Masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Mahakam, khususnya Samarinda dan Tenggarong pasti tak asing dengan kisah hantu banyu. Salah satu makhluk mitologi yang percayai menghuni sungai tersebut.
'Banyu' diambil dari bahasa Banjar yang berarti air. Makhluk ini digambarkan berkulit gelap, bergigi runcing, dan berambut mengerucut menjulang ke atas.
Kisah hantu banyu memang tidak bisa divalidasi secara sains. Namun ceritanya menjadi folklor atau cerita rakyat, bagian dari kebudayaan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dan pengingat bagi anak-anak agar tak bermain lama-lama di sungai, apalagi sampai matahari terbenam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah ini menggema setelah dulu pernah terjadi peristiwa tragis, hilangnya anak berusia 9 tahun saat bermandian di Mahakam wilayah Samarinda. Kala itu sang anak bermain air di sekitaran dermaga kapal kelotok Kelurahan Selili, dekat pelabuhan perusahaan industri kayu lapis.
Mereka terjun bebas ke air dengan salto secara repetitif. Ada yang beradu kecepatan berenang, kejar-kejaran sambil menyelinap di sela susunan batang dermaga.
Ketika ada kapal kelotok singgah untuk antar jemput penumpang, mereka juga beramai-ramai bergelantungan ke sana. Menjelang magrib, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Namun kebahagiaan itu berubah menjadi kepanikan. Satu anak dinyatakan hilang. Orang tuanya dan warga kampung pun melakukan pencarian dengan menyusuri Sungai Mahakam. Sang ayah menyelami batang-batang yang menjadi fondasi dermaga.
Tak lama, di sana, si anak ditemukan sendiri oleh ayahnya. Anak itu terhimpit di bawah batang dalam kondisi tak bernyawa lagi.
Ternyata sore itu kapal kelotok bergerak mundur dan memutar haluan. Sementara anak yang malang itu sedang menyelam dalam sungai dengan posisi tepat di belakang kapal panjang bermesin itu. Akibatnya tubuh kecilnya tercabik oleh putaran kipas besi.
Kisah itu menjadi salah satu penguat kepercayaan masyarakat saat itu soal keberadaan hantu banyu. Sejarawan Kalimantan Timur (Kaltim) Muhammad Sarip menyebut, saat peristiwa itu bergaung, sebagian orang mengimajinasikan korban ditarik oleh hantu banyu ke dalam air.
"Saya mengetahui kedetailan cerita ini sebagai akamsi yang pada masa kecil juga melakukan permainan yang sama di perairan Mahakam. Dan ada sebagian masyarakat yang memang meyakini eksistensinya secara riil," ujarnya kepada detikKalimantan, Minggu (1/2/2026).
Kisah itu tak hanya menjadi sekadar cerita mistis. Sejak dulu, itu menjadi kultur tradisional untuk melindungi anak-anak dari risiko sungai.
"Menurut saya asal-usul kisah hantu banyu adalah siasat preventif dan mitigasi agar anak-anak mengingat batasan waktu bermain di Sungai Mahakam, situasi gelap memungkinkan potensi mara bahaya secara natural dan bisa menyulitkan proses evakuasi di peraian," jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, larangan dengan bahasa halus relatif tak mempan. Sehingga dibuatlah cerita dengan narasi horor dan psikologi ketakutan.
"Supaya lebih efektif mencegah anak-anak yang membandel," kata dia.
Karena popularitas kisah ini, cerita hantu banyu juga akan menyusul ke layar lebar. Akan masuk dalam Saranjana Universe, sepenggal clue tentang hantu banyu sudah diperlihatkan dalam film Kuyank karya Johansyah Jumberan yang sedang tayang di bioskop tanah air.
Ia juga sempat membocorkannya dalam acara Ngobrol Film Kuyank bareng sineas yang diinisiasi Rusdianto selaku pendiri Sumbu Tengah pada 27 Januari 2026 di Universitas Mulawarman. Dalam obrolan tersebut Johansyah mengungkap Hantu Banyu akan hadir sebagai sekuel dengan salah satu lokasi produksi di Samarinda.
"Di sekuel selanjutnya akan ada hantu banyu, dan pengambilan gambar tentunya berfokus di Sungai Mahakam, Samarinda," beber Johansyah.
Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
