Kalimantan Timur punya berbagai macam permainan tradisional yang dimainkan bukan hanya oleh anak-anak tetapi juga orang dewasa. Salah satu yang tetap eksis hingga sekarang adalah begasing.
Begasing adalah permainan tradisional menggunakan gasing yang diputar dengan bantuan tali. Dalam berbagai daerah di Indonesia, permainan ini memiliki nama yang berbeda-beda. Di Jawa Barat dan Jakarta misalnya, begasing dikenal sebagai panggal atau panggalan. Sementara di Sulawesi Selatan disebut maggasing dan di Maluku dikenal sebagai apiong.
Di Kutai Kartanegara, permainan ini telah dikenal sejak lama. Bahkan menurut sejumlah sumber, gasing sudah dimainkan sejak masa Kerajaan Kutai pada abad ke-2 hingga abad ke-4. Awalnya permainan ini hanya menjadi hiburan masyarakat dan lingkungan kerajaan. Seiring berjalannya waktu, terutama setelah masuk dan berkembangnya Kesultanan Kutai pada abad ke-17, begasing mulai dipertandingkan.
Cara Bermain Begasing
Alat utama dalam permainan ini terdiri dari gasing dan tali penarik. Gasing biasanya dibuat dari kayu keras seperti kayu benggaris atau kayu ulin yang keberadaannya memang melimpah di Kalimantan Timur. Bentuknya lonjong dengan diameter sekitar 10-15 sentimeter dan tinggi 15-20 sentimeter. Di bagian bawah terdapat ujung lancip yang terbuat dari logam atau paku supaya gasing bisa berputar lebih stabil.
Sementara itu, tali penarik memiliki panjang sekitar 1 hingga 1,5 meter dengan diameter sekitar 0,5 sentimeter. Tali tersebut dililitkan pada badan gasing sebelum dilempar.
Cara memainkannya juga cukup sederhana, sama seperti gasing pada umumnya. Pemain memegang gasing dengan tangan kiri dan tali dengan tangan kanan. Tali kemudian dililitkan dengan kuat pada badan gasing. Setelah siap, gasing dilempar ke tanah sambil menarik tali secara cepat sehingga tercipta putaran yang kuat. Gasing yang diputar dengan teknik yang benar bisa bertahan berputar selama dua hingga lima menit.
Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"
(aau/aau)