu pelaik dengan bentuk wajah menyeramkan. Warna hitam mendominasi seluruh wajahnya, berpadu dengan mata dan bibir berwarna merah serta gigi putih yang mencolok. Penampilannya memang sengaja dibuat menyerupai sosok makhluk gaib yang memiliki kekuatan besar.
Menurut cerita rakyat setempat, dahulu masyarakat sering mengalami gangguan makhluk halus ketika melaksanakan ritual babalak. Untuk menghalau gangguan tersebut, orang tua masyarakat Kampung Loncek kemudian menciptakan Topeng Buta.
Karena memiliki kekuatan spiritual paling tinggi, Topeng Buta selalu dimainkan paling awal sebelum topeng-topeng lainnya keluar. Masyarakat setempat mjuga engenalnya dengan sebutan Si Buta dari Gua Batu karena merepresentasikan sosok penunggu paling kuat yang berdiam di kawasan Gua Batu.
