Dentuman Meriam Karbit Bergema di Pontianak, Sambut Hari Raya Idulfitri

Dentuman Meriam Karbit Bergema di Pontianak, Sambut Hari Raya Idulfitri

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Jumat, 20 Mar 2026 05:01 WIB
Pembukaan Eksibisi Meriam Karbit di Pontianak sebagai tanda kebersamaan sambut lebaran. (Istimewa)
Foto: Pembukaan Eksibisi Meriam Karbit di Pontianak sebagai tanda kebersamaan sambut lebaran. (Istimewa)
Pontianak -

Dentuman meriam karbit menggema di tepian Sungai Kapuas, Gang Darsyad, Kelurahan Bangka Belitung Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kamis (19/3/2026) malam.

Dentumannya memacu adrenalin warga, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menyaksikan dari jarak dekat. Suara menggelegar dari tradisi turun-temurun ini menjadi penanda khas masyarakat Pontianak dalam menyambut Idulfitri.

Tahun ini, tercatat sebanyak 229 meriam karbit ikut serta dalam eksibisi yang tersebar di 42 titik di sepanjang Sungai Kapuas. Ukurannya pun beragam, bahkan ada yang berdiameter lebih dari 80 sentimeter dan dibuat dari kayu gelondongan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan pelaksanaan eksibisi tahun ini terasa istimewa di tengah perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah.

"Alhamdulillah, malam ini kita tetap melaksanakan pembukaan Eksibisi Meriam Karbit. Mudah-mudahan dentuman meriam ini menjadi penanda berakhirnya Ramadan dan kita menyambut Idulfitri," ujarnya.

Tradisi meriam karbit telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Kapuas. Bahkan, pada 2016, tradisi ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Edi, meriam karbit bukan sekadar hiburan, tetapi sarat nilai kebersamaan dan gotong royong. Proses pembuatannya melibatkan kerja kolektif warga, mulai dari merakit hingga membunyikannya bersama.

Pembukaan Eksibisi Meriam Karbit di Pontianak sebagai tanda kebersamaan sambut lebaran. (Istimewa)Pembukaan Eksibisi Meriam Karbit di Pontianak sebagai tanda kebersamaan sambut lebaran. (Istimewa)

"Di dalamnya ada nilai silaturahmi dan kebersamaan. Walaupun ada unsur persaingan antar kelompok, namun tetap dalam semangat kekerabatan," jelasnya.

Bagi warga Pontianak, gema meriam karbit menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran. Tradisi ini terus diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas budaya daerah.

Ke depan, Pemerintah Kota Pontianak berharap tradisi ini tidak hanya lestari, tetapi juga mampu mendorong sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

"Setiap tahun kita lakukan evaluasi agar kegiatan ini semakin baik dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," ucap Edi.

Daya tarik meriam karbit juga dirasakan warga luar daerah. Salah satunya konten kreator asal Tanjung Pinang, Bedah, yang mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya menyaksikan langsung tradisi tersebut.

"Suasananya luar biasa. Bukan hanya dentumannya yang khas, tetapi juga kebersamaan masyarakatnya. Tradisi seperti ini jarang ditemui di daerah lain," katanya.

Ia menilai, meriam karbit memiliki potensi besar untuk dipromosikan sebagai daya tarik wisata, bahkan hingga tingkat internasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Sri Sujiarti, menyebut eksibisi tahun ini tersebar di wilayah Pontianak Selatan, Pontianak Tenggara, dan Pontianak Timur.

"Total ada 42 titik lokasi di sepanjang tepian Sungai Kapuas yang menjadi pusat kegiatan meriam karbit," pungkasnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads