Grebeg Suro pertama digelar di Bundaran Rusa, Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah pada Rabu (8/7/2026) sore. Gunungan hasil bumi yang berdiri megah di tengah arena Grebeg Suro 2026.
Antusias masyarakat begitu besar, banyak yang sejak siang rela menanti di bawah terik matahari. Doa lintas agama dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas limpahan rezeki dan hasil panen masyarakat Lamandau.
Puluhan gunungan diarak mengelilingi Bundaran Rusa hingga kawasan Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Lamandau. Lautan hadirin kemudian jadi meriah saat saling berebut mengambil hasil bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemeriahan Grebeg Suro Lamandau. (Istimewa) |
Dalam hitungan detik, puluhan gunungan yang dipenuhi pisang, jagung, cabai, singkong, padi, terong, hingga aneka sayuran langsung dikerumuni ribuan warga. Sorak kegembiraan, tawa, dan teriakan saling bersahutan.
Meski saling berebut, tak terlihat jadi pertengkaran. Semua gembira bisa membawa pulang sedikit bagian dari gunungan yang dipercaya menjadi simbol keberkahan.
Tak sampai beberapa menit, gunungan yang semula menjulang tinggi berubah menjadi kerangka bambu kosong. Salah satu yang berhasil dapat gunungan hasil bumi itu ialah Meta, warga Nanga Bulik yang datang bersama keluarganya.
"Saya datang dari pagi karena penasaran. Pas panitia mempersilakan mengambil isi gunungan, semua langsung maju. Ramai sekali, tapi seru. Alhamdulillah saya dapat buah dan sayur. Semoga ini membawa berkah buat keluarga," katanya sambil memperlihatkan hasil bumi yang berhasil dibawanya pulang.
Kemeriahan Grebeg Suro Lamandau. (Istimewa) |
Ia dan keluarga rela datang sejak pagi hanya agar tak kehilangan momen bersejarah tersebut. Di balik kemeriahan itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memperebutkan hasil bumi.
Kesan serupa dirasakan Yogas. Baginya, Grebeg Suro bukan sekadar tontonan, tetapi juga menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat Lamandau.
"Acaranya luar biasa meriah. Saya belum pernah melihat keramaian seperti ini di Lamandau. Meski tadi berebut, semuanya tetap tertib dan penuh kegembiraan. Harapan saya Grebeg Suro terus diadakan setiap tahun karena bisa mengenalkan budaya Lamandau sekaligus menarik wisatawan datang ke sini," ujarnya.
Acara tersebut turut dihadiri Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra. Ia mengatakan Grebeg Suro merupakan warisan budaya yang mengajarkan masyarakat untuk selalu bersyukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa.
"Tradisi berebut gunungan bukan sekadar memperebutkan hasil bumi, melainkan memiliki makna agar masyarakat senantiasa bersyukur, memperkuat semangat gotong royong, berbagi rezeki, serta mempererat kepedulian terhadap sesama," ujarnya.
Ia berharap Grebeg Suro dapat menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya menjaga tradisi leluhur. Namun juga mampu menggerakkan UMKM, meningkatkan kunjungan wisatawan, dan memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat.


